Kisah Para Pasoema, Pemburu Madu Hutan dari Pawanga

Esti Utami

Kamis, 25 Februari 2016 | 16:41 WIB
Kisah Para Pasoema, Pemburu Madu Hutan dari Pawanga
Ilustrasi madu hutan. (shutterstock)

Pagi masih muda. Rintik hujan tidak menyurutkan para pasoema (pencari madu) menelusuri hutan lindung di Desa Tawanga, Kecamatan Uluiwoi, Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara.

Desa Tawanga, yang bisa dicapai dalam waktu enam jam dari perjalanan darat, selama ini memang dikenal sebagai sentra produksi madu hutan yang masih asli. Sekitar 70 persen dari 1.087 jiwa warga desa ini menggantungkan hidup dari penghasilan mencari madu hutan.

"Kalau madu dari desa kami, tidak ada campurannya, karena kami menjaga kepercayaan pada pembeli, sehingga harus tetap menjaga kualitas," kata Bakri, salah seorang pasoema.

Ia mengaku, sudah berburu madu sejak 1980-an, dengan sistem pengelolaan madu peras. Namun sejak mendapat pembinaan dari pendamping proyek Agroforestry dan Forestry (Agfor) Sultra, kini ia beralih dengan sistem madu tiris.

Untuk mendapatkan madu hutan, dilakukan secara berkelompok yakni tiga hingga lima orang dengan fungsi yang berbeda seperti ada yang khusus bertugas memanjat pohon, meniriskan dan menyaring madu setelah sarang lebah diturunkan dari pohon, juga ada yang bertugas memikul madu ke lokasi koperasi MPU.

Karena itu, madu yang diperoleh rata-rata 35 kilogram hingga 40 kilogram per pohon, dibagi sesuai jumlah anggota kelompok. Namun sebelum memanen madu, terlebih dahulu dilakukan survei dengan berkeliling hutan menelisik satu per satu pepohonan yang memiliki sarang lebah.

"Apabila ditemukan ada sarang, maka pohon itu ditandai dengan menuliskan nama atau kode kelompok, sehingga ketika pasoema yang lain datang dan menemukannya, sudah tidak bisa diambil," ungkap Hirman, pasoema lainnya.

Apabila ada yang nekad mengambil sarang lebah yang sudah memiliki tanda, maka dicap melanggar Peraturan Desa (Perdes) yang sudah disepakati bersama dan pelakunya akan dikenakan denda sebesar Rp500 ribu per pohon/sarang.

Aturan ini diharapkan dapat meminimalkan terjadinya sengketa atau perebutan pohon yang memiliki sarang lebah dan berpotensi menghasilkan madu. Dengan sistem pengelolaan madu tiris itu, petani madu memperoleh harga rata-rata Rp50 ribu per kilogram, sedang dengan madu peras hanya dibeli Rp35 ribu per kilogram.

Namun jika sudah berpindah tangan, harga madu tersebut dapat mencapai dua hingga tiga kali lipat dari harga madu curah yang langsung diperoleh dari pasoema.

Ketua Koperasi Serba Usaha Mepokoaso Pasoema Uluiwoi (MPU) Kusman menambahkan, untuk memasarkan langsung produk madu hutan anggota kelompoknya, masih terkendala dari sektor transportasi dan distribusi.

"Sehingga pedagang pengumpullah yang kerap datang ke desa kami untuk membeli. Selain itu, untuk membantu pemasaran, pihak pendamping dari Agfor biasanya membantu memasarkan di Kota Kendari," katanya.

Dengan sistem penjualan dan pemasaran kolektif itu, lanjut dia, petani madu di Desa Tawanga yang terdiri atas 23 kelompok kecil ini, berharap pedagang pengumpul tidak mempermainkan harga.

Berburu madu di hutan memang sudah lama jadi sumber pendapatan warga. Seperti yang dilakukan Bakri yang kerap menjadi sopir alias pemanjat pohon yang memiliki sarang lebah ini, ia mengaku mendapatkan penghasilan yang lumayan mampu menopang ekonomi keluarga dan menyekolahkan anak.

Hirman, pasoema lainnya mengaku dari hasil perburuan madu hutan sebagai pemanjat pohon, dia memperoleh pendapatan sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta rupiah setiap masa panen. Sedang di luar masa panen, warga kembali berkebun tanaman komoditi yang harganya cukup mahal seperti lada, kakao dan durian.

Pendampingan Agfor Proyek Agfor Sulawesi sudah dimulai pada 2011 dengan dukungan dari Department Forign Affair, Trade and Development (DFATD) Kanada yang bertujuan untuk meningkatkan mata pencaharian yang lebih adil dan berkelanjutan bagi petani dan masyarakat kecil.

Pendampingan itu dilakukan melalui sistem agroforestri dan pengelolaan sumber daya alam di tiga provinsi yakni Sulawesi Tenggara, Gorontalo dan Sulawesi Selatan. Proyek Agfor berfokus pada tiga komponen yang saling berkaitan yakni mata pencaharian, tata kelola dan lingkungan.

Khusus di Sulawesi Tenggara, selain bekerjasama dengan pemerintah setempat, Agfor juga bekerjasama dengan LSM Teras dan Operasi Wallacea Terpadu (OWT), World Agroforestry Center (ICRAF) dan Center for International Forestry Research (CIFOR).

"Di sini ditekankan, bahwa tanpa menebang pohon juga mereka mampu memperoleh penghasilan yang memadai dari madu," kata Imran aktivis dari LSM Teras yang mendampingi warga setempat untuk tetap melestarikan hutan sebagai habitat dari lebah yang memproduksi madu. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Dirut Bulog Ahmad Rizal Ramdhani Raih Gelar Doktor dari Universitas Indonesia

Dirut Bulog Ahmad Rizal Ramdhani Raih Gelar Doktor dari Universitas Indonesia

Bisnis | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 17:27 WIB

Review Almarhum: Sinematografi Thriller Misteri Bernyawa Kearifan Lokal

Review Almarhum: Sinematografi Thriller Misteri Bernyawa Kearifan Lokal

Your Say | Minggu, 09 Agustus 2026 | 20:45 WIB

Karapan Marmot, Tradisi Unik Penyambut Musim Kemarau di Lumajang

Karapan Marmot, Tradisi Unik Penyambut Musim Kemarau di Lumajang

Foto | Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB

Peringati Hari Bumi, Keraton Yogyakarta Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Kearifan Lokal

Peringati Hari Bumi, Keraton Yogyakarta Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Kearifan Lokal

Lifestyle | Kamis, 23 April 2026 | 16:19 WIB

Meriahnya Adu Perahu Balumbo Biduk di Sungai Batang Asai

Meriahnya Adu Perahu Balumbo Biduk di Sungai Batang Asai

Foto | Rabu, 01 April 2026 | 08:00 WIB

Presiden Prabowo Penuhi Permintaan Warga Aceh, Salurkan Bantuan Daging Meugang Sambut Idulfitri

Presiden Prabowo Penuhi Permintaan Warga Aceh, Salurkan Bantuan Daging Meugang Sambut Idulfitri

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 04:30 WIB

Cerita Inspiratif - Desa Banyuanyar Smart Village yang Hidup dari Kearifan Lokal

Cerita Inspiratif - Desa Banyuanyar Smart Village yang Hidup dari Kearifan Lokal

Video | Senin, 12 Januari 2026 | 12:00 WIB

Megawati Dorong Politik Berbasis Kearifan Lokal: Peradaban Diukur dari Cara Menghormati Bumi

Megawati Dorong Politik Berbasis Kearifan Lokal: Peradaban Diukur dari Cara Menghormati Bumi

News | Sabtu, 10 Januari 2026 | 23:10 WIB

WSBP Dorong Pembangunan Berkelanjutan Lewat Inovasi Beton Precast Ramah Lingkungan

WSBP Dorong Pembangunan Berkelanjutan Lewat Inovasi Beton Precast Ramah Lingkungan

Bisnis | Senin, 29 Desember 2025 | 15:38 WIB

Di Antara Keriput dan Gelombang: Nelayan Tua yang Tak Berhenti Membaca Laut

Di Antara Keriput dan Gelombang: Nelayan Tua yang Tak Berhenti Membaca Laut

Your Say | Jum'at, 26 Desember 2025 | 06:11 WIB

Terkini

Asap Karhutla Mengepung Palembang, Dokter Melihat Keluhan Pernapasan Makin Berat

Asap Karhutla Mengepung Palembang, Dokter Melihat Keluhan Pernapasan Makin Berat

Sumsel | Minggu, 04 Oktober 2026 | 19:55 WIB

Feng Shui Arah Rumah Berdasarkan Tanggal Lahir, Begini Cara Menghitungnya

Feng Shui Arah Rumah Berdasarkan Tanggal Lahir, Begini Cara Menghitungnya

Lifestyle | Minggu, 04 Oktober 2026 | 19:51 WIB

Lagu 'Bahagia Lagi' Mengingatkan bahwa Gagal Tak Berarti Kehilangan Harapan

Lagu 'Bahagia Lagi' Mengingatkan bahwa Gagal Tak Berarti Kehilangan Harapan

Your Say | Minggu, 04 Oktober 2026 | 19:50 WIB

4 Bedak Tabur Waterproof yang Tidak Mudah Luntur Saat Hujan

4 Bedak Tabur Waterproof yang Tidak Mudah Luntur Saat Hujan

Lifestyle | Minggu, 04 Oktober 2026 | 19:30 WIB

Rocky Gerung Jadi Wantimpres, Masihkah Ia Seorang Pengkritik Kekuasaan?

Rocky Gerung Jadi Wantimpres, Masihkah Ia Seorang Pengkritik Kekuasaan?

Your Say | Minggu, 04 Oktober 2026 | 19:15 WIB

6 Urutan Zodiak dari yang Paling Dewasa sampai Paling Childish Saat Pacaran

6 Urutan Zodiak dari yang Paling Dewasa sampai Paling Childish Saat Pacaran

Lifestyle | Minggu, 04 Oktober 2026 | 19:13 WIB

WiFi Publik Apakah Aman? Ini Cara Mengaktifkan Privasi Agar Tak Dipantau

WiFi Publik Apakah Aman? Ini Cara Mengaktifkan Privasi Agar Tak Dipantau

Tekno | Minggu, 04 Oktober 2026 | 19:13 WIB

Selat Hormuz Masih Panas, Harga Minyak Dunia Diprediksi Tembus US$100

Selat Hormuz Masih Panas, Harga Minyak Dunia Diprediksi Tembus US$100

Bisnis | Minggu, 04 Oktober 2026 | 19:00 WIB

Mati Mudanya Sebuah Tren: Ketika "Micro-Trends" Mengikis Identitas Diri

Mati Mudanya Sebuah Tren: Ketika "Micro-Trends" Mengikis Identitas Diri

Your Say | Minggu, 04 Oktober 2026 | 19:00 WIB

Berapa Besaran BSU 2026? Cek Pakai NIK Lewat bsu.kemnaker.go.id

Berapa Besaran BSU 2026? Cek Pakai NIK Lewat bsu.kemnaker.go.id

Bisnis | Minggu, 04 Oktober 2026 | 18:56 WIB

×