- Budaya 'lelaki tidak bercerita' membuat banyak pria memendam emosi, yang berisiko memicu berbagai masalah kesehatan.
- Menurut Dr. Wei Siang Yu, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko obesitas hingga penyakit kronis seperti diabetes.
- Toxic masculinity membuat pria lebih sulit mengekspresikan emosi, padahal kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Suara.com - Istilah "lelaki tidak bercerita" menjadi hal yang lumrah di masyarakat. Sayangnya, kebiasaan memendam emosi dan perasaan dapat menjadi "gerbang kehancuran" bagi lelaki.
Pasalnya, hal ini berisiko memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari obesitas hingga meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes.
Fakta tersebut diungkapkan Founder sekaligus Chairman Borderless Healthcare Group (BHG), Dr. Wei Siang Yu, saat memperkenalkan program kesehatan jangka panjang berbasis artificial intelligence (AI), Longevity 5.0, beberapa waktu lalu.
Dr. Wei mengatakan kesehatan mental pria sama pentingnya dengan kesehatan mental perempuan.
Menurutnya, pria kerap terbelenggu oleh budaya toxic masculinity, yakni anggapan bahwa laki-laki harus selalu kuat dan tidak boleh menangis. Kondisi tersebut membuat pria lebih sulit mengekspresikan emosi dibandingkan perempuan.
"Bukan hanya kanker atau penyakit lain, kesehatan mental bagi laki-laki itu sebenarnya sangat penting karena kesejahteraan emosional bagi laki-laki. Laki-laki biasanya sulit mengekspresikan diri," ujar Dr. Wei saat memperkenalkan dua platform kesehatan khusus gender, SheSpan.life untuk perempuan dan Longevity.men untuk pria.

"Sehingga mereka mungkin tidak berbicara dengan orang lain dengan mudah tentang masalah yang mungkin mereka pikirkan. 'Aku kuat, aku kuat'. Jadi laki-laki, jika mereka menyimpan semuanya di dalam," sambungnya.
Menurut Dr. Wei, kondisi tersebut membuat pria lebih mudah mengalami stres dan merasa tidak bahagia.
Sebagian kemudian menjadikan makanan sebagai pelarian, yang pada akhirnya memicu kenaikan berat badan hingga obesitas.
Obesitas kemudian menjadi pintu masuk berbagai penyakit, mulai dari gangguan mobilitas, radang sendi, hipertensi, hingga diabetes.
Diabetes bahkan kerap dijuluki sebagai "ibu dari berbagai penyakit" karena dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi kronis lainnya.
"Lalu mereka tidak bahagia, lalu mereka makan dan menjadi besar, setelah itu muncul masalah lutut, masalah paha, diabetes," papar Dr. Wei.
Selain itu, lelaki juga menghadapi tantangan dari sisi sosial. Saat mengalami stres atau keterpurukan, sebagian memilih melampiaskannya melalui kebiasaan yang tidak sehat, seperti merokok atau mengonsumsi minuman beralkohol.
"Masalah psiko yang sudah saya bicarakan tadi, masalah sosial dengan teman. Oh, oke kita minum, merokok, dan sebagainya. Hal-hal ini secara bersamaan menghancurkan pria," kata Dr. Wei.
Karena itu, menurut Dr. Wei, kesehatan perlu dijaga secara menyeluruh, mencakup aspek fisik melalui olahraga, kesehatan mental, keseimbangan hormonal, hingga aspek sosial agar kualitas hidup tetap optimal.