Kader Partai Demokrat, Eko Jhones menyoroti reaksi dari Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai NasDem Ahmad Ali yang mengatakan Demokrat terlalu memaksakan Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk menjadi calon wakil presiden (cawapres) bagi Anies Baswedan.
Hal ini ditanggapi Eko Jhones dalam akun Twitter pribadi miliknya. Dalam cuitannya, Eko Jhones mengatakan bahwa yang sebenarnya membuat kegaduhan dari NasDem itu ialah Ahmad Ali.
Ia pun curiga dengan Ahmad Ali memang tidak suka dengan sosok AHY. Pasalnya, Ahmad Ali pun tampak dekat dengan mantan Ketum Partai Demokrat Anas Urbaningrum.
"Sebenernya yang bikin gaduh dari NasDem tuh Ahmad Ali. Gw curiga dia emang gak suka mas AHY soalnya dia kawannya Anas Urbaningrum," ungkap Eko Jhones dikutip Suara Liberte dari akun Twitter pribadi miliknya @ekojhones77, Sabtu (10/6).
Eko Jhones juga mengatakan bahwa jika AHY diumumkan jadi cawapres Anies Baswedan, Ahmad Ali bisa keluar dari Partai NasDem dan bergabung dengan Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) yang kabarnya akan diketuai oleh Anas Urbaningrum.
"Kayaknya kalau Mas Anies umumin mas AHY jdi cawapres si mat Ali kluar dari NasDem dan gabung PKN deh," tandasnya.
Adapun sebelumnya, Ahmad Ali merespons pernyataan Andi Arief yang menyebut Demokrat akan memikirkan opsi lain bila hingga Juni tidak ada kepastian deklarasi capres-cawapres. Ali menilai Partai Demokrat mencari opsi lain lantaran tidak mendapat kepastian ketumnya AHY akan jadi cawapres Anies Baswedan.
"Mau ambil opsi lain? Pasti di pikiran kamu opsi lain itu Demokrat mau menarik diri dari Koalisi Perubahan. Atau mungkin bisa jadi karena ketidakpastian AHY jadi wapres, atau dia ingin mengatakan bahwa kalau Anies tidak dengan AHY, kami akan keluar," kata Ali dikutip dari detik.
Ali mengatakan sejak awal partai di KPP sudah sepakat untuk membentuk kerja sama. Bahkan, berdasarkan piagam perjanjian, setiap partai menyerahkan keputusan cawapres kepada Anies Baswedan.
"Memberikan mandat kepada Anies untuk memilih cawapresnya. Nah, mandat itulah yang hari ini dan digunakan Anies untuk melakukan seleksi untuk mencari kira-kira (cawapres) yang pas," tutur Ali.
Ia mengatakan turunnya elektabilitas Partai Demokrat di Litbang Kompas juga dialami oleh NasDem. Ia menilai bisa saja penurunan itu lantaran ada partai yang ingin memaksakan kadernya menjadi pendamping Anies.
"Kalau kemudian mengenai ini kan survei Kompas terakhir kan, ada penurunan atau suara Demokrat agak menurun kan, termasuk NasDem, terus menjadi alasan itu, ya saya berpikir lain juga," tutur Ali.
"Jangan-jangan Anies ini tidak naik surveinya dan kemudian partai-partai yang berkoalisi turun surveinya karena ada partai yang sudah secara terbuka memasang-masangkan, terkesan memasangkan Anies dengan kader tertentu," sambungnya.