"Kalo pejuang kita kan pakai bambu runcing, bukan senapan," bela host.
"Iya. Tapi kalau ada yang jadi pasukan belanda (di perayaan 17 Agustus) kan bawa senjata, laras panjang, pendek," sahut Endiarto membenarkan.
Pernyataan serupa juga diutarakan Endiarto saat berbincang-bincang dengan CNN melalui panggilan video.
"Itulah kalau tidak menonton secara penuh. Hanya dua menit satu detik (trailer)," jawab Endiarto.
"Itu gudang desa, tempat menyimpan bendera dan properti untuk 17 Agustus," imbuhnya.
Endiarto lebih jauh mencontohkan penggunaan properti senjata dalam peringatan 17 Agustus.
![Endiarto, produser eksekutif sekaligus sutradara film Merah Putih One For All saat ditemui di kantornya di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada Selasa, 12 Agustus 2025. [Suara.com/Tiara Rosana]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/08/12/72969-endiarto-produser-eksekutif-sekaligus-sutradara-film-merah-putih-one-for-all.jpg)
"Drama yang ada adalah pasukan Belanda pakai topi, pakai baju ijo, dan selalu membawa senapan," terang Endiarto.
"Tentunya itu ada banyak properti. Bambu runcing ada, bendera juga di situ. Jadi itu bukan senjata sungguhan, itu properti mainan," tandasnya.
Menanggapi penjelasan Endiarto, warganet tampaknya masih belum puas dan merasa tidak masuk akal.
"Mana ada cosplay tentara Belanda zaman kemerdekaan bawa ak dan m16, mana ada rpg, kagak make sense banget dah," komentar akun X @EmIEm***.
"Ngeles mulu, lagipula ak 47 juga kagak dipake sama penjajah di Indonesia. Kenapa gak bambu runcing kan lebih masuk akal," sahut akun @aziezzrett***.
"Balai Desa punya gudang segede itu? Ngakak," balas akun @Dharmoka***.
"Kenapa gak bilang 'ya salah setting, mestinya bambu runcing, maklum buru-buru'," kata akun @nocipcy***.
Sinopsis Film Merah Putih One for All

Film animasi Merah Putih One For All menyajikan cerita inspiratif tentang semangat persatuan di tengah keberagaman.
Film ini mengisahkan sekelompok delapan anak dari berbagai latar belakang suku di Indonesia yang tergabung dalam Tim Merah Putih.
Mereka diberi tugas menjaga Bendera Pusaka di sebuah desa yang akan dikibarkan pada upacara Hari Kemerdekaan Indonesia.
Namun tiga hari menjelang upacara, bendera tersebut tiba-tiba hilang.
Kedelapan anak yang berasal dari Betawi, Papua, Medan, Tegal, Jawa Tengah, Makassar, Manado, dan keturunan Tionghoa tersebut harus bersatu.
Mereka menempuh berbagai rintangan berat, mulai dari menembus sungai, hutan, hingga badai, untuk mencari bendera.
Dalam perjalanan yang penuh tantangan ini, mereka belajar mengatasi perbedaan dan meredam ego masing-masing.
Mereka membuktikan bahwa keberagaman tidak menjadi penghalang mencapai satu tujuan bersama yaitu mengibarkan Bendera Merah Putih pada Hari Kemerdekaan.
Kontributor : Neressa Prahastiwi