Suara.com - Kaum perempuan masih rentan menjadi korban budaya patriarki di tengah belantara kehidupan kosmopolitan banyak kota-kota besar Indonesia.
Setidaknya, hal itu ditunjukkan oleh masih maraknya kasus kekerasan dalam rumah tangga, diskriminasi dunia kerja, maupun bahasa seperti penciptaan diksi "pelakor" (pengambil laki orang).
Bahkan, Nelly Martin, linguis Auckland University of Technology, Selandia Baru, menyebut istilah "pelakor" sebagai aksi ujaran kebencian terhadap perempuan.
Lantas, bagaimana posisi subordinasi kaum perempuan terus langgeng dalam masyarakat Indonesia?
Evi Eliyanah, dosen Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Negeri Malang, mengajukan penggambaran tokoh utama laki-laki dalam "film" sebagai salah satu sarana melanggengkan budaya patriarkis tersebut.
Dalam artikelnya yang dipublikasikan The Conversation, Evi menilai terdapat perubahan penggambarkan laki-laki pada film-film produksi nasional sejak era Orde Baru hingga kekinian.
Perubahan itu juga menggambarkan adanya tarik-menarik kekuataan wacana mengenai bagaimana penggambaran ideal perempuan Indonesia.
"Sebelum tahun 2000-an tokoh utama pria di sinema Indonesia ditampilkan sebagai kepala rumah tangga, pemberi nafkah, pengayom, dan pelindung," tulisnya.
Tapi, sejak tahun 2000-an, tokoh utama laki-laki dalam perfilman nasional mulai digambarkan bersifat lembut, sensitif, ekspresif secara emosional, egalitarian, terlibat dalam pengasuhan, mau berkompromi soal karier demi mendukung pasangannya dan terlibat dalam pekerjaan rumah tangga.
Ia menilai, pergeseran sifat tokoh utama laki-laki dalam film itu menunjukkan perubahan penggambaran maskulinitas ideal, yakni adanya "laki-laki baru" di Indonesia.
Setidaknya, tonggak perubahan tersebut dimulai sejak film "Ada Apa dengan Cinta" (2002).
Selain sebagai pertanda kebangkitan film nasional, "A2DC" menyajikan "laki-laki tipe baru" yang dikiaskan dalam sosok Rangga.
Rangga, tulis Evi, tidak seperti Boy—peran utama film “Catatan Si Boy”—idola remaja Indonesia pada 1980-1990an.
"Boy kaya, supel, suka olahraga, fisiknya kekar, dan populer. Rangga pendiam, intelektual, tidak agresif, lembut, puitis, dan bisa memasak," terangnya.
Meskipun tetap mempertahankan persona otoriter dan kurang sensitif—yang dilawan tokoh utama perempuan Cinta—Rangga adalah "proto-laki-laki baru".
Setelah A2DC, film-film nasional banyak menampilkan tipologi maskulinitas baru, yang mengikuti persona Rangga.
Misalnya, kata Evi, tokoh Sakti dalam film "Arisan" (2003), yang digambarkan sebagai homoseksual sensitif, suportif terhadap perempuan, sehingga menjadi teladan bagi laki-laki heteroseksual.
Puncaknya, dalam film “Perempuan Berkalung Sorban” (2008), terdapat tokoh Khudori sebagai sosok yang terdidik, alim, non-agresif, lemah lembut, mau mengerjakan aktivitas rumah tangga serta pengasuhan, plus mendukung sang istri menuntut ilmu dan menjadi perempuan mandiri secara ekonomi.
Dilan dan Bapakisme
Lantas, bagaimana film terbaru berjudul "Dilan 1990" (2018) yang juga mengandalkan sosok laki-laki sebagai tokoh utamanya?
Tulisan Evi dibuat dan dipublikasikan sebelum film "Dilan" itu tayang di layar bioskop.
Namun, dalam artikelnya, Evi menjelaskan bagaimana tipologi laki-laki era 1980-1990-an sebagai "Bapakisme" cocok dengan sosok pria yang dikiaskan dalam Dilan.
Untuk diketahui, film "Dilan 1990" adalah adaptasi dari novel Pidi Baiq yang dirilis tahun 90-an.
"Bapakisme", tulis Evi, adalah tipologi laki-laki yang patriarkis dan dipromosikan sejak era Orde Baru. Misalnya, dalam film propaganda "Pengkhianatan G30S/PKI" (1981), tokoh sentralnya—Soeharto—digambarkan sebagai laki-laki maskulin ideal yang melindungi dan mengayomi keluarga dan negara, selain tentunya menjadi tulang punggung keluarganya.
"Dalam hegemoni Bapakisme sendiri ada banyak kontradiksi. Tidak semua laki-laki bisa menjadi pemberi nafkah keluarga. Namun, kontradiksi itu diredam dengan tetap menggambarkan mereka sebagai kepala rumah tangga, bagian dari posisi yang mereka dapatkan secara otomatis dalam sistem patriarkal," jelasnya.
"Selain itu, perempuan digambarkan boleh bekerja asal tetap memprioritaskan peran domestik dan reproduktifnya," tambahnya.
Tipologi "Bapakisme" ini menampak dalam karakter tokoh Dilan. Tokoh ini digambarkan sebagai panglima geng motor, tahu segala hal tentang Milea—tokoh perempuan film itu—dan selalu bertindak ingin melindungi Milea.
Dengan demikian, terjadi kemunduran alias arus balik perkembangan tipologi laki-laki terkait patriarkis dalam perfilman Indonesia.
Pasang surut promosi "laki-laki tipe baru" yang tak patriarkis lewat film, diakui Evi penuh tantangan.
Ia juga mengakui, banyak pihak yang menentang tipologi "laki-laki baru" yang tak patriarkis tersebut, menyebabkan penggambarkan sosok idel laki-laki dalam film tak pernah stabil.
"Usaha untuk melegitimasi alternatif maskulinitas melalui film bukan tanpa tantangan. Seiring dengan menguatnya upaya perubahan terhadap hegemoni Bapakisme, muncul juga dukungan dan upaya untuk terus melestarikannya," terang Evi.
Untuk membaca artikel utuh penelitian Evi, sila baca di The Conversation