indotnesia

Wah, Korea Selatan Lagi-lagi Jadi Negara dengan Tingkat Kelahiran Terendah di Dunia

Indotnesia Suara.Com
Jum'at, 26 Agustus 2022 | 16:01 WIB
Wah, Korea Selatan Lagi-lagi Jadi Negara dengan Tingkat Kelahiran Terendah di Dunia
Tingkat kelahiran di Korea Selatan selama dua tahun terakhir terus menurun. (Pexels/Lisa Fotios)

Indotnesia - Korea Selatan memang sukses mencetak penyanyi dan drama yang digemari banyak orang. Namun, negara ini lagi-lagi harus menghadapi kenyataan tingkat kelahiran yang terendah di dunia.

Melansir CNN, Jumat (26/8/2022), dalam data terbaru, setiap perempuan di Korea Selatan rata-rata memiliki 0,81 anak pada 2021.  Angka tersebut menurun 0,03% dibandingkan tahun sebelumnya.

Sebagai perbandingan, tingkat kelahiran bayi di Amerika Serikat adalah 1,6, dan Jepang tercatat 1,3 per perempuan. Sementara, tingkat kelahiran di Indonesia 2,29 per perempuan pada 2019.

Sementara, sejumlah negara Afrika, mencetak tingkat kelahiran tertinggi di dunia, yakni 5 atau 6. Korea Selatan butuh tingkat kelahiran di angka 2,1 agar populasi bisa stabil.

Tingkat kelahiran di Negeri Gingseng itu telah menurun sejak 2015. Pada 2020, negara tersebut mencatatkan lebih banyak kematikan dibanding kelahiran.

Dalam laporan statistik 2021 itu juga terlihat perempuan di Korea Selatan memilih memiliki anak di usia sekitar 33,4 tahun, atau 0,2 tahun lebih tua dibanding tahun sebelumnya.

Para ahli khawatir dengan populasi di sana karena demografis yang menurun, jumlah usia produktif lebih sedikit ketimbang lansia yang terus berkembang.

Pada November 2021, 16,8% warga Korea Selatan berusia di atas 65 tahun, sementara hanya 11,8% berusia 14 tahun ke bawah. Data sensus menunjukkan populasi usia produktif (15-64 tahun) tercatat menurun 0,9% periode 2020-2021.

Terus kenapa ya perempuan Korea Selatan cenderung memiliki sedikit anak, bahkan hanya satu?

Baca Juga: Hari Anjing Sedunia, Kenapa Pelihara Anjing Bisa Bikin Kita Bahagia?

Jawabannya, budaya kerja yang serba menuntut, upah yang stagnan, biaya hidup meningkat, dan harga rumah yang meroket. Mereka jadi tidak punya waktu, uang, dan kapasitas emosional untuk berkencan.

Perempuan di sana lebih mengutamakan karier di pasar kerja yang sangat kompetitif. Di sisi lain, budaya patriarki dan ketidaksetaraan gender masih ada.

Pemerintah pada akhirnya membuat program untuk mengatasi rendahnya tingkat kelahiran, seperti cuti melahirkan untuk ibu dan ayah, bahkan memperpanjang cuti berbayar untuk ayah.

Pria didorong untuk mengambil peran lebih aktif dalam pengasuhan anak dan pekerjaan rumah tangga.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI