Akibat Kabut Asap, 538 Warga Riau Menderita Pneumonia

Ririn Indriani | Firsta Nodia | Suara.com

Jum'at, 18 September 2015 | 11:43 WIB
Akibat Kabut Asap, 538 Warga Riau Menderita Pneumonia
Pengendara melintas di antara kabut asap di Jalan Bypass, Padang, Sumbar.

Suara.com - Pemerintah daerah provinsi Riau telah meningkatkan status bencana kabut asap kebakaran hutan menjadi Tanggap Darurat sejak 14 September lalu. Hal ini terlihat dari adanya 538 warga Riau yang menderita Pneumonia akibat asap kebakaran hutan dan lahan dengan indeks standar pencemaran udara yang berada di atas angka 300 atau mengisyaratkan kondisi bahaya.

Menurut Kepala Pusat Penanggulangan Krisis  Kementerian Kesehatan, Achmad Yurianto, data per 17 September 2015 menyebut bahwa jumlah penduduk terpapar asap di Riau mencapai 6.3 juta jiwa yang tersebar di 12 kabupaten. Sebanyak 31.518 jiwa mengalami gangguan kesehatan, dimana 538 jiwa di antaranya mengidap pneumonia.

Jika terhirup dan masuk ke tubuh,  asap kebakaran hutan memicu beragam gangguan kesehatan mulai dari iritasi kulit, mata, gangguan sistem pernapasan hingga infeksi paru-paru atau pneumonia yang menyebabkan kematian.

Achmad menjelaskan, di dalam asap terdapat dua komponen yang sangat berpengaruh pada kondisi kesehatan. Pertama adalah gas beracun pada proses pembakaran dan kedua adalah debu yang bisa menghambat sistem pernapasan.

Jika kedua komponen ini terhirup, maka tubuh akan memghasilkan reaksi berupa lendir atau dahak yang harus dikeluarkan. Sayangnya, pada kelompok dengan kekebalan tubuh rendah seperti anak-anak, orang lanjut usia (lansia) dan orang dengan penyakit tertentu, dapat dengan mudah terinfeksi bakteri yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga pneumonia.

"Ketika seseorang terpapar dua komponen ini terus menerus dan kondisi imun nggak bagus, maka akan masuk infeksi bakteri yang disebut ISPA. Begitu diobati dengan baik maka bisa sembuh, tapi kalau pengobatan nggak dilakukan dengan baik berkembanglah ISPA itu menjadi pneumonia," kata Achmad di Gedung Kemenkes, Jakarta, Jumat (18/9/2015).

Gejala pneumonia, lanjut dia, biasanya ditandai dengan batuk berdahak, peningkatan suhu tubuh, hingga kesulitan bernapas. Infeksi pada organ paru-paru ini berisiko tinggi mengalami kematian.

"Fokus kita adalah bagaimana untuk mencegah jangan sampai terjadi ISPA atau bahkan pneumonia. Caranya dengan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan dan menjaga kekebalan tubuh," imbuh Achmad.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Kabut Asap Kian Mengkhawatirkan, Menkes Nila Kirim Tim Khusus

Kabut Asap Kian Mengkhawatirkan, Menkes Nila Kirim Tim Khusus

News | Jum'at, 18 September 2015 | 10:42 WIB

Ini Kelompok yang Rentan Terkena Dampak Kabut Asap

Ini Kelompok yang Rentan Terkena Dampak Kabut Asap

Health | Selasa, 15 September 2015 | 19:52 WIB

Ini Imbauan Menkes Untuk Masyarakat yang Terkena Kabut Asap

Ini Imbauan Menkes Untuk Masyarakat yang Terkena Kabut Asap

Health | Selasa, 15 September 2015 | 16:04 WIB

Palembang Nyatakan Asap Kebakaran Hutan Bahayakan Manusia

Palembang Nyatakan Asap Kebakaran Hutan Bahayakan Manusia

News | Jum'at, 11 September 2015 | 10:34 WIB

Terkini

Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini

Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini

Health | Jum'at, 20 Maret 2026 | 13:04 WIB

Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi

Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi

Health | Kamis, 19 Maret 2026 | 13:49 WIB

Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!

Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!

Health | Rabu, 18 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?

Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?

Health | Selasa, 17 Maret 2026 | 15:31 WIB

Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung

Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung

Health | Senin, 16 Maret 2026 | 17:14 WIB

Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman

Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman

Health | Senin, 16 Maret 2026 | 16:49 WIB

Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi

Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi

Health | Senin, 16 Maret 2026 | 15:52 WIB

Cedera Lutut hingga Bahu Paling Banyak Dialami Atlet dan Penggemar Olahraga

Cedera Lutut hingga Bahu Paling Banyak Dialami Atlet dan Penggemar Olahraga

Health | Senin, 16 Maret 2026 | 11:54 WIB

Jelang Lebaran, Korban Banjir Aceh Tamiang Dibayangi ISPA hingga Diare: Imunitas Harus Diperhatikan

Jelang Lebaran, Korban Banjir Aceh Tamiang Dibayangi ISPA hingga Diare: Imunitas Harus Diperhatikan

Health | Senin, 16 Maret 2026 | 09:18 WIB

Deteksi Dini dan Kebijakan Ramah Lingkungan: Solusi Terpadu untuk Menangani Penyakit Ginjal

Deteksi Dini dan Kebijakan Ramah Lingkungan: Solusi Terpadu untuk Menangani Penyakit Ginjal

Health | Sabtu, 14 Maret 2026 | 14:38 WIB