facebook

Ustaz Adi Hidayat Klaim Nama Asli Pattimura Ialah Ahmad Lussy, Belajar Lagi Yuk Sejarah Perjuangannya Lawan Penjajah

Bimo Aria Fundrika | Dini Afrianti Efendi
Ustaz Adi Hidayat Klaim Nama Asli Pattimura Ialah Ahmad Lussy, Belajar Lagi Yuk Sejarah Perjuangannya Lawan Penjajah
Kapitan Pattimura (IST)

Potongan video ceramah ustaz Adi Hidayat viral di Twitter, yang menyebutkan bahwa identitas sesungguhnya Kapitan Pattimura adalah seorang

Suara.com - Ustaz Adi Hidayat menjadi sorotan usai menyebut pahlawan Kapitan Pattimura beragama islam dan bernama asli Ahmad Lussy, bukan Thomas Matulessy.

Potongan video ceramah ustaz Adi Hidayat viral di Twitter, yang menyebutkan bahwa identitas sesungguhnya Kapitan Pattimura adalah seorang kyai dan pemimpin pondok pesantren, dan berjuang melawan penjajah di Indonesia.

"Di uang 1.000 itu ada gambar Kapitan Pattimura. Siapa nama aslinya? Thomas Matulessy. Lihat baik-baik, banyak orang berusaha menyebut Thomas Matulessy, kami berusaha mencari dan melihat pakar sejarah dikumpulkan, ternyata nama aslinya Pattimura itu bukan Thomas Matulessy, tapi Ahmad Lussy," ujar ustaz Adi Hidayat dalam potongan video tersebut dikutip suara.com, Selasa (5/7/2022).

Sementara itu mengutip situs resmi Direktorat Sekolah Menengah Pertama Kemendikbud Ristek (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi), Kapitan Pattimura adalah Pahlawan nasional Indonesia dari Maluku.

Baca Juga: Gus Miftah Tanya Sejak Kapan Rendang Punya Agama, Ustaz Adi Hidayat Beri Jawaban Soal Adat Minang

Kapitan Pattimura (IST)
Kapitan Pattimura (IST)

Pattimura lahir di Haria, Saparua, Maluku Tengah pada 8 Juni 1783 dari keluarga Matulessy. Ayahnya Pattimura adalah Frans Matulessy dan ibunya bernama Fransina Silahoi. Sebelum melakukan perlawanan terhadap VOC ia pernah berkarir dalam militer sebagai mantan sersan Militer Inggris.

Cara Pattimura Melawan Penjajah di Maluku

Nama Pattimura dikenal karena memimpin perlawanan rakyat Maluku melawan Belanda melalui perang Pattimura.

Pattimura sangat berperan besar melakukan perlawanan fase kedua pendudukan Inggris di Maluku pada 1810 hingga 1817. Tapi penjajahan tidak usai karena setelah Inggris, Belanda kembali menguasai wilayah Maluku.

Rakyat Maluku kemudian menolak tegas kedatangan Belanda dengan membuat Proklamasi Haria dan Keberatan Hatawano. Menariknya ternyata Proklamasi Haria ini disusun oleh Pattimura.

Baca Juga: 5 Pesawat Tidak Bisa Mendarat di Bandara Pattimura Ambon Karena Cuaca Buruk

Ketika pemerintah Belanda mulai melaksanakan kekuasaannya melalui Gubernur Van Middelkoop clan Residen Saparua Johannes Rudolf van der Berg, pecahlah perlawanan bersenjata rakyat Maluku.

Komentar