Suara.com - Kue keranjang merupakan salah satu kuliner khas Imlek. Tidak hanya sebagai bagian dari tradisi, kue keranjang juga memiliki makna keakraban dalam keluarga.
Tak heran, suasana sibuk pun menyambut saat tim GuideKu.com berkunjung ke produsen kue keranjang Sulistyowati yang terletak di daerah Tukangan, Yogyakarta.
BACA JUGA: 5 Makanan Khas Imlek Ini Diyakini Membawa Keberuntungan, Apa Saja Ya?
Di sini, bertumpuk-tumpuk kue keranjang dalam berbagai ukuran tampak memenuhi ruangan. Pun dengan para pekerjanya yang sibuk menyelesaikan banyak pesanan.
Di sentra kue keranjang yang sudah berdiri 60 tahun lamanya ini, produksi kue keranjang memang baru dimulai pada 15 Januari dan baru akan selesai pada 3 Februari 2019 nanti, tepat 2 hari menjelang Imlek.

Walau begitu, kami dari GuideKu.com beruntung mendapat kesempatan untuk berbincang sejenak dengan Sulistyowati. Dari sana, kami mengetahui bahwa Ibu Sulistyowati adalah penerus generasi kedua dari usaha kue keranjang keluarganya.
BACA JUGA: Guideku.com Bikin Bakpia di Bakpia Wong Jogja, Seru Banget Genks
Tak cuma itu, kue keranjang di sini pun masih menggunakan resep yang turun-temurun dan tak pernah berubah dari dulu.
Resep kue keranjang sendiri rupanya cukup sederhana. Namun, cara membuatnyalah yang membutuhkan ketekunan.

Menurut Sulistyowati, kue keranjang dibuat dengan bahan beras ketan yang sudah digiling dan diuleni lebih dulu.
BACA JUGA: Dari Piring Arisan sampai Jadi Unggulan, Asa Bakpia 25 di Tengah Gempuran Zaman
Kemudian adonan kue keranjang pun akan dicampur juruh atau gula jawa cair. Adonan ini kemudian akan didiamkan selama 2 hari, sebelum akhirnya bisa dituangkan ke dalam cetakan.
Selanjutnya, adonan ini akan dikukus selama 8 jam lamanya. Total, ada 6 kukusan yang per wadahnya dapat menampung 40 kue keranjang.

Dari salah satu pekerja yang ada di sini, kami pun mengetahui bahwa mereka mampu menghasilkan sekitar 2,4 kuintal atau 240 kg kue keranjang per harinya.
Sementara, jumlah total pesanan menjelang Imlek bisa mencapai 2 ton banyaknya. Wow banget kan, travelers?
BACA JUGA: Terlihat Sepele, Tapi 5 Aktivitas Ini Dianggap Tabu Saat Imlek
Tak hanya jumlahnya yang banyak, kue keranjang legendaris ini juga masih dibuat dengan menggunakan bahan bakar minyak tanah alih-alih gas. Ketika ditanya, Ibu Sulistyowati menjelaskan bahwa hal tersebut dapat berpengaruh pada rasa.
''Kalau pakai gas, matengnya tidak menyeluruh. Bagian dalamnya bisa belum mateng. Makanya pakai minyak tanah.''

Setelah menjelaskan panjang lebar pada kami pun, Ibu Sulistyowati kembali sibuk dengan pekerjaannya. Mulai dari menyiapkan cetakan, mengawasi kukusan, hingga melayani para pembeli yang hendak mengambil pesanan.
Usut punya usut, produksi kue keranjang Ibu Sulistyowati ini memang sudah populer hingga luar Jogja. Beberapa pesanan datang dari luar kota, seperti Magelang hingga Purworejo.
BACA JUGA: Pekan Budaya Tionghoa 2019 Kembali Digelar, Catat Tanggalnya!
Maka tak heran, di hari-hari menjelang Imlek, tempat produksi kue keranjang ini menjadi begitu ramai dan sibuk. Guideku.com bahkan sempat berbincang sejenak dengan seorang pembeli yang sudah memesan 8 kg kue keranjang sebelumnya.
''Pertama tahu tempatnya dari temen. Ini udah 5 tahun langganan, beli untuk keluarga, tetangga sama teman-teman,'' kata Marisa, salah satu konsumen setia kue keranjang Ibu Sulistyowati. ''Udah biasa juga beli di sini, karena homemade dan rasanya jauh lebih enak.''

Kendati demikian, bukan berarti Sulistyowati terus memproduksi kue keranjang setiap tahun. Begitu Imlek berlalu, maka rumah produksinya pun akan berganti membuat bak cang dan kue mangkok.
Tertarik juga untuk mencoba mengintip proses pembuatan kue keranjang di tempat ini? Atau mungkin travelers malah mau coba-coba buat kue keranjang sendiri?
GuideKu.com/Amertiya Saraswati