SUARA GARUT - Pada tahun 2013, Indonesia merayakan pencapaian penting dalam industri otomotif dengan pengembangan mobil listrik nasional, Hevina, oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Prototipenya dipamerkan pada Hari Teknologi Nasional (Harteknas) di tahun yang sama, membangkitkan harapan akan masa depan kendaraan listrik di negara ini.
Namun, seiring berjalannya waktu, Hevina yang pernah menjanjikan dan impian mobil listrik Indonesia secara keseluruhan tampak memudar, hanya menjadi harapan yang tak terwujud.
Mobil listrik Hevina pertama kali diperkenalkan dalam perayaan ulang tahun LIPI di Puspitek, Serpong.
Dibangun dengan menggunakan sasis Timor 97, mobil ini merupakan langkah penting dalam upaya menuju transportasi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan di Indonesia.
Prototipe ini menarik perhatian dan memunculkan antusiasme di kalangan pakar industri, penggemar mobil, dan masyarakat umum.
Pada saat itu, Hevina dianggap sebagai terobosan potensial yang dapat menempatkan Indonesia sebagai pemain di pasar mobil listrik global.
Namun, meskipun awalnya mendapat perhatian besar dan harapan tinggi, proyek Hevina menghadapi berbagai tantangan yang menghambat kemajuannya.
Salah satu kendala utama adalah kurangnya dukungan keuangan dan investasi yang memadai.
Pengembangan mobil listrik yang layak membutuhkan dana besar untuk riset, pengembangan, pengujian, dan pembangunan infrastruktur.
Sayangnya, sumber daya yang diperlukan tidak tersedia secara memadai untuk menjaga kelangsungan proyek ini dan mendorong produksi massal.
Selain itu, industri otomotif Indonesia menghadapi persaingan sengit dari produsen global yang sudah mapan dan telah mencapai kemajuan signifikan dalam sektor mobil listrik.
Perusahaan internasional ini memiliki pengalaman yang luas, keahlian teknologi, dan ekonomi skala, yang membuat sulit bagi inisiatif Indonesia seperti Hevina untuk mendapatkan tempat di pasar.
Ketidakhadiran kerangka kebijakan nasional yang komprehensif dan mendukung untuk mobil listrik semakin memperparah tantangan yang dihadapi oleh produsen dalam negeri.
Selain itu, kesadaran dan pemahaman publik yang terbatas tentang mobil listrik dan manfaatnya, ditambah dengan kekhawatiran mengenai ketersediaan dan keandalan infrastruktur pengisian daya, mengurangi permintaan akan mobil listrik di Indonesia.
Akibatnya, pasar domestik untuk mobil listrik tetap relatif kecil, sehingga kurang menarik bagi produsen untuk berinvestasi dalam produksinya. (*)
Editor: SENO