alexametrics

Dokter Tirta: Ini Penyebab Kenapa Indonesia Sulit Mengendalikan Pandemi Covid-19

Yasinta Rahmawati | Aflaha Rizal Bahtiar
Dokter Tirta: Ini Penyebab Kenapa Indonesia Sulit Mengendalikan Pandemi Covid-19
Dokter Tirta Mandira Hudhi. [Instagram/@dr.tirta]

"Jawabannya simpel kalau pandemi ingin selesai, yakni kalau vaksinasi sudah menyentuh 80 persen," ujar dokter Tirta.

Suara.com - Banyak yang bertanya kapan Covid-19 akan selesai. Meski wabah ini sudah terjadi pada awal tahun 2020 kemarin, wabah tersebut telah membuat sebagian masyarakat kesulitan. Baik itu UMKM maupun pekerja.

Hal ini diungkap oleh dokter, influencer sekaligus pengusaha dr. Tirta. Ia mengatakan, Indonesia bisa selesai jika vaksinasi menyentuh 80 persen.

"Jawabannya simpel kalau pandemi ingin selesai, yakni kalau vaksinasi sudah menyentuh 80 persen. Kenapa? Karena itu syarat untuk herd immunity, sehingga virus ini kemampuan infeksinya akan menurun," ungkapnya pada acara Yuk Sehat Fisik dan Mental, baru-baru ini.

Dokter Tirta mengatakan, vaksinasi juga melambat dan bermasalah. Dikarenakan capaian vaksinasi pada bulan Mei lalu baru 3 persen. Sehingga dikebut sampai bulan Juni menjadi 10 persen.

Baca Juga: Jangan Kendor! Pasien Covid-19 yang Sembuh di Balikpapan Bertambah 111 orang

"Akhirnya sekarang diprioritaskan, yang divaksin itu di area yang butuh perhatian lebih. Makanya PPKM diberlakukan," ungkapnya lebih lanjut.

Dokter Tirta di webinar "Yuk Sehat Fisik dan Mental"
Dokter Tirta di webinar "Yuk Sehat Fisik dan Mental"

Diharapkan PPKM yang dilakukan di Jakarta bisa meningkatkan herd immunity, di mana masyarakat sudah menjalankan program vaksinasi Covid-19.

Selain itu, jika Jakarta sudah terbentuknya herd immunity, dokter Tirta mengatakan herd immunity akan terjadi saat PPKM dilakukan di daerah.

Namun, PPKM juga sebagian masih bermasalah. Salah satunya angka kasus Covid-19 meningkat. Bahkan dokter Tirta mengatakan di hari keenam PPKM, malah belum bagus.

"Selama PPKM hari keenam malah nggak bagus. Sudah ekonominya tiarap, sekarang angka Covid-19 sudah di angka 30.000. Tentu ini harus jadi bahan evaluasi, kok bisa sih sudah PPKM Darurat, rakyat udah jadi korban kok tetap naik. Berarti kita harus teliti,” ungkapnya.

Baca Juga: Epidemiolog Unsri Saran Sumsel Tambah Nakes, Pasien COVID 19 Meningkat

"PPKM bisa nggak ditiadakan? Lho PPKM saja masih kayak gini gimana nggak. Kenapa seperti ini? Ini efek dari tahun lalu, dan kita terlalu menyepelekan, penanganan nggak bener, terlalu glorifikasi, sehingga dampaknya ke ekonomi," pungkasnya.

Komentar