Depok.suara.com- Kisah perjalanan hidup mantan Presiden Republik Indonesia, Soeharto memang tak ada habisnya untuk dibahas. Dikenal sebagai presiden Indonesia selama 32 tahun, perjalanan karier Soeharto cukup menarik.
Salah satu cerita yang cukup unik mengenai seringnya Soeharto melakukan perjalanan ke luar negeri untuk bertemu dan melakukan kerjasama dengan para pemimpin negara-negara lainnya.
Adapun kisah unik Soeharto yang dibongkar oleh mantan ajudannya, Sjafrie Sjamsoeddin terkait kunjungan majikannya ke Sarajevo, Bosnia.
Melansir dari buku Pak Harto, The Untold Stories, mantan Komandan Grup A Pasukan Pengaman Presiden itu mengungkap bahwa kunjungan tersebut dilakukan Soeharto pada tahun 1995.
Kunjungan tersebut dilakukan Soeharto usai mengunjungi Kroasia, Sjafrie mengatakan bahwa ia mendapatkan kabar bahwa pada saat itu baru saja ada pesawat yang ditembaki di sekitar tempat itu. Pesawat tersebut juga mengangkut utusan PBB, Yasushi Akashi saat hendak ke Bosnia.
Terdapat satu hal yang cukup mengejutkan, ketika perjalanan dari Zagreb ke Sarajevo, Soeharto tidak mengenakan rompi pengaman dan helm. Menurut Sjafrie, saat itu seluruh penumpang di pesawat tersebut telah mengenakannya.
Namun, Soeharto tiba-tiba menanyakan sebuah hal yang nyeleneh kepada ajudannya itu.
"Ini tempat duduk, di bawahnya sudah dikasih antipeluru, belum?" tanya Soeharto sebagaimana yang dikutip dari Buku Pak Harto Untold Stories pada Senin (25/9/2023).
Sjafrie kemudian menjawab bahwa semua bagian pada pesawat sudah ditutup dengan bulletproof, termasuk pada bagian samping pesawat. Ia sendiri pun juga terus memutar otak untuk meluluhkan Soeharto untuk mengenakan helm dan rompi pengamanan tersebut.
Baca Juga: Anak Ganjar Pranowo Dibandingkan dengan Anak Jokowi, Gibran Rakabuming Beri Respons Santai
Akhirnya, Sjafrie sengaja duduk di bangku yang terletak di depan Soeharto. Sembari memegang rompi dan helm. Sjafrie sengaja melakukan hal tersebut agar Soeharto mengenakan rompi dan helm.
Namun, bukannya dipakai namun Soeharto malah meminta untuk menaruh helm dan rompi tersebut di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
"Helmnya nanti masukkan ke Taman Mini ya! Nanti helmnya masukkan ke (museum) Purna Bhakti," ujar Soeharto kepada Sjafrie saat itu.
Tak hanya itu, Soeharto juga meminta agar Sjafrie saja yang memegang rompi itu.
"Eh, Sjafrie, itu, rompi itu cangking (bawa) saja. Kamu cangking saja," kata Soeharto.
Sjafrie pun hanya bisa pasrah untuk mendapat permintaan Soeharto dan menurutinya begitu saja.