"Jokowi sangat panik dan berupaya menjegal pencapresan Anies Baswedan. Semakin dekat ke Pilpres, semakin kotor permain politik licik Jokowi. Kelakuan brutal itu merusak tatanan negara dan membuat demokrasi diintimidasi oleh watak kekuasaan otoriter dan curang," ungkapnya.
"Tidak salah bila setiap gerak-gerik Jokowi diamati rakyat dengan penuh kewaspadaan. Rakyat muak dan makin resah: Pak Jokowi modus apalagi untuk menjegal Anies," sambung Faizal Assegaf.
Lanjut, ia mengatakan bahwa pertanyaan terkait modus dalam menjegal Anies itu sebagai sikap perlawanan rakyat atas praktek kekuasaan.
"Pertanyaan itu muncul sebagai sikap perlawanan rakyat atas praktek kekuasaan yang semakin bobrok. Kenapa Jokowi begitu panik dan khawatir Anies Capres? Jawabannya sederhana: Anies dan rakyat makin terkonsolidasi menggalang perubahan untuk menghentikan praktek kekuasaan yang korup dan tidak berkeadilan," paparnya.
"Anies berhasil menyatukan kesadaran rakyat dari berbagai level dan keragaman. Semakin membesar desakan perubahan, semakin membuat panik Jokowi dan kelompoknya," tandasnya.
Sementara itu, Jokowi menyampaikan pernyataannya terkait akan cawe-cawe itu pada saat bertemu dengan para pemimpin redaksi sejumlah media serta content creator seperti Akbar Faisal, Helmy Yahya, dan Arie Putra. Jokowi menegaskan cawe-cawe yang dimaksudnya tentu masih dalam koridor aturan.
Jokowi mengatakan cawe-cawe yang dimaksud terkait Pemilu 2024. Jokowi beralasan Indonesia hanya memiliki waktu 13 tahun ke depan demi menjadi negara maju.
Untuk saat ini Jokowi menyebut Indonesia ada di posisi upper middle income. Sedangkan untuk menjadi negara maju, pendapatan per kapita Indonesia harus berada di kisaran USD 10.000 per tahun.
Baca Juga: Akui Sulit Dibantah, Said Didu Beberkan Penjegalan Terbuka Terhadap Anies Baswedan
"Kita ini sekarang ada di middle income walaupun di level upper tapi kita masih di level middle income. Nah untuk keluar dari middle income itu, untuk jadi negara maju itu perolehan pendapatan per kapitanya minimal 10 ribu," kata Jokowi.
"Untuk bisa keluar kita cuma punya waktu 13 tahun dan itu sangat-sangat tergantung pada calon presiden di masa yang akan datang yang akan bisa membawa Indonesia ke next level, karena alasan itulah kemudian saya akan cawe-cawe untuk itu," imbuh Jokowi.