Karena Utang, Lelaki Ini Pilih Kabur Ke Hutan

Vania Rossa | Risna Halidi
Karena Utang, Lelaki Ini Pilih Kabur Ke Hutan
Ilustrasi: Utang. (Shutterstock)

Lelaki ini meninggalkan kehidupan modernnya demi terbebas dari utang.

Suara.com - Chad Haag, lelaki berusia 29 tahun asal Amerika Serikat, kabur dari negaranya dan memilih tinggal di dalam hutan di India dengan alasan 'tak mau selalu merasa khawatir membayar tagihan utang pinjaman kemahasiswaan'.

Sama seperti banyak orang Amerika lainnya, Chad Haag kuliah dengan mengandalkan uang pinjaman kemahasiswaan, dan kini sudah lulus tapi masih kesulitan mendapat pekerjaan.

Dulu saat masih kuliah, Chad pernah bekerja di tempat pembuatan mainan. Tapi hanya dengan satu kelas yang diambil per semester, dia masih kesulitan mencari nafkah dan harus membayarkan pinjaman mahasiswaan sebesar 20.000 dollar AS atau setara Rp300 juta.

Pada satu titik, Chad yang selalu berjuang membayar angsuran bulanan sebesar 300 dollar AS (Rp4,5 juta) merasa tegang dan langsung memilih mengemasi barang-barangnya serta mengucapkan selamat tinggal pada hidupnya di Amerika Serikat. Ia kemudian pindah ke sebuah desa kecil di India.

Lelaki yang mengambil jurusan filosofi tersebut mengatakan kepada CNBC, sebelum pindah ke negara lain, ia sempat berpikir untuk tinggal dalam sebuah gua. Tapi setelah memikirkan matang-matang, dia mengatakan bahwa pindah ke negara jauh adalah pilihan yang lebih tepat.

Saat ini Chad tinggal di sebuah kampung di Uchakkada, India, dan menyewa rumah Rp761 ribu per bulan.

Ia juga telah menikah dengan perempuan India, seorang dosen di kampus lokal di sana.

Dan masalah dengan tagihan pinjaman kemahasiswaannya, ia mengaku sudah tidak khawatir lagi.

"Saya bisa katakan bahwa utang itu tidak membebani saya seperti dulu, dalam arti bahwa sebagian besar tindakan yang bisa mereka lakukan terhadap saya secara praktis sudah tidak relevan," katanya.

Meski mengaku bahwa tagihan pinjaman kemahasiswaan sudah tidak membebaninya lagi, Chad mengatakan bahwa ia masih kesulitan mencari pekerjaan yang dapat membuatnya mampu membayar utang tersebut setiap bulannya. Meski begitu, ia mengaku masih memiliki cukup uang untuk hidup di desa terpencil itu.

Kata Chad, ia melakukan tersebut bukan tanpa pengorbanan. Misalnya, beberapa toilet di desa tempat ia tinggal hanya memiliki lubang sederhana di tanah. Tapi secara keseluruhan, ia mengaku sangat senang dengan keputusannya untuk pindah ke sana.

"Saya melihat empat gajah kemarin. Saya memiliki standar hidup yang lebih tinggi di negara Dunia Ketiga daripada di Amerika, itu karena pinjaman mahasiswa saya," tambahnya.

Lantas, apakah tindakan Chad ini bisa dibenarkan? Para ahli mengatakan bahwa pindah ke negara asing untuk menghindari utang adalah tindakan yang berisiko.

Ketika si peminjam kembali ke negara asal, mereka akan menemukan bahwa utang mereka lebih besar daripada sebelumnya karena bunga, biaya penagihan, dan biaya keterlambatan. Jadi, tak perlu ditiru, ya.

Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS