Eks Rektor Universitas Ibnu Chaldun, Prof Musni Umar menyoroti soal pemilihan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar jadi Cawapres pendamping Anies Baswedan di Pilpres 2024.
Menurut Musni, paling tidak ada dua faktor utama mengapa opsi yang sebelumnya mengerucut ke Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) malah justru berlabuh ke Cak Imin.
Musni menilai NasDem sebagai partai pertama yang mengusung Anies melihat faktor elektoral wilayah pemenangan di Jawa Timur.
“Pertama, faktor elektoral. Dalam pemilu 2019. Partai NasDem hanya meraih kursi di DPR RI dari 11 Daerah Pemilihan di Jawa Timur sebanyak 9 kursi, sementara Partai Demokrat 13 kursi dan PKS 4 kursi,” ungkap Musni dalam tulisan panjangnya yang dibagikan di akun TwitterX pribadinya, dikutip Kamis (7/9/23).
Menurutnya, formasi awal Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) yang awalnya berisikan NasDem-Demokrat-PKS tidak akan menguntungkan apabila dipaksakan AHY yang jadi Cawapres.
Menurut Musni, Jawa Timur dan Jawa Tengah selama ini jadi kunci pemenangan Pilpres.
“Kalau dipaksakan Cawapresnya AHY, maka peluang Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) meraih kemenangan di Jawa Timur dalam pemilihan presiden 2024 sangat berat. Pada hal Jawa Timur dan Jawa Tengah penentu kemenangan dalam pemilihan presiden RI,” jelasnya.
Faktor kedua, lanjut Musni, adalah mengenai sosok AHY sendiri yang menurutnya masih minim pengalaman.
Karenanya, menurut Musni, Surya Paloh memilih menunggu sampai dua kandidat lainnya mengumumakan Cawapres pilihan mereka, yang kini berujung pada cabutnya dukungan dari Partai Demokrat terkait waktu deklarasi, ketidaksepakatan, hingga pengumuman Cak Imin.
Baca Juga: Rocky Gerung ke Jokowi: Ada Partai-partai Nyelip di Antara Genggaman untuk Lepas
“Kedua, faktor jam terbang AHY untuk menjadi Cawapres. AHY adalah tokoh muda yang cerdas, ganteng dan putra presiden RI, tetapi dengan pengalaman politik yang masih minim, dugaan saya Surya Paloh dan NasDem tidak sreg sehingga perlu menunggu pengumuman cawapres Prabowo dan cawapres Ganjar,” ungkapnya.
“Oleh karena itu, Surya Paloh yang sudah berdarah-darah dengan pengorbanan yang luar biasa dalam mencapreskan Anies Baswedan tidak mau mengambil resiko kalah dalam pemilihan presiden 2024. Dia mencapreskan Anies Baswedan adalah untuk menang demi restorasi Indonesia yang menjadi jargon NasDem,” tambahnya.
Sebelumnya, Rapat Majelis Tinggi Partai Demokrat menghasilkan dua poin keputusan terkait sikap sepihak Partai Nasdem yang dikabarkan sepakat berkoalisi dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Keputusan pertama, mereka resmi mencabut dukungan terhadap bakal calon presiden (capres), Anies Rasyid Baswedan, kedua mereka tak lagi berada di Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP).
"Partai Demokrat mencabut dukungan kepada Anies Baswedan sebagai calon presiden dalam Pilpres 2024," ujar Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat Andi Mallarangeng di kediaman Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Puri Cikeas, Kabupaten Bogor, Jumat (1/9/2023) malam.