Ilmuwan Kembangkan Vaksin Campak untuk Lawan Virus Corona Covid-19

Silfa Humairah Utami, Shevinna Putti Anggraeni

Jum'at, 17 April 2020 | 08:14 WIB
Ilmuwan Kembangkan Vaksin Campak untuk Lawan Virus Corona Covid-19
Ilustrasi vaksin campak (shutterstock)

Suara.com - Saat ini sudah ada 115 vaksin yang telah dikembangkan di seluruh dunia untuk melawan virus corona Covid-19. Institute Pasteur Perancis pun sedang berupaya menggunakan vaksin campak untuk melawan virus corona Covid-19.

Para ilmuwan menggunakan vaksin campak untuk mendorong tubuh memproduksi antibodi yang bisa melawan virus corona Covid-19.

Koalisi Norwegia untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi pun telah menyetujui dan mendanai penelitian praklinis lembaga tersebut. Vaksin campak ini salah satu dari 8 kandidat vaksin lainnya yang didukung CEPI.

Tetapi, ahli virologi Frederic Tangy, kepala laboratorium inovasi vaksin institut mengatakan imunisasi salan satu solusi nyata untuk pandemi virus corona Covid-19.

"Menurut yang kita ketahui potensi menular virus corona Covid-19 mencapai 70 persen populasi manusia yang perlu imunisasi," kata Tangy kepada Business Insider dikutip dari sciencealert.com.

ilustrasi vaksin campak (shutterstock)
ilustrasi vaksin campak (shutterstock)

Institut Pasteur memiliki rekam jejak yang patut ditiru dalam memerangi penyakit menular. Institut Pasteur ini dibuka pada tahun 1888 silam.

Louis Pasteur, perintis biokimia Perancis ini pernah mengembangkan vaksin antraks dan rabies. Pada tahun-tahun berikutnya sejak di buka, Pasteur juga mencari obat untuk demam tifoid, tuberkulosis, polio, demam kuninh, HIV dan lainnya.

Saat ini, sudah hampir 133 departemen di Institute Pasteur yang fokus dalam melawan virus corona Covid-19.

Pada bulan Januari, para ilmuwan Pasteur menyelesaikan sequencing genom lengkap pertama dari kasus virus corona Covid-19 di Eropa, hanya beberapa hari setelah COVID-19 kasus pertama Perancis dilaporkan.

baca juga

Sequencing genom itu adalah langkah penting dalam memahami jika virus telah bermutasi secara signifikan dari penemuan awalnya di Wuhan, Cina.

Kemudian lembaga ini telah menguji vaksin campak yang digunakan untuk melawan virus corona Covid-19.

Pandemi Virus Corona Covid-19. (Shutterstock)
Pandemi Virus Corona Covid-19. (Shutterstock)

Kini, tim Tangy pun sedang memodifikasi vaksin campak standar untuk memasukkan protein SARS-CoV-2 tunggal yang menyebabkan penyakit corona Covid-19. Mereka berharap vaksin ini akan memicu respons kekebalan tubuh yang setara dengan vaksin MMR.

Vaksin campak ini digunakan untuk menginduksi kekebalan yang kuat dan tahan lama setelah injeksi tunggal. Penggunaan vaksin campak berlisensi, artinya proses pengujian dan paten akan berjalan lebih cepat.

"Setiap pabrik di dunia dapat menghasilkan vaksin untuk campak," kata Tangy.

Strategi ini telah menghasilkan hasil yang menjanjikan untuk vaksin prototipe institutw terhadap chikungunya, penyakit yang menginfeksi jutaan orang di Asia Selatan dan Afrika setiap tahun.

Penyakit ini menyebabkan pembengkakan sendi, nyeri otot dan ruam. Selain itu, chikungunya juga terbukti bisa menyebabkan kefatalan pada orang yang sangat muda dan tua dan orang dengan masalah kesehatan yang mendasarinya.

Setelah 7 tahun uji klinis, vaksin chikungunya akhirnya tersedia setelah melewati 3 fase.

"Kami menganggap proses itu cepat," kata Tangy. Penelitian mengenai vaksin corona Covid-19 institut ini bergerak dengan kecepatan sangat tinggi

Kapan jadwal untuk vaksinnya?

Jika kandidat vaksin campak ini terbukti bisa mengatasi virus corona Covid-19, mitra lembaga di Pusat Penelitian Vaksin Universitas Pittsburgh itu dapat memulai pengujian hewan dalam hitungan bulan. 

Langkah selanjutnya adalah perusahaan biotek Austria Themis untuk membuat ratusan botol untuk uji klinis.

Tangy memperkirakan vaksin itu bisa mulai diuji pada orang dalam setahun. Dia memeringatkan bahwa para peneliti perlu waktu yang cukup untuk menguji efek samping vaksin sehingga mereka dapat mencegah atau mengurangi mereka.

"Masalah yang sangat sensitif dengan vaksin untuk virus semacam itu adalah respon imun, yang mungkin jauh lebih mematikan daripada penyakit itu sendiri," katanya," jelasnya. Padahal reaksi vaksin yang tidak terkendali akan berbahaya

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kisah Belasan Tahanan Polsek Kabur, Berjemur Sambil Nyanyi Tiba-tiba Senyap

Kisah Belasan Tahanan Polsek Kabur, Berjemur Sambil Nyanyi Tiba-tiba Senyap

Jabar | Jum'at, 17 April 2020 | 07:10 WIB

Cerita Warga soal Tahanan Kabur, Lari Telanjang hingga Dikasih Sarung

Cerita Warga soal Tahanan Kabur, Lari Telanjang hingga Dikasih Sarung

Jabar | Jum'at, 17 April 2020 | 06:10 WIB

Ruam Merah Jadi Gejala Baru Virus Corona, Dokter Kulit Beberkan Sebabnya

Ruam Merah Jadi Gejala Baru Virus Corona, Dokter Kulit Beberkan Sebabnya

Health | Jum'at, 17 April 2020 | 08:00 WIB

Puskesmas Terkepung Wabah Corona, 58 Perawat di Sumbar Terpaksa Diisolasi

Puskesmas Terkepung Wabah Corona, 58 Perawat di Sumbar Terpaksa Diisolasi

News | Kamis, 16 April 2020 | 19:24 WIB

Terkini

Dorong Mitigasi Bencana Jabar, Iwan Suryawan Minta Kalkulasi Anggaran Realistis dan Nyata

Dorong Mitigasi Bencana Jabar, Iwan Suryawan Minta Kalkulasi Anggaran Realistis dan Nyata

Jabar | Kamis, 01 Oktober 2026 | 00:57 WIB

Bantu UMKM Hadapi Biaya Operasional Membengkak, Toco Academy Bagikan Strategi Pecah Telur di Bogor

Bantu UMKM Hadapi Biaya Operasional Membengkak, Toco Academy Bagikan Strategi Pecah Telur di Bogor

Jabar | Kamis, 01 Oktober 2026 | 00:45 WIB

Mengenal Praktik Bisnis Hijau: Tren Gaya Hidup Berkelanjutan yang Kini Merambah Dunia Industri

Mengenal Praktik Bisnis Hijau: Tren Gaya Hidup Berkelanjutan yang Kini Merambah Dunia Industri

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 23:57 WIB

Kemenko PMK Dorong Penguatan Jejaring Alumni Beasiswa untuk Talenta Nasional

Kemenko PMK Dorong Penguatan Jejaring Alumni Beasiswa untuk Talenta Nasional

News | Rabu, 30 September 2026 | 23:12 WIB

Spin Off InfraCo Tahap 2 Rampung, Nilai Transaksi Rp 49,9 T

Spin Off InfraCo Tahap 2 Rampung, Nilai Transaksi Rp 49,9 T

Bisnis | Rabu, 30 September 2026 | 23:01 WIB

Kuliah Hukum di Era Digital, FH Unika Atma Jaya Raih Penghargaan

Kuliah Hukum di Era Digital, FH Unika Atma Jaya Raih Penghargaan

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 23:01 WIB

Kewajiban Sertifikasi Halal Makin Dekat, Industri Kosmetik dan Farmasi Siap Sambut Aturan Baru

Kewajiban Sertifikasi Halal Makin Dekat, Industri Kosmetik dan Farmasi Siap Sambut Aturan Baru

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 22:41 WIB

Ruang Bersama Indonesia Pertama di Palembang, Kilang Plaju Dukung Pemberdayaan Masyarakat

Ruang Bersama Indonesia Pertama di Palembang, Kilang Plaju Dukung Pemberdayaan Masyarakat

Sumsel | Rabu, 30 September 2026 | 22:34 WIB

Peringatan G30S di Medan, Masyarakat Sipil Soroti Pelanggaran HAM-MBG

Peringatan G30S di Medan, Masyarakat Sipil Soroti Pelanggaran HAM-MBG

Sumut | Rabu, 30 September 2026 | 22:20 WIB

JALA PRT Soroti Pengajuan JR UU PPRT, Minta Pemohon Pahami Proses Pembentukan UU

JALA PRT Soroti Pengajuan JR UU PPRT, Minta Pemohon Pahami Proses Pembentukan UU

News | Rabu, 30 September 2026 | 22:15 WIB

×