9. Amanat pembina upacara — biasanya berisi pesan kebangsaan, semangat perjuangan, dan harapan ke depan
10. Pembacaan doa untuk bangsa dan negara
11. Laporan akhir dari pemimpin upacara bahwa prosesi telah selesai
12. Penghormatan kembali kepada pembina upacara
13. Pembina meninggalkan mimbar upacara, menandai akhir acara formal
14. Pembubaran barisan oleh pemimpin upacara dan upacara resmi dinyatakan selesai.
Upacara Penurunan Bendera (Sore Hari)
Puncak upacara diakhiri dengan prosesi penurunan bendera yang biasanya dilaksanakan antara pukul 14.00–15.00 WIB . Berikut rangkaiannya:
1. Peserta sudah berada di lokasi upacara
2. Komandan upacara memasuki area
3. Pembina/inspektur upacara tiba
4. Penghormatan pasukan kepada pembina
5. Laporan komandan upacara kepada pembina
6. Undangan diminta berdiri
7. Penurunan Bendera Merah Putih disertai lagu Indonesia Raya
8. Beberapa pedoman menambahkan lagu Andhika Bhayangkari setelah itu
9. Undangan dipersilakan duduk kembali
10. Laporan ulang ke pembina dari komandan upacara
11. Penghormatan terakhir
12. Pembina meninggalkan lapangan
13. Prosesi dinyatakan selesai
Upacara di Istana Negara dan Kirab Bendera
Untuk skala nasional dan pelaksanaan central di Istana Negara, terdapat tambahan khas:
1. Kirab bendera dari Monumen Nasional (Monas) menuju Istana Merdeka, dilakukan sekitar pukul 08.00 WIB dengan iringan kereta kencana dan pasukan berkuda.
2. Presiden berperan sebagai Inspektur Upacara pada puncak acara ini, termasuk pengibaran bendera oleh Paskibraka, pembacaan teks proklamasi, penghormatan, hening cipta, dan doa.
Makna dan Pentingnya Tata Urut Upacara
Susunan acara bukan sekadar formalitas. Setiap tahap memiliki filosofi mendalam. Pengibaran bendera mencerminkan rasa bangga atas kemerdekaan yang diraih dengan pengorbanan. Mengheningkan cipta mengajak seluruh peserta mendoakan pahlawan yang gugur.
Pembacaan Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 menjadi pengingat akan landasan negara. Amanat pembina adalah pesan moral yang memperkuat rasa cinta tanah air. Penurunan bendera di sore hari menandai berakhirnya peringatan, sekaligus simbol kesiapan bangsa untuk terus melanjutkan perjuangan di hari-hari berikutnya.
Susunan upacara 17 Agustus 2025 secara umum mengikuti pola baku yang telah diterapkan setiap tahunnya: dibuka dengan perkara pengibaran di pagi hari, diikuti penurunan di sore hari, ditambah elemen khusus untuk instansi besar seperti Istana Negara. Setiap langkah memiliki makna simbolis yang kuat dan harus disusun secara rapi agar khidmat, sehat dan berwibawa.
Kontributor : Rishna Maulina Pratama