Pembahasan mengenai ekonomi kreatif daerah pun dilaksanakan dalam skala nasional pada ICCC, yang dimulai pada 4 September 2019, di Hotel Dafam Bela Ternate. Konferensi Kabupaten/Kota Kreatif ini dihadiri oleh para bupati dan wali kota dari berbagai daerah seluruh Indonesia.
Turut hadir perwakilan dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, yaitu Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Rudy Salahuddin, dari Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) hadir Deputi Infrastruktur Hari Sungkari, serta hadir Anggota DPR sekaligus Ketua Umum Inovator 4.0, Budiman Sudjatmiko.
Hadir pula Gubernur Maluku Utara, Abdul Gani Kasuba dan Wali Kota Ternate, Burhan Abdurahman. Setiap sesi dalam konferensi yang diselenggarakan selama dua hari ini diisi oleh presentasi dari para kepala daerah, akademisi, profesional bidang ekonomi kreatif dan media, serta komunitas kreatif.
Pemaparan yang disampaikan mencakup capaian daerah masing-masing, hingga upaya membangkitkan potensi ekonomi kreatif yang dapat dikolaborasikan dengan Sinergi Penta Helix ABCGM (Academia-Business-Community-Government-Media).
“Ternate punya laut, gunung, komunitas, punya potensi luar biasa dan punya sejarahnya. Ternate mantap, keren. Teman-teman dari ICCF harus tahu bahwa Ternate punya apa-apa,” kata Ketua Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi), sekaligus Wali Kota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany, dalam sesi pertama.
Pada hari kedua konferensi, 5 September 2019, CEO GDP Venture, Martin Hartono membahas Kota Kreatif dan Tantangan Global. Martin sekaligus mempresentasikan sederet panjang prestasi para musikus muda Indonesia yang berhasil dibawanya tampil hingga pentas level dunia, seperti Rich Brian, NIKI, Stephanie Poetri, dan Devinta Trista Agustina.
Ia pun menayangkan video-video ketika keempat musikus muda Indonesia ini ketika tampil dalam Head in the Clouds Festival 2019 di Los Angeles, Amerika Serikat. Penampilan dimulai dengan NIKI yang membuka konser tersebut dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Ray,” bersama adanya anak-anak muda berpakaian warna Merah Putih yang berdiri di panggung sambil memegangi bendera Indonesia.
Penampilan mereka yang bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI yang ke-74 itu berhasil memikat generasi muda Amerika Serikat, yang antusias merekam penampilan NIKI menggunakan gawai masing-masing dan turut menyebarkannya ke seluruh dunia.
“Kami menargetkan 9.000 orang, yang datang 25.000 penonton, dengan harga tiket 150 dolar AS. Prinsipnya, kami merekrut siapa saja anak Indonesia yang berbakat musik dan berkemauan keras menjadi penyanyi tingkat dunia,” kata Matin.
Pada kesempatan itu, Gubernur Jawa, Barat Ridwan Kamil pun menyampaikan pada presentasinya di hari kedua, tentang pentingnya mengemas informasi secara relevan melalui media sosial yang sekarang lebih banyak diakses oleh masyarakat pada kehidupan sehari-hari.
Hari berikutnya, 6 September 2019, terjadi pencapaian tingkat dunia pada momentum Gugu Gia Si Kololi, yaitu 42.000 orang peserta yang “memeluk” Gunung Gamalama dengan bergandengan tangan selama 7 menit. Kegiatan puluhan ribu orang yang bergandengan tangan ini merupakan wujud tekad bersama untuk terus merajut persatuan dan kesatuan Indonesia.
“Ini merupakan acara sakral, yang pertama kali terjadi di dunia. Ini adalah kerja keras Jaringan Kota Ternate. Mereka adalah anak muda Ternate yang punya pikiran positif, inovatif, dan kreatif,” kata Wali Kota Ternate, yang turut hadir menjadi bagian dari kegiatan Gugu Gia Si Kololi.
“Kita ingin merajut Nusantara dari Ternate. Di tengah-tengah isu intoleransi, kami ingin Ternate mempunyai posisi sentral bahwa Ternate dari dulu sudah plural dan menerima segala perbedaan, keberagaman, saling percaya, dan sebagainya. Ini yang kemudian ditafsirkan dalam kegiatan Gugu Gia Si Kololi Ternate,” kata Zandry, Ketua Jarkot.
“Dalam catatan MURI, belum ada di belahan dunia mana pun masyarakat bergandengan tangan mengelilingi gunung, baru ada di Kota Ternate. Ini menunjukkan bahwa persatuan bisa dianyam dari Timur, yaitu Ternate,” kata Manajer Muri, Triyono, yang juga hadir.
Pada 7 September, hari terakhir ICCF 2019, diisi oleh KonferenSEA, atau Rapat Anggota ICCN. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang sangat krusial, sebab membahas masa depan forum lintas komunitas kabupaten/kota kreatif se-Indonesia yang telah berjejaring dalam ICCN, termasuk aktivitas organisasi ini di masa mendatang.
Kegiatan ini juga menjadi momentum pemilihan Ketua Umum ICCN periode 2019-2022. Fiki Satari terpilih kembali menjadi Ketua Umum ICCN periode 2019 - 2022. Keputusan ini disambut dengan sangat baik, dan para pengurus serta seluruh anggota jejaring pun antusias menyambut rangkaian aktivitas ICCN ke depan.
“Di periode kepengurusan yang lalu, ICCN terfokus pada peletakan fondasi organisasi, yang kemudian diperkuat pada periode selanjutnya, sekaligus mengaktivasi program-program yang bersifat peningkatan kapasitas forum lintas komunitas di jejaring ICCN,” ujar Fiki.
ICCF 2020 telah direncanakan untuk berlangsung di Bali, dan sebagai tuan rumah ICCF 2021 pun telah terpilih Provinsi Riau, tepatnya di Kota Pekanbaru dan Kabupaten Siak. Gubernur Riau, Syamsuar telah menyatakan kesiapan Riau untuk menjadi tuan rumah ICCF 2021 dan telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan ICCN.
ICCF 2019 di Ternate telah usai terlaksana dan sukses menjejakkan pengalaman rasa yang berharga dalam diri setiap orang yang terlibat dalam rangkaiannya. Sampai jumpa di Bali!