Kasus Haringga Sirla, Bisakah Aksi Brutal Diredam?

Ade Indra Kusuma
Kasus Haringga Sirla, Bisakah Aksi Brutal Diredam?
Haringga Sirla tewas usai dikeroyok secara brutal oleh oknum suporter di Bandung. (Foto: @abdulrosyid7/Twitter)

Belajar dari kasus Haringga Sirila, mengapa para remaja rela membunuh secara bersama-sama hanya karena membela sebuah atribut? Psikolog ini angkat bicara.

Suara.com - Haringga Sirla meninggal secara mengenaskan lantaran dikeroyok secara brutal oleh oknum bobotoh -- julukan untuk suporter sepak bola Persib Bandung -- sebelum laga Persija vs Persib di Stadion Gelora Bandung Lautan Api pada Minggu (23/9/2018), yang menjadi pertanyaan bisakah aksi brutal tersebut diredam?

Menanggapi kasus tersebut Psikolog anak dan remaja, Erna Marina Kusuma M.Psi. C.Ft mengaku turut mengecam tindakan keji itu, bahkan heran mengapa para pelaku bisa-bisanya merekam aksi pengeroyokan brutal tersebut dan disebar di media sosial (medsos).

Sejumlah pendukung klub sepak bola Persija melakukan ziarah ke makam Haringga Sirila di Indramayu, Jawa Barat, Senin (24/9). Haringga Sirila meninggal dunia akibat penganiayaan oleh sejumlah oknum pendukung klub sepakbola Persib pada laga lanjutan Liga 1 Minggu (23/9). ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
Sejumlah pendukung klub sepak bola Persija melakukan ziarah ke makam Haringga Sirila di Indramayu, Jawa Barat, Senin (24/9). Haringga Sirla meninggal dunia akibat penganiayaan oleh sejumlah oknum pendukung klub sepakbola Persib pada laga lanjutan Liga 1 Minggu (23/9). ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

Bicara pengeroyokan brutal yang kerap dilakukan pemuda hingga menyebabkan korban tewas hanya karena membela atribut atau kelompok fanatiknya, ia menuturkan masa remaja bila dilihat dari aspek psikologis sangat diwarnai dengan perkembangan sosial di mana remaja lebih dekat dengan kelompok teman belajar dan bermain dibanding dengan keluarga.

"Pada masa-masa ini seringkali remaja yang tidak kuat karakternya sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan teman sebayanya," ujar Erna saat dihubungi Suara.com melalui pesan singkat, Selasa (25/9/18).

Erna memang menegaskan bahwa pergaulan remaja juga masih sangat perlu di perhatikan orangtua, mengingat masa remaja yang berisiko tinggi terhadap perubahan mental.

"Saat remaja sudah memiliki kelompok teman sebaya, mereka memiliki rasa solidaritas di mana jika ada teman mereka yang diusili atau dicurangi mereka akan membela kelompoknya. Hal ini mengakibatkan seringkali terjadi tawuran pelajar," urainya.

Untuk mengajarkan anak mengontrol emosi, lanjut Erna, perlu dilakukan saat anak masih kecil. "Misalkan anak melempar mainannya harus dilarang dan diarahkan untuk tidak mengulangi perbuatan setiap marah lempar barang. Jika hal ini konsisten dilakukan maka ketika anak remaja akan terlatih untuk mengontrol emosinya," lanjut Erna.

Saat ini teknologi dan sosial media sangat berkembang pesat. Semua orang cenderung menggunakan sosial media. Begitu juga dengan remaja yang masih sangat menarik perhatian. Mereka juga merasa setiap kegiatannya, kata Erna, perlu diketahui teman-temannya.

"Kejadian di mana merekam pemukulan terjadi seringkali, karena mereka ingin merekam hal yang membuat mereka merasa hebat dan menang namun tidak memikirkan akibatnya," seru Erna.

Nah, untuk menghindari remaja balas dendam, sambung dia, harus ditanamkan sejak anak dini dan tentu harus ditanamkan pula pengajaran agama sedini mungkin.

"Jika semua remaja memiliki keyakinan yang kuat maka akan menghindari mereka berkembang ke arah negatif di kemudian harinya," tutupnya menanggapi aksi pengeroyokan brutal yang menyebabkan Haringga Sirla meninggal.

Baca Juga
Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS