- Para ahli membahas perkembangan terapi sel punca dalam acara tahunan di RSCM Kencana pada 29 Agustus.
- Kimia Farma dan RSCM memperkenalkan produk sel punca serta sekretom bernama StemXera pada April 2026.
- Pengembangan terapi regeneratif ini bertujuan memperluas akses layanan kesehatan berkualitas dan berstandar keamanan tinggi di Indonesia.
Suara.com - Perkembangan teknologi medis terus membuka peluang baru dalam penanganan berbagai masalah kesehatan. Salah satunya melalui regenerative medicine atau kedokteran regeneratif.
Ini merupakan pendekatan medis yang berupaya memanfaatkan kemampuan sel dan komponen biologis tubuh untuk membantu memperbaiki, meregenerasi, atau memulihkan jaringan yang mengalami kerusakan.
Salah satu teknologi yang berkembang dalam bidang tersebut adalah pemanfaatan sel punca atau stem cell beserta turunannya, termasuk secretome. Pendekatan ini kini menjadi bagian dari diskusi ilmiah dan pengembangan layanan kesehatan di Indonesia.
Perkembangan pengobatan regeneratif tersebut menjadi salah satu topik yang dibahas dalam Talk Show Awam “Update Terapi Sel Punca & Turunannya di Indonesia”, yang merupakan rangkaian ACTO-ASPI Annual Meeting 2026.
Acara yang mempertemukan peneliti, dokter, regulator, akademisi, dan pelaku industri dari berbagai negara itu digelar pada Sabtu (29/8) di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana.
Dalam forum tersebut, pembahasan mengenai terapi sel punca tidak hanya menyoroti perkembangan teknologi, tetapi juga pentingnya pemahaman masyarakat mengenai manfaat, keamanan, serta bukti ilmiah yang mendasarinya.
Secara medis, terapi berbasis sel punca tengah dikembangkan untuk berbagai kebutuhan. Di bidang ortopedi, misalnya, teknologi regeneratif diteliti untuk membantu menangani kondisi degeneratif sendi, termasuk osteoarthritis atau pengapuran sendi.
Sementara di bidang neurologi, terapi regeneratif terus menjadi bagian dari penelitian untuk sejumlah kondisi tertentu, termasuk stroke.
Pengembangan juga merambah bidang dermatologi dan estetika. Sejumlah pemanfaatan yang tengah dikembangkan antara lain untuk kerontokan rambut, peremajaan kulit, hingga kondisi hiperpigmentasi seperti melasma.
Di tengah perkembangan tersebut, edukasi menjadi aspek yang tidak kalah penting. Direktur Komersial Kimia Farma, Hanadi Setiarto, mengatakan kemajuan teknologi regenerative medicine perlu berjalan beriringan dengan pemahaman masyarakat.
“Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang regenerative medicine membuka peluang baru dalam dunia kesehatan, namun perlu diimbangi dengan edukasi yang memadai kepada masyarakat,” ujar Hanadi, Sabtu (29/8).
Salah satu produk yang diperkenalkan dalam forum tersebut adalah StemXera, portofolio produk sel punca dan sekretom yang dikembangkan Kimia Farma bersama RSCM sejak 2013.
Produk tersebut resmi diperkenalkan pada April 2026 dan dikembangkan sebagai bagian dari upaya menghadirkan terapi regeneratif berbasis riset dan teknologi.
Menurut Hanadi, tantangan pengembangan produk bioteknologi bukan semata menghadirkan inovasi, tetapi juga membangun pemahaman dan kepercayaan publik terhadap teknologi yang berkembang.
“Bagi Kimia Farma, inovasi harus berjalan beriringan dengan edukasi dan perluasan akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas, aman, serta bertanggung jawab,” katanya.