Suara Denpasar - Tanggal 1 Oktober 2023 merupakan momen tepat satu tahun Tragedi Kanjuruhan yang mengguncang sepak bola Indonesia.
Arema FC memutuskan untuk menggelar sebuah acara penghormatan dan doa bersama sebagai tanda rasa kepedulian dan kenangan untuk 135 korban yang telah meninggal dalam tragedi tersebut.
Dilansir dari website resmi Arema FC, kegiatan peringatan satu tahun tersebut dipimpin oleh General Manager Arema FC, Muhammad Yusrinal Fitriandi, dan berlangsung di Kantor Arema FC, Kota Malang, mulai pukul 13.00 hingga 17.00 WIB.
Acara ini mencakup khataman Alquran, tahlil, dan doa bersama yang ditujukan secara khusus untuk para korban Tragedi Kanjuruhan.
"Arema FC akan menggelar khataman Alquran, tahlil, dan doa bersama di Kandang Singa," ungkap Muhammad Yusrinal Fitriandi.
Sebelumnya, Arema FC juga telah menunjukkan penghormatan mereka selama pertandingan melawan PSS Sleman di Stadion Kapten I Wayan Dipta pada tanggal 30 September 2023, menjelang peringatan satu tahun Tragedi Kanjuruhan.
Mereka mengenakan pita hitam, membawa bunga, dan mengheningkan cipta sebagai bentuk penghormatan kepada korban yang telah meninggal.
Namun, reaksi di media sosial, khususnya di akun Instagram resmi Arema FC @aremafcofficial, menunjukkan adanya tanggapan yang kurang menghormati.
Ribuan komentar yang mengandung sindiran dan kritik sinis muncul di kolom komentar akun tersebut.
“Gak perlu kata kata hanya perlu bukti nyata, ikutlah bersama suporter mu yang memperjuangkan keadilan,” kata akun Ig @mhmdjm19_.
“Dualisme Arema UTAS belum kelar, eh ketambahan UTAS (USUT TUNTAS) lain yang gak dikelarin, gak ada permintaan maaf ke @officialpersebaya yang pemain n officialnya taruhan nyawa saat kembali ke Surabaya, malah suporter sono yang membawa kedamaian antara aremania n bonek dipenjarakan karena melakukan pengrusakan karena yg dipertahankan adalah dirigen yg membuat rasis, supaya sepakbola terasa panas seperti el clasico #ib #utas,” tulis akun IG @tentanghukum.(*/Ana AP)