Indotnesia - Tagar Manggarai jadi trending Twitter pada Kamis (6/10/2022) setelah akun @txtdrjkt mengunggah sebuah video yang memperlihatkan kesibukan saat harus transit di Stasiun Manggarai.
Dalam video yang diunggah ulang dari dari akun TikTok @dikss.ky tersebut, terlihat sejumlah orang berlarian di dalam stasiun. Keterangan dalam video juga menunjukkan bahwa ketika transit di Manggarai harus bergerak cepat agar tidak ketinggalan kereta.
“Gue emang setia dalam berteman, tapi kalo soal transit di manggarai maaf kita urus hidup masing-masing,” tulis keterangan video.
Unggahan video di Twitter itu lantas banjir komentar warganet. Banyak yang menyebut bahwa stasiun yang terletak di wilayah Manggarai tersebut kerap mengalami tumpukan kepadatan, terutama saat jam berangkat dan pulang kerja.
“Samaaa ih, ini gue abis dari manggarai jg. Rame bgt mode zombie,” tulis akun @_doyoungiii.
“gila ya kalo pagi kereta arah manggarai sampe gabisa masuk,” tulis akun @bbyxblue8.
“Kalo di Manggarai apalagi pas rush hour tuh emang kudu barbar berubah diri jadi reog, lo klemar-klemer mah gudbai aja deh body terhantam kena senggol bacok makhluk-makhluk ganas,” tulis akun @dewizard_.
Dikenal sebagai stasiun dengan lalu lintas tersibuk di Indonesia, bagaimana awal mula sejarah Stasiun Manggarai hingga kini jadi tempat transit bagi sejumlah jalur commuter line atau KRL di Jakarta?
Mengenal Stasiun Manggarai
Baca Juga: Lirik Lagu Kanjuruhan Ciptaan Iwan Fals Punya Makna dan Pesan Mendalam
Pembangunan Stasiun Manggarai dimulai pada tahun 1914 yang dipimpin oleh arsitek Belanda Ir. J. Van Gendt. Penggarapannya selesai dan mulai diresmikan pada 1 Mei 1918.
Di stasiun ini, kereta listrik pertama kali dengan lintas Jakarta-Tanjung Priok mulai dioperasikan pada 1925 bertepatan dengan ulang tahun ke-50 Staatsspoorwegen atau SS, perusahaan kereta api Negara pada jaman Belanda.
Pembangunan kembali dilanjutkan dengan menggarap proyek elektrifikasi yang selesai pada 1 Mei 1927.
Sebagai bagian dari peninggalan bangunan di masa lalu, Stasiun Manggarai memiliki nilai historis dalam upaya pertahanan kekuasaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Stasiun ini merupakan stasiun tempat dimana Soekarno-Hatta yang pada saat itu menjabat sebagai Presiden dan Wakil Presiden, mempersiapkan strategi pemindahan Ibu Kota sementara ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946.
Selain itu, Stasiun Manggarai juga jadi tempat kedatangan Panglima Besar Jenderal Soedirman saat hendak menghadiri perundingan gencatan senjata di Jakarta. Kedatangannya pada 1 November 1946 itu mendapatkan sambutan hangat dan sorak sorai dari masyarakat.
Memiliki peran penting sebagai tempat transit dalam sejumlah peristiwa bersejarah, stasiun ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
Hingga kini, Stasiun Manggarai melayani pemberhentian KRL Commuter Line tujuan Jakarta Kota, Bogor, Tanah Abang, dan Bekasi.
Rencananya, stasiun ini bakal menjadi stasiun sentral, yaitu pusat pelayanan perjalanan kereta komuter, bandara dan jarak jauh dengan 18 peron.
Dalam sehari, setidaknya ada 726 perjalanan kereta melintas dengan sekitar 100 ribu penumpang yang membludak. Jika rencana stasiun sentral diterapkan, diperkirakan jumlah kepadatan bakal meningkat 2-3 kali.