- Prilly Latuconsina menuai kritik tajam karena menggunakan fitur "Open to Work" di LinkedIn hanya untuk promosi merek (iklan), bukan mencari kerja sungguhan.
- Prilly telah meminta maaf dan mengakui ketidakpekaannya terhadap situasi sulit yang dihadapi para pejuang kerja atau pencari kerja asli.
- Kasus ini menjadi pengingat bagi figur publik agar lebih berhati-hati dalam membuat strategi pemasaran agar tidak menyinggung sensitivitas sosial.
Suara.com - Dunia maya baru-baru ini diguncang oleh kontroversi yang melibatkan aktris sekaligus pengusaha sukses, Prilly Latuconsina.
Langkahnya memasang fitur "Open to Work" di platform profesional LinkedIn, yang awalnya dianggap sebagai bentuk kerendahan hati untuk belajar, rupanya hanya sebuah strategi pemasaran atau gimik.
Ketika realita di balik lencana hijau tersebut terungkap, gelombang kritik tak terbendung.
Pertanyaan besar pun muncul, yaitu di tengah sulitnya mencari lapangan kerja saat ini, apakah sekadar permohonan maaf cukup untuk memulihkan empati yang dianggap telah mencederai perasaan para pejuang kerja?
Pada Selasa, 3 Februari 2026, melalui unggahan di media sosial pribadinya, perempuan berusia 29 tahun ini akhirnya memberikan klarifikasi.
Dengan raut wajah serius, Prilly mengakui bahwa tindakan tersebut telah memicu kegaduhan dan reaksi negatif yang luas.
Ia menyadari bahwa keputusannya menggunakan fitur yang menjadi simbol harapan bagi pengangguran telah menyentuh titik sensitif masyarakat.
"Aku paham kalau situasi ini memunculkan banyak reaksi dan emosi. Aku juga mengerti kenapa sebagian dari kalian merasa marah, kecewa, atau enggak nyaman," kata Prilly Latuconsina dalam videonya.
Aksi Prilly dicap sebagai tindakan yang tone deaf atau kurang peka terhadap realita sosial.
Baca Juga: Prilly Latuconsina Minta Maaf usai Polemik Open to Work di LinkedIn
Bagi banyak orang, fitur "Open to Work" bukan sekadar hiasan profil, melainkan sinyal darurat bagi mereka yang sedang berjuang menyambung hidup setelah terkena PHK atau sulit mendapatkan pekerjaan.
Menggunakan fitur tersebut sebagai alat promosi merek dianggap meremehkan perjuangan kelas pekerja.
Menanggapi hal tersebut, Prilly membantah jika ia sengaja bersikap tidak berempati. Ia menegaskan bahwa tujuan utamanya bukan untuk menyakiti pihak mana pun, melainkan murni bagian dari kampanye yang sedang ia jalankan.
"Aku ingin menegaskan bahwa sejak awal aku tidak pernah berniat untuk bersikap tidak sensitif, apalagi tidak empati terhadap situasi yang sedang banyak dihadapi orang-orang saat ini," ujar dia.
Prilly juga sadar ada perbedaan 'keistimewaan' yang ia miliki. Ia mengakui bahwa ada jurang pengalaman hidup yang membuat kampanye ini diterima dengan cara yang sangat berbeda oleh publik.
"Aku sadar posisiku dan pengalaman hidupku tidak sama dengan semua orang, dan aku mengerti kenapa hal ini bisa terasa menyakitkan bagi sebagian pihak," katanya.