alexametrics

Nostalgia Menonton Film Layar Tancap

Oke Atmaja | Angga Budiyanto
Nostalgia Menonton Film Layar Tancap
Sejumlah anak menyaksikan pemutaran film layar tancap di kawasan Serua, Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Pada era keemasannya, layar tancap merupakan primadona hiburan bagi masyarakat urban, terlebih saat akhir pekan

Suara.com - Sesaat setelah adzan Maghrib berkumandang, sejumlah pekerja terlihat sibuk mempersiapkan layar putih berukuran 7X3 meter yang dibentangkan diantara dua buah tiang bambu yang kemudian dipancang ke tanah.

Teknisi menyiapkan layar putih berukuran 7X3 meter untuk pemutaran film layar tancap di kawasan Serua, Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Teknisi menyiapkan layar putih berukuran 7X3 meter untuk pemutaran film layar tancap di kawasan Serua, Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Layar tersebut nantinya akan menampilkan film lawas dari roll film 35mm yang diputar melalui proyektor. Orang-orang menyebut hiburan rakyat ini dengan nama “Layar Tancap”.

Teknisi mempersiapkan film 35mm untuk pemutaran film layar tancap di kawasan Serua, Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Teknisi mempersiapkan film 35mm untuk pemutaran film layar tancap di kawasan Serua, Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Di sudut yang lain, sejumlah teknisi sibuk mempersiapkan roll film 35mm beserta proyektor untuk pemutaran film layar tancap malam nanti. Beberapa warga pun menunggu diputarnya film sembari menyaksikan teknisi menggulung roll film hingga mengecek proyektor agar pemutaran film dapat berjalan lancar tanpa kendala.

Teknisi mempersiapkan film 35mm untuk pemutaran film layar tancap di kawasan Serua, Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Teknisi mempersiapkan film 35mm untuk pemutaran film layar tancap di kawasan Serua, Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Selepas Isya, anak-anak hingga orang dewasa mulai mencari tempat terbaik untuk dapat menikmati film India yang diputar pada pertunjukan layar tancap malam itu. Film India beserta film-film lawas Indonesia menjadi menu wajib dalam setiap pertunjukan layar tancap.

Teknisi mempersiapkan film 35mm untuk pemutaran film layar tancap di kawasan Serua, Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Teknisi mempersiapkan film 35mm untuk pemutaran film layar tancap di kawasan Serua, Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Pada era keemasannya, layar tancap merupakan primadona hiburan bagi masyarakat urban, terlebih saat akhir pekan. Umumnya pertunjukan layar tancap berlangsung saat pesta pernikahan, khitanan dan perayaan lainnya.

Teknisi mempersiapkan proyektor untuk pemutaran film layar tancap di kawasan Serua, Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Teknisi mempersiapkan proyektor untuk pemutaran film layar tancap di kawasan Serua, Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Untuk saat ini, sebagian masyarakat hanya menikmati pertunjukan layar tancap sebagai ajang untuk bernostalgia, sementara sisanya masih merawat dan melestarikan layar tancap dengan kecintaan, salah satunya Muhammad Zaki, seorang penikmat film-film lawas.

Teknisi mempersiapkan proyektor untuk pemutaran film layar tancap di kawasan Serua, Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Teknisi mempersiapkan proyektor untuk pemutaran film layar tancap di kawasan Serua, Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Dengan menggunakan mobil bak terbuka, Ia angkut seluruh perlengkapan layar tancap seperti layar putih, tenda, roll film, proyektor, dan sistem pengeras suara. Dirinya bertekad melestarikan layar tancap dengan cara menggelar pertunjukan dari kampung ke kampung.

Seorang teknisi berjaga di dekat proyektor pemutaran film layar tancap di kawasan Serua, Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Seorang teknisi berjaga di dekat proyektor pemutaran film layar tancap di kawasan Serua, Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Sejatinya, menonton layar tancap dengan format film 35mm sudah lama ditinggalkan oleh pelaku industri perfilman serta penikmat film sendiri. Pelaku indudstri perfilman kini sudah beralih ke format digital yang dinilai lebih murah dan mudah, serta memiliki resolusi yang lebih baik.

Warga menyaksikan pemutaran film layar tancap di kawasan Serua, Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Warga menyaksikan pemutaran film layar tancap di kawasan Serua, Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Selain itu, perkembangan video digital dan menjamurnya bioskop-bioskop modern serta layanan menonton film secara “streaming” perlahan-lahan mulai menggeser keberadaan layar tancap.

Sejumlah anak menyaksikan pemutaran film layar tancap di kawasan Serua, Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Sejumlah anak menyaksikan pemutaran film layar tancap di kawasan Serua, Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Mulai tergeser dan terancam mati secara perlahan, tradisi layar tancap mencoba bertahan hidup lewat gairah dan kenangan masa lalu. Pada era dimana kebudayaan tradisional perlahan mulai terpinggirkan, layar tancap justru masih tetap bertahan memperlihatkan eksistensinya.

Komentar