- Hannah Al Rashid lahir di London pada 25 Januari 1986 dari ayah berdarah Bugis dan ibu Prancis.
- Ayahnya memperkenalkan pencak silat di Eropa, membuat Hannah dan saudara-saudaranya berlatih serta berprestasi sejak dini.
- Hannah lulus dari SOAS University of London sebelum pindah ke Indonesia pada 2008 untuk memulai kariernya.
Suara.com - Hannah Aidinal Al Rashid lahir di London, Inggris, pada 25 Januari 1986, dari perpaduan dua budaya yang berbeda namun saling memperkaya. Ayahnya, Aidinal Hamzah Al Rashid, berasal dari suku Bugis di Sulawesi Selatan, sementara ibunya, Anne Marie Al Rashid, berdarah Prancis.
Kelahiran di tanah Eropa tidak membuat Hannah Al Rashid kehilangan akar Indonesia. Sejak kecil, rumahnya di London dipenuhi elemen budaya Nusantara, mulai dari lukisan, ukiran, keris, golok, hingga gamelan.
Kehidupan keluarga Al Rashid menjadi contoh nyata bagaimana identitas ganda bisa hidup harmonis. Hannah dibesarkan bersama dua saudara laki-laki dalam lingkungan yang menanamkan rasa bangga terhadap warisan Bugis sekaligus keterbukaan terhadap budaya Barat.
Hannah sering menceritakan bagaimana ayahnya dengan bangga mengajarkan nilai-nilai Indonesia kepada anak-anaknya yang lahir dan besar di luar negeri.
Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, Hannah menjadi satu-satunya putri di keluarga tersebut. Kakaknya, Irfan Al Rashid, dan adiknya, Khuddus Al Rashid (yang juga dikenal sebagai musisi dengan nama panggung K. Waltz), tumbuh bersama dalam kedekatan yang erat.
Foto-foto keluarga yang pernah dibagikan Hannah menunjukkan ketiga bersaudara ini saling mendukung dan akrab meski terpisah jarak.
Pencak silat menjadi salah satu warisan paling kuat dalam silsilah keluarga Hannah. Ayahnya dikenal sebagai tokoh penting yang membawa dan mengembangkan pencak silat di Inggris serta Eropa sejak era 1970-an. Ia membuka kelas pencak silat pertama di Inggris, lalu membangun federasi hingga menjadi presiden federasi Inggris dan Eropa.
Pengaruh ayahnya begitu besar sehingga seluruh anak, termasuk Hannah, dilatih silat sejak dini dan sempat meraih prestasi sebagai atlet.
Aidinal Hamzah Al Rashid tidak sekadar mengajarkan teknik bela diri. Ia menanamkan disiplin, rasa percaya diri, serta kebanggaan terhadap budaya Indonesia.
Hannah pernah mengungkapkan bahwa silat sudah menjadi warisan keluarga. Ayahnya silat, kakaknya silat, adiknya silat, dan mereka semua pernah menjadi juara.
Lingkungan rumah yang penuh dengan peralatan tradisional Bugis memperkuat identitas tersebut. Hannah bahkan terbiasa tidur dengan keris di bawah bantal, mengikuti tradisi wanita bangsawan Bugis, serta makan menggunakan tangan sesuai adat Indonesia.
Dari sisi ibu, Anne Marie Al Rashid memberikan sentuhan budaya Prancis yang lembut namun mandiri. Perpaduan ini menciptakan sosok Hannah yang terbuka, kritis, dan memiliki pandangan global.
Meski lahir dan besar di London, ia selalu merasa terhubung dengan Indonesia. Pendidikan formalnya di School of Oriental and African Studies (SOAS), University of London, dengan jurusan Indonesian and Development Studies, semakin memperdalam pemahamannya tentang budaya dan pembangunan di tanah air ayahnya.
Pada 2008, Hannah memutuskan pindah ke Indonesia. Awalnya ia berniat bekerja di United Nations Development Programme (UNDP) fokus pada isu kesetaraan gender. Meskipun rencana itu tidak terwujud, keputusannya membuka jalan karier di dunia hiburan Indonesia.
Latar belakang keluarga yang kuat membuatnya mampu membawa diri dengan percaya diri di industri yang menuntut ketahanan mental dan fisik.
Dalam kehidupan pribadi, Hannah sempat menikah dengan aktor Nino Fernandez. Mereka mengumumkan pernikahan diam-diam tersebut pada Desember 2020, dan diketahui pernah tinggal di London.
Namun, kabar perceraian beredar pada akhir 2024. Hingga saat ini, tidak ada informasi resmi mengenai keturunan dari pernikahan tersebut. Hannah tetap menjaga privasi keluarga intinya sambil tetap dekat dengan saudara kandung.
Silsilah keluarga Hannah Al Rashid tidak hanya tentang garis keturunan biologis. Ia merefleksikan bagaimana seorang ayah Bugis berhasil membawa budaya pencak silat ke Eropa, bagaimana seorang ibu Prancis mendukung pendidikan multikultural, serta bagaimana ketiga bersaudara menjaga kedekatan meski hidup di dua dunia.
Hannah Al Rashid tumbuh menjadi aktris, model, dan aktivis yang vokal menyuarakan kesetaraan gender. Semua itu tidak lepas dari fondasi keluarga yang menanamkan kebanggaan terhadap akar sekaligus keberanian untuk menembus batas.