-
John Herdman sebut gairah suporter Indonesia adalah berkah sekaligus kutukan bagi kemajuan Timnas.
-
Pelatih John Herdman puji visi Erick Thohir untuk membawa Timnas Indonesia ke level dunia.
-
Strategi John Herdman fokus mengelola ekspektasi besar publik menjadi energi positif bagi Skuad Garuda.
Suara.com - Arsitek baru Skuad Garuda Timnas Indonesia John Herdman memberikan pandangan mendalam mengenai potensi besar sepak bola di tanah air.
Pelatih berkebangsaan Inggris tersebut meyakini bahwa kondisi Timnas Indonesia saat ini berada di titik balik yang sangat krusial.
Menurut sosok yang menggantikan Patrick Kluivert ini, posisi Indonesia sekarang merupakan awal dari sebuah pencapaian yang luar biasa besar.
Eks pelatih Timnas Kanada tersebut kini memikul beban berat untuk merealisasikan mimpi publik melihat Indonesia di panggung dunia.
Namun sang juru taktik menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak merasa gentar dengan ekspektasi tinggi yang kini berada di pundaknya.
Visi Besar PSSI dan Gairah Suporter
Herdman sangat mengapresiasi fondasi kuat yang sedang dibangun oleh federasi dalam beberapa tahun terakhir untuk kemajuan tim nasional.
Ia melihat adanya sinergi yang positif antara talenta pemain muda yang terus bermunculan dengan visi kepemimpinan di tubuh PSSI.
Kehadiran sosok pimpinan yang tepat dinilai Herdman sebagai kunci utama jika ingin membawa sepak bola Indonesia naik kelas.
“Kami memiliki basis talenta yang berkembang. Kualitas mulai meningkat. Dan kami punya ketua seperti Erick Thohir yang visioner dan ingin membawa negaranya ke level berikutnya,” ujar Herdman.
Dukungan emosional dari jutaan pasang mata suporter juga dianggapnya sebagai sumber energi tambahan yang sangat masif bagi tim.
Kekuatan Sebagai Pisau Bermata Dua
Menurut pria berusia 50 tahun ini, gairah yang ditunjukkan masyarakat Indonesia adalah sesuatu yang tidak dimiliki oleh negara lain.
Ia merasa sangat beruntung karena mendapatkan dukungan penuh yang membuat langkah tim terasa lebih ringan dalam menghadapi tantangan berat.
“Anda mutlak membutuhkan sosok visioner. Ditambah lagi gairah suporter, sehingga kami tidak melawan apa pun, justru angin ada di belakang layar kami,” sambung pria tersebut.