Hamil Bayi Kembar, Wanita Ini Harus Bertahan Meski Satu Janin Meninggal

Dinar Surya Oktarini | Rosiana Chozanah
Hamil Bayi Kembar, Wanita Ini Harus Bertahan Meski Satu Janin Meninggal
Ilustrasi kehamilan (Shutterstock)

Seorang wanita harus tetap bertahan hingga masa kehamilan penuh meski salah satu bayi kembarnya meninggal dunia di dalam kandungan.

Suara.com - Becki Vam der Land dan suaminya, Cees, sangat gembira saat tahu mereka akan dikaruniai bayi kembar awal tahun ini. Tetapi semua itu berubah menyedihkan setelah tahu hasil tes USG di usia kehamilan 12 minggu.

Pasangan dari Allendale, Northumberland, diberitahu bahwa bayi kembarnya yang perempuan ukurannya jauh lebih kecil daripada saudara kembarnya.

Tragisnya, jantung calon putrinya berhenti berdetak lima minggu kemudian, dan sejak saat itu dokter menemukan janin satu ini memiliki kondisi genetik.

Lebih menyesakkan lagi, wanita 35 tahun ini juga berisiko kehilangan janin satunya yang masih bertahan, yang mana berjenis kelamin lelaki.

Tapi dia tumbuh dengan baik, dan Van der Land 'masih menantikan untuk bertemu kedua bayi' dalam waktu sekitar empat bulan lagi, meskipun salah satunya sudah tidak berkembang.

"Dia (janin yang meninggal) akan lahir pada waktu yang sama dengan kakaknya, semoga dalam waktu empat bulan. Seharusnya tidak terlalu mempengaruhi kelahiran, kecuali secara psikologis," tutur Van der Land.

Hasil tes USG (Daily Mail/Van der Land)
Hasil tes USG (Daily Mail/Van der Land)

Wanita ini mencoba berpikiran positif tentang kelahirannya nanti.

Di sisi lain, ia mengaku sempat merasakan sesuatu yang salah dengan janin kembarnya ini.

"Aku juga punya perasaan aneh bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Pada tes USG pertama mereka berdua terlihat sempurna, tetapi pada 12 minggu gadis kecil itu tampak lebih kecil, jadi kami melakukan tes USG setiap minggu."

"Mereka (petugas medis) mengatakan dia menunjukkan tanda-tanda berjuang dan sedikit lebih kecil dari kakaknya," jelasnya, melansir Daily Mail.

Sayangnya pada usia 17 minggu pasangan itu mengetahui bahwa jantung calon gadis kecilnya berhenti berdetak.

Mereka menemukan bahwa janinnya memiliki translokasi kromosom, kromosom yang terbentuk secara tidak normal. Entah potongan-potongan kromosom terputus dan bertukar tempat, atau kromosom menempel pada yang lain.

Bayi itu memiliki translokasi kromosom yang disebut 15q26-qter deletion syndrome, dan dia telah kehilangan gen IGF1R-nya. Gen untuk pertumbuhan janin.

Meski begitu, Van der Land harus tetap mengandung mantan calon janinnya ini hingga Hari Perkiraan Lahir tiba.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS