Suara Denpasar - Kejadian pencopotan bendera Palestina di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) saat pertandingan antara Persib Bandung dan PSS Sleman telah menimbulkan kontroversi. Insiden ini tersorot saat Ustadz Hilmi Firdausi mengeluarkan pernyataan yang menyindir panitia pelaksana acara tersebut.
Dalam pernyataannya, Ustaz Hilmi Firdausi mengecam tindakan panitia yang mencopot bendera Palestina dengan kata-kata yang tajam.
"Untuk Panpelnya, jangan pada norak yaa, jangan sok netral, jangan takut juga disanksi. Kecuali memang kalian pendukung Zi0nis la'natullah," ujar Hilmi dikutip dari akunnya di X , @Hilmi28 (1/11/2023).
Komentar ini mencerminkan ketidakpuasan atas tindakan tersebut dan mengajak panitia untuk tidak bersikap netral dalam isu yang sensitif seperti ini.
Selain itu, Ustaz Hilmi Firdausi juga mengajak seluruh suporter dan penggemar olahraga di Indonesia untuk bersolidaritas dengan rakyat Palestina.
"Ayo semua suporter sepakbola Indonesia, dan juga olahraga lainnya. Tunjukkan dukungan dan solidaritas kalian pada perjuangan rakyat Palestina," ungkapnya.
Pesan ini menunjukkan pentingnya solidaritas dalam menanggapi isu-isu global yang melibatkan hak asasi manusia.
Pencopotan bendera Palestina ini terjadi dalam rangkaian pertandingan BRI Liga 1 2023-2024 di GBLA pada tanggal 28 Oktober 2023. Kejadian ini menjadi viral di media sosial, memicu berbagai reaksi dari masyarakat.
Selain mengomentari tindakan panitia di Indonesia, Hilmi Firdausi juga membandingkannya dengan perlakuan di luar negeri.
Baca Juga: Larangan Bendera Palestina di Stadion GBLA Tuai Pro dan Kontra, Begini Kata Mereka
Melalui media sosialnya, ia turut mengunggah video yang menunjukkan perbedaan perlakuan terhadap bendera Palestina dalam sepakbola lokal dan internasional.
Di luar negeri, pada video unggahannya terlihat bahwa para pendukung sepakbola untuk mengibarkan bendera Palestina dan menyanyikan lagu dukungan untuk mereka di dalam stadion sepakbola dan tidak nampak ada tindakan pelarangan oleh pihak yang berwenang.
Video tersebut juga memberikan tulisan yang mengkritik sikap panitia pelaksana sepakbola di Indonesia: “Bandingkan panpel pertandingan sepakbola di Indonesia dengan di luar negeri. Jadi bingung siapa yang muslim siapa yang bukan. Ya memang masalah Palestina adalah masalah kemanusiaan. Hanya orang-orang yang punya hati nurani yang akan peduli”. (*/Dinda)