- Arsitektur Sawarga Courtyard SUMMABA yang megah ala Eropa sukses menyihir penonton dan menyatu sempurna dengan nuansa musik jazz sejak pandangan pertama.
- Festival tahun ini berhasil naik kelas ke panggung internasional melalui reuni eksklusif serta kolaborasi apik lintas negara.
- Hajatan ini tidak sekadar menggelar konser, tetapi juga menghidupkan ekosistem musik secara utuh lewat program masterclass, pasar komunitas, dan ruang regenerasi.
Bayangkan, musik tersebut menggunakan birama yang tak lazim dan masing-masing personel sering bergantian solo secara tak terduga.
Belum lagi perpaduan nada dan struktur lagu yang tak standar. Kayaknya mereka yang memainkan musik jenis ini harus jago matematika. Kalau yang hitung 10 tambah enam saja tak bisa, jangan harap.
Apapun itu, penampilan Sydney Reunion & Indra Lesmana tetap memukau penonton lewat musik akrobatik yang mereka suguhkan. Jadi, ribuan penonton lebih banyak diam mungkin karena saking takjubnya melihat skil bermusik mereka yang di atas rata-rata. Gitu lho Om Indra.
Perwakinan Musik dan Persona Centil Syaharani
Jauh sebelum Indra dkk, saya lebih dulu menyaksikan Barry Likumahua The Rhythm Service. Lagu-lagu populer seperti Sesaat Kau hadir, Mati Saja, dan Generasi Sinergy berkumandang saat menuju senja.
Di akhir penampilan, mereka juga berkolaborasi dengan Saung Angklung Udjo, sebuah perkawinan musik jazz modern dengan musik etnis Sunda. Saya lumayan terperangah, suara angklung ternyata bisa melebur sempurna dengan musik jazz. Bangga!

Oh iya satu yang hampir lupa. Sebelum penampilan Sydney Reunion & Indra Lesmana, ada Syaharani yang tampil bareng Bandung Jazz Orchestra. Rasanya, penyanyi bernama asli Saira Syaharani Ibrahim itu masih layak memegang predikat Diva Jazz Indonesia.
Berbusana ala Marilyn Monroe dengan rambut blonde, dilengkapi riasan khas dan persona centilnya, Syaharani tampil paripurna malam itu. Kualitas vokalnya tak berubah dimakan waktu.
Terakhir saya melihat penampilan Syaharani kisaran tahun 2010-2013 di Java Jazz Festival. Meski lupa kapan tepatnya, tapi saya masih ingat bobot vokalnya belasan tahun lalu sama seperti saya mendengarnya dua hari lalu.
New York, New York yang dipopulerkan Frank Sinatra dijadikan pintu gerbang penampilan Syaharani. Oleh Syaharani, lagu klasik ini selalu dibawakan dalam gaya broadway dalam tiap aksinya. Saya juga masih konsisten menyebutnya sebagai penampilan yang megah.
Sepanjang panggung milik Syaharani, emosi penonton pun diaduk lewat lagu-lagu yang dibawakan. Di tempo lambat ada lagu lama Cant Help Falling in Love, di mana sang Diva Jazz mengajak penonton ikutan bernyanyi sambil berpelukan atau berpegangan dengan pasangan masing-masing. Sementara di lagu Logika yang dipopulerkan Vina Panduwinata, penonton dipantik untuk bergoyang ria.
Mendukung Ekosistem Musik Jazz
Di luar sajian utama di Sawarga Courtyard, GJF International 2026 juga menawarkan program menarik yang jadi bagian ekosistem musik jazz.
Ada program Masterclass bersama Indra Lesmana & Sydney Reunion di Exhibition Hall. Bayangkan, kapan lagi bisa belajar langsung mengenai proses kreatif, pengalaman berkarier, dan teknik bermusik jazz dari maestronya langsung.
Music Market juga tak kalah menarik. Program ini mempertemukan pelaku industri musik, komunitas dan pengunjung. Tenant yang mengisi di Atrium Ciunik serta koridor Geulis dan Ageung antara lain Yamaha, Tiup Tiup Music Store, Tiga Negeri Music House, Brass Jakarta, Ivan Guitar Studio, koleksi khas dari Saung Angklung Udjo hingga Official Merchandise Gedebage Jazz Festival dan Indra Lesmana.
Sementara Live Jazz Corner menghadirkan penampilan sekolah musik, komunitas, student showcase, dan jazz jam session. Kesemuanya menjadi bagian ekosistem musik jazz yang saya rasa harus didukung untuk menjaga keberlanjutan dan kesejahteraan bagi seluruh elemen.