Suara Denpasar - Belum lama ini, terjadi perang saudara di Sudan. Konflik bersenjata melibatkan tentara Sudan dan para militer Rappid Support Forces (RSF). Konflik terjadi di ibu kota Khartoum, Sudan, hari Sabtu, (15/4/2023).
Mulanya, aksi saling tembak terjadi dekat pangkalan RSF, di selatan Khartoum, pada Sabtu pagi. Dengan cepat konflik meluas ke daerah lain, termasuk teritorial Komando Angkatan Darat Sudan, dan Bandara Internasional Khartoum.
Pertempuran di Sudan berlanjut hingga Sabtu malam. Menurut keterangan warga sekitar, mereka mengatakan, masih terdengar suara tembakan dan ledakan di sebagian wilayah Khartoum, termasuk di sekitar markas militer, dan pangkalan lainnya.
Konflik ini kian meningkatkan ketegangan antara dua kekuatan militer di Sudan. Dilansir dari laman Xinhua, Sudan telah dilanda krisis politik sejak Oktober 2021.
Kedua belah pihak yang bertikai kini saling tuding. Abdel Fattah Al-Burhan, komandan Angkatan Darat Sudan, menuduh RSF menyerang markas besar mereka di Khartoum.
"Pasukan (RSF) adalah orang-orang yang menyerang markas kami," kata Abdel Fattah Al-Burhan, dilansir dari Xinhua, Senin, (17/4/2023).
Komandan RSF, Mohamed Hamdan Dagalo, menanggapi hal tersebut. Menurutnya, bahwa tentaralah yang memulai serangan lebih awal. RSF juga mengumumkan telah menguasai istana kepresidenan, wisma strategis di dalam markas tentara, dan Bandara Internasional Khartoum di ibu kota.
"RSF juga mengklaim telah menguasai bandara Merowe dan El-Obeid, serta situs strategis lainnya di Sudan," tulis keterangan yang dirilis RSF pada hari Sabtu.
Sementara itu, dampak perang saudara membuat transportasi di Sudan terhambat. Otoritas setempat mengumumkan akan menunda penerbangan di Bandara Internasional Khartoum.
Terlebih, bentrokan juga pecah di wilayah bandara, dan menyebabkan dua pesawat rusak. Satu milik Saudi Airlines, dan yang lainnya milik Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Hingga kini, belum ada statistik resmi yang dirilis mengenai jumlah korban atau luka selama bentrokan tentara di Sudan. Komite Dokter Sudan menyatakan bahwa setidaknya tiga warga sipil tewas.
Sementara laporan media menunjukkan bahwa setidaknya 12 orang tewas selama konflik. Kini, sejumlah tokoh politik dunia meminta tentara Sudan dan RSF untuk menghentikan konflik, dan menyediakan jalur aman untuk mengangkut korban luka ke rumah sakit.
Berbagai negara di kawasan Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Mesir, Yordania, Libya, dan Iran, telah mengeluarkan pernyataan sikap.
Mereka mendesak pihak-pihak yang berkonflik di Sudan untuk menahan diri, memprioritaskan dialog, dan melindungi warga sipil.
Sekretaris Jenderal Liga Arab, Ahmed Aboul-Gheit, menyerukan kedua pihak untuk segera melakukan gencatan senjata.