- Kasus dugaan pelecehan seksual menyeret pemilik brand Thanksinsomnia, Mohan Hazian.
- Dokter Tirta mengkritik lingkaran pertemanan Mohan sebagai "enabler".
- Korban pertama mengunggah dugaan pelecehan saat sesi photoshoot Mei 2025.
Suara.com - Kasus dugaan pelecehan seksual yang menyeret nama Mohan Hazian, pemilik brand fashion Thanksinsomnia, menjadi sorotan publik sejak awal Februari 2026. Terbaru, dokter Tirta mengecam kasus ini melalui akun X miliknya, @tirta_cipeng.
Dokter Tirta mengkritik keras Mohan dan lingkaran pertemanannya. Menurutnya, circle Mohan yang terdiri dari owner brand lokal dan influencer di skena fashion adalah enabler.
Dokter Tirta juga menilai mereka menggunakan kasus Gofar Hilman sebagai alasan untuk bersikap netral. Sebagai informasi, Gofar Hilman merupakan influencer yang pernah terseret isu pelecehan pada 2021.
"Intinya circle Mohan bawa-bawa kasus Gofar sebagai alasan mereka netral. Udah kujelasin, kena (kasus pelecehan) stay with victim (percaya pada korban) dulu. Ya tetap ngeyel," tulis Dokter Tirta dalam cuitannya seperti dikutip Suara.com, Selasa, 10 Februari 2026.
"Circle dia rata-rata ya owner brand lokal dan influencer skena fashion. Ini yang jadi masalah. Kesannya owner-owner brand lokal jadi enabler," lanjutnya.
Di sini, dokter Tirta menekankan bahwa dalam kasus kekerasan seksual, prioritas harus percaya pada korban, bukan langsung netral atau membela pelaku tanpa bukti.
Dokter Tirta juga geram karena klarifikasi Mohan dianggap "jelek" dan lambat, serta menuntut penjelasan jujur atas tuduhan yang tak hanya dari satu korban.
Apa itu Enabler yang Dimaksud Dokter Tirta?

Secara umum, enabler adalah istilah dalam psikologi dan dinamika sosial yang merujuk pada orang atau kelompok yang secara tidak langsung mendukung atau memungkinkan perilaku buruk pelaku untuk berlanjut.
Enabler tidak selalu secara aktif membantu pelaku, tetapi sikap mereka seperti diam, netral, atau membenarkan akan menciptakan lingkungan aman bagi pelaku tanpa konsekuensi.
Baca Juga: 3 Brand Ini Putus Kerja Sama dengan Mohan Hazian Akibat Kasus Dugaan Kekerasan Seksual
Dalam konteks kekerasan seksual, enabler bisa berupa teman, keluarga, atau rekan bisnis yang memilih "tunggu bukti" daripada mendukung korban, sehingga korban merasa terisolasi dan pelaku merasa dilindungi.
Istilah ini sering muncul dalam diskusi kekerasan, seperti dalam kasus kekerasan rumah tangga atau pelecehan di tempat kerja, di mana enabler memperburuk trauma korban dengan mempertanyakan kredibilitas mereka.
Dalam kasus Mohan Hazian, Dokter Tirta menyoroti circle Mohan sebagai enabler karena sikap netral mereka justru terkesan melindungi Mohan demi menjaga bisnis dan hubungan pertemanan.
Tirta menyebut, "Kesannya owner-owner brand lokal jadi enabler." Ini karena mereka lebih takut kehilangan Mohan sebagai mitra bisnis daripada mendukung korban.
Contohnya, meski beberapa brand seperti Shira Media menarik buku Mohan dan memutus kerjasama, banyak yang diam atau netral, yang menurut dokter Tirta mirip pola di kasus Gofar di mana pelaku bisa "lolos" berkat dukungan lingkaran.
Dampaknya serius. Korban merasa tidak didengar, sementara pelaku potensial merasa aman untuk ulangi perilaku. Kasus ini juga berimbas pada kehidupan pribadi Mohan, seperti istrinya Alya Putri yang menghapus foto pernikahan dari Instagram.