- Bayi berusia 24 hari meninggal dunia di RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada Minggu (11/10/2026) setelah diberi telur mentah.
- Nenek korban memberikan telur mentah saat bayi demam tanpa pengawasan ibu untuk menurunkan suhu tubuh secara tradisional.
- Pemberian telur mentah pada bayi di bawah enam bulan sangat berbahaya karena pencernaan belum sempurna dan berisiko bakteri.
Suara.com - Bayi berusia 24 hari berinisial A dilaporkan meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu (11/10/2026) pagi pukul 07.10 WIB.
Peristiwa tersebut terjadi setelah korban sempat mendapatkan perawatan intensif selama tiga hari pascadiduga diberikan asupan telur mentah oleh pihak keluarga.
Insiden ini sempat menyita perhatian publik di media sosial setelah pihak keluarga membagikan kisah tersebut guna mencari bantuan penanganan medis.
Menurut informasi yang dihimpun, bayi A awalnya mengalami kenaikan suhu tubuh atau demam. Di tengah kondisi tersebut, nenek korban diduga memberikan telur mentah saat bayi berada di luar pengawasan sang ibu, dengan kepercayaan tradisional bahwa bahan tersebut dapat menurunkan panas.
Setelah pemberian telur mentah tersebut, kondisi kesehatan bayi A justru memburuk hingga mengalami kejang sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan darurat.
Humas RSUD Dr. Soetomo membenarkan bahwa pasien bayi A telah meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di ruang perawatan khusus.
Kendati demikian, pihak manajemen rumah sakit menyatakan belum dapat menyampaikan secara rinci mengenai penyebab pasti kematian maupun hasil pemeriksaan medis lanjutan terkait hubungan kausalitas langsung antara konsumsi telur mentah dan kondisi akhir pasien.
Risiko Medis Pemberian Makanan Padat pada Bayi Baru Lahir
Secara medis, bayi berusia di bawah enam bulan dilarang keras diberikan makanan padat atau telur dalam bentuk apa pun, terutama dalam kondisi mentah. Para ahli medis menggarisbawahi beberapa risiko utama pemberian makanan dini pada bayi:
- Sistem Pencernaan Belum Sempurna: Organ pencernaan, enzim pengurai protein, dan dinding usus bayi baru lahir belum terbentuk secara matang. Pada rentang usia di bawah enam bulan, bayi hanya boleh mengonsumsi Air Susu Ibu (ASI) eksklusif atau susu formula khusus sesuai rekomendasi medis.
- Bahaya Kontaminasi Bakteri: Penggunaan telur mentah memiliki risiko tinggi paparan bakteri Salmonella yang dapat memicu infeksi sistemik berat, dehidrasi parah, kondisi syok, hingga kegagalan fungsi organ.
- Risiko Kerusakan Saluran Cerna: Pemberian asupan padat pada bayi baru lahir berpotensi memicu peradangan usus, luka, penyumbatan, hingga kebocoran usus yang berdampak fatal bagi keselamatan jiwa.
Sesuai panduan medis, bahan makanan seperti telur baru boleh diperkenalkan kepada anak saat memasuki usia enam bulan sebagai bagian dari Makanan Pendamping ASI (MPASI), dengan ketentuan harus dimasak hingga matang sempurna.
Lebih rinci lagi, telur mentah atau setengah matang sering kali terkontaminasi oleh bakteri Salmonella. Bakteri ini bisa berada di luar cangkang telur akibat kotoran ayam, maupun di dalam kuning/putih telur sejak telur tersebut terbentuk di dalam tubuh ayam.
Pada orang dewasa sehat, infeksi Salmonella mungkin hanya menyebabkan diare atau kram perut yang bisa sembuh sendiri. Namun pada bayi, dampaknya bisa jauh lebih fatal.
Mengapa Bisa Menyebabkan Kematian pada Bayi?
Infeksi Salmonella pada bayi dapat berkembang dengan sangat cepat menjadi kondisi medis darurat berikut:
- Dehidrasi Berat: Gejala utama infeksi ini adalah muntah-muntah dan diare parah (terkadang berdarah). Bayi memiliki volume tubuh yang kecil, sehingga kehilangan sedikit cairan saja dapat menyebabkan dehidrasi berat dalam hitungan jam. Jika tidak segera ditangani, dehidrasi berat memicu syok hipovolemik (kegagalan sirkulasi darah) yang berujung pada kematian.
- Bakteremia dan Sepsis: Karena sistem imun bayi masih lemah, bakteri Salmonella dapat dengan mudah menembus dinding usus dan masuk ke dalam aliran darah (bakteremia). Ketika bakteri menyebar ke seluruh tubuh, hal ini memicu sepsis, yaitu respons peradangan ekstrem di seluruh tubuh yang dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ multisistem dan kematian mendadak.
- Meningitis: Aliran darah yang terkontaminasi bakteri dapat membawa Salmonella hingga ke otak, menyebabkan infeksi selaput otak (meningitis). Kondisi ini sangat mematikan bagi bayi atau dapat meninggalkan cacat neurologis permanen.
DISCLAIMER: Artikel ini disajikan murni untuk pemenuhan hak informasi publik mengenai peristiwa medis dan edukasi kesehatan masyarakat. Seluruh rincian kronologi, keterangan waktu, dan pernyataan rumah sakit dikutip secara presisi dari konfirmasi resmi RSUD Dr. Soetomo serta rujukan medis terkait.