Suara Denpasar - Kang Dedi Mulyadi terkenang Mang Nurdin, temannya saat masih sekolah dasar (SD). Sang teman itu meninggal dunia tujuh hari sebelumnya. Dia merasa kehilangan satu orang yang rajin menolong.
Kang Dedi Mulyadi mengatakan, Mang Nurdin merupakan teman sejak SD di Desa Sukasari, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Subang. Dia ingat, sering main sepak bola bareng Mang Nurdin.
“Waktu SD saya penjaga gawangnya, Mang Nurdin penyerangnya, strikernya. Jago main bola,” kata Kang Dedi via Youtube Lembur Pakuan Channel yang diunggah Sabtu (12/11/2022).
Kang Dedi meang aslinya kelahiran Subang. Karier politiknya melalui Kabupaten Purwakarta, dari jadi anggota DPRD, wakil bupati hingga bupati di Purwakarta karena dia sempat kuliah di sana. Setelah dia jadi anggota DPR RI, dia sering di Subang. Salah satunya menata kampungnya, yang kini disebut Lembur Pakuan.
“Ketika saya sering ke Lembur Pakuan, Mang Nurdin menjadi orang yang mensuport saya untuk terus melakukan penataan di kampung ini. Karena dia sempat jadi ketua RW,” jelas pria berusia 51 tahun ini.
Seminggu sebelumnya, dia kaget dengar Mang Nurdin jatuh saat sedang memotong rumput menggunakan mesin. Akhirnya dibawa ke rumah sakit, dan meninggal dunia.
Sesuai tradisi, Kang Dedi pun berkunjung ke rumah Mang Nurdin. Bersama Nyi Hyang dan asistennya, dia membawa beras dan uang sebagai bekal acara Tujuh Harian. Mereka bertiga mengendarai sepeda motor.
Sampai di rumah Mang Nurdin, Nyi Hyang tidak mau turun dari sepeda motor. Akhirnya datang istri Mang Nurdin. Sang istri Mang Nurdin bilang bahwa suaminya itu sempat mengeluhkan nyeri di dada.
“Nyeri dada itu tanda-tanda (sakit) jantung,” terangnya.
Baca Juga: Didugat Cerai Bupati Purwakarta, Kang Dedi Tetap Tegar; Tunggu Tanggal Muda, Bukan Istri Muda
Kang Dedi pun bilang kalau ada tanda-tanda nyeri di dada kiri, kemungkinan besar itu adalah masalah dengan jantung. Maka harus segera dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan medis.
Menurut Kang Dedi, Mang Nurdin juga sering menolong orang. Di antaranya pijat atau urut keseleo, hingga membetulkan yang patah.
“Sekarang kita kehilangan satu orang yang rajin menolong,” kata dia.
Mang Nurdin meninggalkan istri dan anak.Anaknya yang paling besar masih kuliah di Poltekkes di Bandung. Ada lagi yang masih kecil bernama April yang sering memanggil Kang Dedi dengan sebutan ‘ayah’. (*)