Duh, Konsumsi Daging Bisa Berdampak Buruk untuk Lingkungan?

M. Reza Sulaiman | Suara.com

Rabu, 07 Agustus 2019 | 07:15 WIB
Duh, Konsumsi Daging Bisa Berdampak Buruk untuk Lingkungan?
Benarkah konsumsi daging mempengaruhi global warming? (Shutterstock)

Suara.com - Duh, Konsumsi Daging Bisa Berdampak Buruk untuk Lingkungan?

Menjaga kesehatan tubuh agar tetap fit dan berumur panjang tidak ada artinya jika mengabaikan kondisi lingkungan. Demi lingkungan, proses pengolahan makanan harus dilakukan dengan prinsip keberlangsungan.

Pertumbuhan populasi, kelaparan, dan keberlangsungan menjadi topik diskusi soal gizi yang menarik. Betapa tidak, selama ini faktor lingkungan kerap disepelekan demi memenuhi kebutuhan makanan manusia di seluruh dunia.

Dalam gelaran Asian Congress of Nutrition 2019, Prof Martin W. Bloem, MD, PhD, dari Johns Hoplins Center for a Livable Future menyebut secara global, populasi penduduk dunia akan bertambah dari 7 miliar di tahun 2010, menjadi 9,8 miliar di tahun 2050.

Peningkatan populasi dunia juga diprediksi dibarengi dengan naiknya pendapatan per kapita di negara-negara berkembang. Efeknya, kebutuhan pangan akan naik lebih dari 50 persen, dengan 70 persennya merupakan kebutuhan untuk makanan yang dididapat dari hewan.

Pada masyarakat kelas menengah, kenaikan pendapatan lazim dibarengi dengan perbaikan gizi dan nutrisi anggota keluarga. Di negara-negara berkembang, perbaikan gizi menyebabkan kenaikan konsumsi daging. Daging dianggap sebagai sumber gizi yang baik, dengan kandungan protein dan lemak yang tinggi.

Namun Prof Bloem menyebut kenaikan konsumsi daging berisiko menimbulkan dua masalah. Masalah pertama, konsumsi daging membuat kebutuhan akan lahan ternak dan air bersih meningkat.

Ilustrasi lelaki makan daging merah. (Shutterstock)
Makan daging berdampak pada efek rumah kaca. (Shutterstock)

Ini merupakan tantangan, sebab sumber daya lahan dan air bersih merupakan jenis sumber daya yang tidak terbarukan. Dengan kata lain, meningkatnya konsumsi daging akan memperburuk kondisi lingkungan.

"Untuk setiap kalori yang didapat dari makanan bersumber hewan, semakin banyak emisi (gas buang) yang dihasilkan oleh industri peternakan hingga pengolahan makanan, yang meningkatkan risiko efek rumah kaca serta global warming," urai Prof Bloem, di acara Asian Congress of Nutrition 2019 di Nusa Dua, Bali, baru-baru ini.

Masalah kedua, tingginya konsumsi daging juga berperan dalam peningkatan kasus kegemukan dan obesitas di masyarakat. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2018, prevalensi penduduk obesitas meningkat dari 14,8 persen di 2013 menjadi 21,8 persen di 2018. Hal yang sama juga terlihat pada kasus penduduk kegemukan, yang meningkat dari 11,5 persen di 2013 menjadi 13,6 persen di 2018.

Beralih ke Pangan Berbahan Tumbuhan demi Keberlangsungan

Untuk itu, diperlukan solusi pangan sehat dan aman namun tidak berdampak buruk bagi lingkungan. Di sini, prinsip keberlangsungan (sustainability) harus di kedepankan.

Salah satu solusi yang ditawarkan Prof Bloem adalah menggiatkan makanan yang bersumber dari tumbuhan. Tidak seperti daging yang memerlukan lahan, pakan, dan air untuk hewan ternak, pengolahan makanan bersumber tumbuhan membutuhkan sumber daya yang lebih rendah.

Tahu dan tempe makanan berbahan tumbuhan dengan gizi tinggi. (Shutterstock)
Tahu dan tempe makanan berbahan tumbuhan dengan gizi tinggi. (Shutterstock)

Beberapa makanan bersumber tumbuhan dengan kandungan gizi tinggi sejatinya sudah terintegrasi dengan kebudayaan masyarakat Indonesia. Tahu dan tempe, makanan olahan dari kacang kedelai yang kini mulai populer di Amerika dan Eropa, lazim disantap masyarakat Indonesia sehari-hari.

"Indonesia juga kaya akan buah-buahan eksotik bergizi tinggi, seperti pisang ambon, nangka muda, pepaya, hingga salak," ungkap Prof Bloem.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Keren, Kemasan KitKat Ramah Lingkungan Ini Bisa Disulap Jadi Origami

Keren, Kemasan KitKat Ramah Lingkungan Ini Bisa Disulap Jadi Origami

Lifestyle | Selasa, 06 Agustus 2019 | 18:43 WIB

Jelang Idul Adha: Daging Kambing Lebih Sehat dari Daging Sapi & Ayam

Jelang Idul Adha: Daging Kambing Lebih Sehat dari Daging Sapi & Ayam

Health | Selasa, 06 Agustus 2019 | 19:04 WIB

Sedotan Kertas Tak Bisa Didaur Ulang, McDonalds Kena Protes Pelanggan

Sedotan Kertas Tak Bisa Didaur Ulang, McDonalds Kena Protes Pelanggan

News | Selasa, 06 Agustus 2019 | 10:58 WIB

Terkini

Dokter Penyakit Dalam Ingatkan Wabah Seperti Hantavirus Rentan pada Diabetes: Makanannya Gula!

Dokter Penyakit Dalam Ingatkan Wabah Seperti Hantavirus Rentan pada Diabetes: Makanannya Gula!

Health | Minggu, 10 Mei 2026 | 13:31 WIB

Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman

Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman

Health | Sabtu, 09 Mei 2026 | 14:56 WIB

Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?

Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 22:05 WIB

Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?

Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 15:29 WIB

Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial

Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 15:22 WIB

Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?

Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 11:49 WIB

Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak

Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 08:17 WIB

Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa

Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 08:01 WIB

Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak

Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak

Health | Kamis, 07 Mei 2026 | 14:30 WIB

Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?

Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?

Health | Kamis, 07 Mei 2026 | 13:24 WIB