Tercekik Polusi Udara, Pembunuh Tak Kasat Mata di Ibu Kota

M. Reza Sulaiman, Risna Halidi

Senin, 17 Juni 2019 | 07:10 WIB
Tercekik Polusi Udara, Pembunuh Tak Kasat Mata di Ibu Kota
Greenpeace melakukan aksi di depan Gedung Kementerian Kesehatan, di Jakarta, Kamis (28/9). (Dok. Suara.com)

Suara.com - Tercekik Polusi Udara, Pembunuh Tak Kasat Mata di Ibu Kota

Asap hitam mengepul dari knalpot bus kota. Sejumlah penumpang yang sedang menunggu bus di halte Cilandak pun serempak menutup wajah, menghindari paparan asap yang menyengat hidung.

Di Jakarta, pemandangan seperti ini bisa Anda lihat setiap hari, terutama di jam-jam sibuk saat berangkat dan pulang kerja. Penumpang angkutan umum, baik itu angkot kecil, ojek online, maupun bus kota, fasih mengenakan masker di wajah.

Bukan tanpa alasan, tingkat polusi udara di kawasan Jabodetabek memang sudah sampai tahap mengkhawatirkan. Angka polusi udara tercatat sangat tinggi, bahkan melebihi standar baku mutu yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

Baku mutu nasional rata-rata harian untuk partikulat matter (PM)2,5 adalah 65 mg/m3. Tapi berdasarkan pantauan Suara.com melalui data laman Airvisual.com pada Jumat (14/6/2019), indeks kualitas udara PM2,5 di Jakarta mencapai angka 113 mg/m3, yang artinya berbahaya bagi orang kelompok sensitif.

Angka tersebut bukanlah angka terburuk yang pernah tercatat oleh Airvisual. Pada Kamis, (13/6) angka polutan Jakarta menjadi yang terburuk di dunia, tepat di atas Dhaka, ibu kota Bangladesh, dengan kadar polutan PM2,5 mencapai angka 180 mg/m3.

Polusi udara di ibu kota. (Dok. Airvisual.com/Tangkapan layar)
Polusi udara di ibu kota. (Dok. Airvisual.com/Tangkapan layar)

Bahkan secara rata-rata, pada 2018 Jakarta menempati posisi pertama sebagai kota dengan kondisi udara terburuk di Asia Tenggara.

"Banyak angka (polusi) yang melebihi baku mutu. Harusnya ada peringatan dari pemerintah bahwa ini (polusi) sudah berbahaya bagi tubuh," ujar Juru Kampanye Iklim dan Energi LSM Greepeace, Bondan Andriyanu kepada Suara.com.

baca juga

Dikatakan Bondan, polusi udara merupakan masalah yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Masalah polusi udara ini menurutnya, sudah harus ditanggapi serius oleh pemerintah.

Hal ini diamini oleh Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). Kepada Suara.com, ia mengungkapkan bahwa polusi udara berdasarkan penelitian ilmiah merupakan penyebab utama beberapa penyakit mematikan seperti infeksi saluran pernapasan akut, penyakit paru obstruktif kronik, asma, hingga kanker paru.

Bahkan, menurut hasil studi Global Health Observatory yang diterbitkan WHO pada tahun 2016, polusi udara luar ruangan bertanggung jawab terhadap 7,6 persen total kematian di seluruh dunia.

PM2,5 Si Mungil Nan Mematikan

Perbincangan seputar bahaya polusi udara tidak akan berkembang tanpa memahami apa sebenarnya yang termasuk dalam kategori polusi udara.

Dijelaskan dr. Agus, beberapa jenis polutan yang lazim ditemukan di udara terbuka adalah karbon monoksida (CO), oksida nitrogen (NOx), hidrokarbon, partikulat (PM10 dan PM2,5) hingga oksida sulfur (SOx).

PM2,5 merupakan polutan paling berbahaya. Ukurannya yang sangat kecil, hanya 3 persen dari diameter rambut manusia, membuatnya rentan masuk ke aliran darah melalui saluran pernapasan.

Kabut asap tipis menyelimuti Ibu Kota Jakarta, Selasa(27/10).
Kabut asap tipis menyelimuti Ibu Kota Jakarta, Selasa(27/10/2018). (Dok. Suara.com)

PM2,5 adalah partikel yang sangat kecil yang berasal dari asal kendaraan, pabrik, pembangkit listrik, hingga asap kompor dalam rumah tangga.

Hasil studi Greenpeace menyebut tingginya konsentrasi PM2,5 di Jakarta disebabkan antara lain meningkatnya jumlah kendaraan pribadi dan pembangkit listrik tenaga uap yang beroperasi di sekeliling Jakarta dalam radius 100 km.

"Berdasarkan pemodelan yang dilakukan oleh Greenpeace, PLTU batubara yang sudah beroperasi tersebut dapat berkontribusi sebanyak 33 hingga 38 persen dari konsentrasi PM2,5 harian di Jakarta pada kondisi terburuk," jelas Greenpeace.

Lantas, upaya apa yang dilakukan agar polusi udara di Jakarta tak makin memburuk? Simak ulasannya di halaman selanjutnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kualitas Udara Jakarta Masih Buruk saat Libur Lebaran

Kualitas Udara Jakarta Masih Buruk saat Libur Lebaran

Tekno | Senin, 10 Juni 2019 | 22:01 WIB

Anies Salahkan Kendaraan Bermotor yang Bikin Kualitas Udara Jakarta Buruk

Anies Salahkan Kendaraan Bermotor yang Bikin Kualitas Udara Jakarta Buruk

News | Senin, 10 Juni 2019 | 15:21 WIB

Polusi Udara Tak Ditangani Serius, Jokowi Bakal Digugat Aktivis Lingkungan

Polusi Udara Tak Ditangani Serius, Jokowi Bakal Digugat Aktivis Lingkungan

News | Selasa, 04 Juni 2019 | 05:37 WIB

Terkini

Menolak Bungkam! Rakyat Kecil di Kota Bogor Tuntut Keadilan Hak Tanah yang Diduga Diserobot

Menolak Bungkam! Rakyat Kecil di Kota Bogor Tuntut Keadilan Hak Tanah yang Diduga Diserobot

Bogor | Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:39 WIB

Tukang Cukur dan Camat Sudah Minta Maaf, Netizen Masih Buru Pelaku Perekam Video Viral

Tukang Cukur dan Camat Sudah Minta Maaf, Netizen Masih Buru Pelaku Perekam Video Viral

Bogor | Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:31 WIB

Tanggapi Insiden Tukang Cukur di Rancabungur, Bupati Bogor: Mari Bersama Maknai Kemerdekaan

Tanggapi Insiden Tukang Cukur di Rancabungur, Bupati Bogor: Mari Bersama Maknai Kemerdekaan

Bogor | Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:14 WIB

Cara Seru Jakarta Ajak Ratusan Pelajar Kenali Pariwisata Berkelanjutan

Cara Seru Jakarta Ajak Ratusan Pelajar Kenali Pariwisata Berkelanjutan

Lifestyle | Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:11 WIB

Nekat Panjat Atap Hingga Bakar Dua Motor, Evakuasi Pria ODGJ di Cibadak Sukabumi Menegangkan

Nekat Panjat Atap Hingga Bakar Dua Motor, Evakuasi Pria ODGJ di Cibadak Sukabumi Menegangkan

Jabar | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:52 WIB

BRI Perluas Akses Pembiayaan KUR Petani di Bengkayang Guna Swasembada Pangan

BRI Perluas Akses Pembiayaan KUR Petani di Bengkayang Guna Swasembada Pangan

Bri | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:43 WIB

Retribusi Melempem, Benyamin Davnie Bentuk Perseroda 'Citra Anggrek Mandiri' Kelola Pasar Tangsel

Retribusi Melempem, Benyamin Davnie Bentuk Perseroda 'Citra Anggrek Mandiri' Kelola Pasar Tangsel

Banten | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:35 WIB

Geledah Jateng-Jatim, KPK Cari Bukti untuk Tetapkan Tersangka Baru dalam Kasus Suap Pajak

Geledah Jateng-Jatim, KPK Cari Bukti untuk Tetapkan Tersangka Baru dalam Kasus Suap Pajak

News | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:29 WIB

Bupati Brebes Temui Siswa Sespimmen Polri, Bahas Persoalan Pupuk Subsidi

Bupati Brebes Temui Siswa Sespimmen Polri, Bahas Persoalan Pupuk Subsidi

Jawa Tengah | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:28 WIB

Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Pemkot Bandung Tertibkan Bangunan Liar di Jalan Rajawali

Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Pemkot Bandung Tertibkan Bangunan Liar di Jalan Rajawali

Jabar | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:26 WIB

×