Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ade Armando menyoroti pengamat yang memberikan kritik ke PSI bahwa strategi marketingnya dianggap 'jorok' karena menggaungkan Kaesang Pangarep yang namanya lekat dengan PDI Perjuangan (PDIP). Bahkan, PSI disebut sebagai parpol yang lebih jadul daripada parpol lama.
Hal ini ditanggapi Ade Armando dalam akun Twitter pribadi miliknya. Dalam cuitannya, Ade Armando mengira bahwa semakin banyak yang panik terkait pencalonan Kaesang Pangarep oleh PSI sebagai wali kota Depok.
"Kayaknya makin banyak yang panik gegara Kaesang dicalonkan sebagai walikota Depok oleh PSI ," ujar Ade Armando dikutip Suara Liberte dari akun Twitter pribadi miliknya @adearmando61, Jumat (16/6).
Sementara itu, diketahui bahwa pengamat politik dari Citra Institute, Efriza, mengatakan bahwa Kaesang merupakan sosok independen alias belum bergabung dengan parpol mana pun. Akan tetapi, sosok anak Presiden Joko Widodo itu dinilai lekat dengan PDIP karena Jokowi merupakan kader partai banteng.
"Yang diusung memang non-parpol, maksudnya Kaesang, tapi kan figurnya Kaesang, figur anak-anaknya Jokowi, sudah pasti melekat ke PDIP," kata Efriza dikutip dari Kompas, Selasa (13/6/2023).
Latar belakang Kaesang itu jelas sudah diketahui sebagian besar publik Tanah Air. Namun, PSI justru tetap mendorong Kaesang maju sebagai calon wali kota Depok.
"Nah, kan artinya strategi marketing-nya PSI ini dalam tanda kutip jorok, lintas partai diambil saja sama mereka," tutur Efriza.
Ia juga turut menilai, strategi itu dilakukan karena PSI mengalami krisis kader.
"Itu sebuah situasi yang enggak bagus dilakukan oleh PSI, membuktikan dia (PSI) krisis kader, sampai-sampai akhirnya mendompleng kader lain atau calon kader lain," kata Efriza.
Di sisi lain, Efriza juga menilai PSI merupakan parpol yang pragmatis karena mendorong Kaesang yang bukan kadernya sebagai calon wali kota.
Efriza menilai PSI sebagai parpol yang lebih kuno daripada parpol lama. Sebab, menurut Efriza, parpol lama tidak sampai mendorong sosok yang bukan kadernya sebagai calon kepala daerah.
Menurut dia, hal ini jelas menjadi ironi karena sejak awal PSI memosisikan diri sebagai parpol anak muda.
"Tidak pas semestinya dilakukan oleh partai yang katanya mengusung partai yang baru, modern, tapi kok begini gayanya," tutur dia. "Lebih jadul daripada partai lama. Partai lama malah enggak berani mengusung orang lain," pungkasnya.