Suara Joglo - BRI Liga 1 musim 2023/2024 telah memasuki pekan kesebelas, dan selama jeda di FIFA Matchday, klub-klub telah melakukan evaluasi menyeluruh. Evaluasi ini tidak hanya mencakup aspek teknis tetapi juga aspek-aspek lain yang relevan.
Salah satu hal yang dievaluasi adalah penyelenggaraan pertandingan BRI Liga 1 musim ini. Data dari jumlah penonton yang hadir dalam pertandingan menunjukkan bahwa Persija Jakarta merupakan tim yang paling sukses dalam menarik dukungan langsung dari para suporternya di laga kandang.
Dalam enam pertandingan kandang yang diadakan di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Persija Jakarta berhasil mendatangkan total 167.620 Jakmania yang memberikan dukungan langsung.
Rata-rata, ada 27.937 suporter yang hadir dalam setiap pertandingan kandang Persija Jakarta, yang merupakan angka tertinggi di antara semua klub lainnya dalam liga ini. Namun, ada juga sorotan terhadap klub yang memiliki jumlah penonton paling rendah.
Rans Nusantara merupakan tim dengan jumlah penonton terendah dalam liga ini. Meskipun bermain di Stadion Maguwoharjo, Sleman, tim ini hanya berhasil menarik 461 penonton dalam lima pertandingan kandang.
Hal ini cukup mencolok mengingat Rans Nusantara berada di papan atas klasemen dengan perolehan 19 poin. Namun, situasi ini bisa dimaklumi karena Rans Nusantara belum memiliki markas tetap yang stabil.
Klub lain yang juga mengalami tantangan dalam menarik dukungan langsung dari suporter adalah Arema FC. Meskipun sebenarnya memiliki basis suporter yang besar, Arema FC harus bermain di luar kandang dengan Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, sebagai homebase mereka. Dalam lima pertandingan kandang, hanya ada 895 penonton yang memberikan dukungan langsung.
Ada beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab kurangnya dukungan untuk Arema FC. Pertama, ada dampak dari Tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada 1 Oktober 2022 yang menelan banyak korban jiwa. Tragedi ini membuat sejumlah Aremania memilih untuk tidak lagi hadir di tribun penonton.
Faktor kedua adalah kenaikan harga tiket yang mencapai tiga kali lipat lipat dari harga sebelumnya. Tribune ekonomi yang biasanya dijual seharga 50 ribu rupiah naik menjadi 150 ribu rupiah selama masa homebase di Bali.
Baca Juga: Ikut Beri Susu Baby Sophia, Jari Lentik Jess No Limit Dikomentarin: Awas Bayinya Kena Cakar
Hal ini disebabkan oleh biaya penyelenggaraan yang tinggi dan pembatasan jumlah penonton. Sebagai hasilnya, rata-rata penonton di setiap pertandingan kandang Arema FC hanya sekitar 179 orang.
Untuk mengatasi situasi ini, manajemen Arema FC sedang melakukan upaya untuk pindah kandang kembali ke Jawa Timur. Mereka tidak dapat bermain di Stadion Gajayana, Malang, karena masih belum direnovasi.
Pelatih Arema FC, Fernando Valente, juga mengeluhkan kondisi lapangan Stadion Gajayana yang tidak ideal, dengan permukaan yang bergelombang. Kondisi ini menghambat pelaksanaan skema permainan yang diinginkan dan juga meningkatkan risiko cedera pemain.
Manajemen klub berharap bahwa dengan pindah kandang ke Jawa Timur, mereka dapat lebih dekat dengan suporter dan mengurangi beban perjalanan tim.