Komentar publik menegaskan bahwa adegan intim tidak selalu dibutuhkan untuk menyampaikan pesan moral dalam sebuah serial remaja.
Kritik juga menyoroti minimnya nilai edukatif dari adegan tersebut, terutama jika diperankan oleh anak di bawah umur.
"Seharusnya sinetron atau series Indonesia tidak menormalisasi alur cerita seperti ini. Apalagi diperankan oleh anak di bawah umur," ujar yang lain.
Sebagian warganet mempertanyakan fungsi dramatik adegan tersebut dalam alur cerita yang seharusnya lebih berfokus pada konsekuensi sosial.
Menanggapi polemik, MD Entertainment selaku pihak produksi menyatakan seluruh adegan dilakukan dengan pengawasan ketat dari ibunda Richelle di lokasi syuting.
Pengawasan tersebut diklaim mencakup pemantauan langsung melalui monitor serta persetujuan terhadap setiap adegan sensitif.
Meski demikian, publik tetap menilai bahwa persoalan etika tidak semata soal izin orang tua, tetapi juga tanggung jawab industri.
Kontributor : Chusnul Chotimah
Baca Juga: Dikaitkan dengan Buku Aurelie, Roby Tremonti Nangis-Nangis Minta Diundang ke Podcast Denny Sumargo