Cerita Unik Penemuan Nama Virus Ebola

Siswanto

Minggu, 12 Oktober 2014 | 09:52 WIB
Cerita Unik Penemuan Nama Virus Ebola
Petugas membungkus pasien ebola yang dikira telah tewas. (Youtube)

Suara.com - Nama Ebola belumlah ada ketika suatu virus yang mematikan dan misterius mulai merebak dan menghancurkan Afrika Barat 38 tahun silam.

Penyakit itu pertama kali terjadi di Zaire, yang sekarang bernama Republik Demokratik Kongo.

Tim peneliti internasional yang ditugaskan untuk menyelidiki wabah pada tahun 1976 terkejut dengan dampak penyakit yang misterius ini.

Adalah Dr. Peter Piot, peneliti pertama yang meneliti virus itu, mengingat dalam buku memoarnya berjudul No Time To Lose: A Life in Pursuit of Deadly Viruses. (W. W. Norton & Company, 2012).

Para peneliti melihat sampel darah yang dikirimkan dari Afrika di bawah mikroskop di laboratorium Belgia, dan virus itu terlihat seperti cacing atau tali panjang, sangat berbeda dari virus yang telah banyak diketahui peneliti.

Dan ketika tim sampai di tanah Zaire, mereka melihat bagaimana virus itu menyebar dengan cepat dan bagaimana korban terbunuh dengan cepat. Mereka tahu bahwa mereka harus menemukan pola bagaimana virus misterius baru ini ditularkan, apa yang terjadi dalam tubuh, dan bagaimana bisa menghentikannya.

Mereka juga harus memberi nama untuk virus baru ini.

Cerita mengenai bagaimana Ebola mendapatkan namanya tergolong unik, tulis Piot dalam bukunya.

Pada suatu malam, tim peneliti mendiskusikan virus 'Kentucky bourbon' yang baru mereka namai.

Lalu virus di Zaire ini ditemukan di pedesaan yang bernama Yambuku. Salah satu anggota tim peneliti bernama Dr. Pierre Sureau, dari Institut Pasteur di Prancis berkata "Nama desa itu bisa kita jadikan nama virus."

Tetapi menamakan virus itu dengan Yambuku akan menimbulkan stigma yang buruk tentang desa itu, kata peneliti lain, Dr. Joel Breman, dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC).

Ini pernah terjadi sebelumnya, contohnya, virus Lassa, yang terjadi di kota Lassa di Nigeria pada 1969.

Lalu Karl Johnson, yang juga dari CDC dan pemimpin tim peneliti menyarankan agar penamaan virus itu dengan nama sungai, agar mengecilkan penekanan stigma terhadap tempat tertentu.

Salah satu pilihan yang jelas, yakni Sungai Kongo--sungai terdalam di dunia dan mengalir melalui negara dan hutan hujan tropis Kongo.

Tetapi masalahnya, sudah ada virus lain dengan nama serupa. Virus Crimean-Congo adalah untuk salah satu jenis penyebab demam berdarah.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Lelaki yang Diobservasi Tes Ebola di Brasil Hasilnya Negatif

Lelaki yang Diobservasi Tes Ebola di Brasil Hasilnya Negatif

Health | Minggu, 12 Oktober 2014 | 07:11 WIB

 Bernama Mirip Ebola, Bekas Pemain Liverpool Dikira Idap Ebola

Bernama Mirip Ebola, Bekas Pemain Liverpool Dikira Idap Ebola

Bola | Minggu, 12 Oktober 2014 | 04:31 WIB

Tinggal Masalah Waktu bagi Ebola Hancurkan Populasi Dunia

Tinggal Masalah Waktu bagi Ebola Hancurkan Populasi Dunia

Health | Sabtu, 11 Oktober 2014 | 23:43 WIB

Terkini

Bedah RUU Perampasan Aset, IMC Sebut 'Kekayaan Tak Wajar' Sudah Diatur di LHKPN

Bedah RUU Perampasan Aset, IMC Sebut 'Kekayaan Tak Wajar' Sudah Diatur di LHKPN

News | Rabu, 23 September 2026 | 13:37 WIB

Donald Trump Terima Kasih ke Indonesia: Telah Berkomitmen Bantu Menstabilkan Jalur Gaza

Donald Trump Terima Kasih ke Indonesia: Telah Berkomitmen Bantu Menstabilkan Jalur Gaza

News | Rabu, 23 September 2026 | 13:33 WIB

Warga Makassar-Gowa Bernapas Lega! Proyek Jalan Aroepala Selesai, Segera Dibuka Penuh

Warga Makassar-Gowa Bernapas Lega! Proyek Jalan Aroepala Selesai, Segera Dibuka Penuh

Sulsel | Rabu, 23 September 2026 | 13:31 WIB

Waspada Cuci Uang Bermodus Aset Digital, IMC Usul Judol Masuk RUU Perampasan Aset

Waspada Cuci Uang Bermodus Aset Digital, IMC Usul Judol Masuk RUU Perampasan Aset

News | Rabu, 23 September 2026 | 13:30 WIB

5 Masker Wajah Mengandung Bengkoang untuk Memutihkan Kulit

5 Masker Wajah Mengandung Bengkoang untuk Memutihkan Kulit

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 13:30 WIB

Grow Wild, My Child: Saat Alam Menjadi Ruang Kelas Terbaik Anak

Grow Wild, My Child: Saat Alam Menjadi Ruang Kelas Terbaik Anak

Your Say | Rabu, 23 September 2026 | 13:30 WIB

Gus Ipul Tempuh Jalur Hukum, Tiga Orang Disiapkan untuk Disomasi soal Muktamar NU

Gus Ipul Tempuh Jalur Hukum, Tiga Orang Disiapkan untuk Disomasi soal Muktamar NU

Jakarta | Rabu, 23 September 2026 | 13:28 WIB

Revisi RKAB Disetujui, UNTR Optimistis Kinerja Meningkat di Semester II 2026

Revisi RKAB Disetujui, UNTR Optimistis Kinerja Meningkat di Semester II 2026

Bisnis | Rabu, 23 September 2026 | 13:27 WIB

Dubbing Tak Lagi Bikin Aneh, AI Kini Bisa Sinkronkan Gerak Mulut Aktor

Dubbing Tak Lagi Bikin Aneh, AI Kini Bisa Sinkronkan Gerak Mulut Aktor

Tekno | Rabu, 23 September 2026 | 13:26 WIB

5 Shio Paling Susah Diatur dan Diperintah, Punya Pendirian yang Keras

5 Shio Paling Susah Diatur dan Diperintah, Punya Pendirian yang Keras

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 13:25 WIB

×