Suara.com - Indonesia berduka atas gugurnya Praka Farizal Rhomadhon, prajurit TNI yang tewas saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon Selatan.
Insiden ini terjadi di tengah konflik yang semakin memanas antara militer Israel dan kelompok bersenjata, membuat keselamatan pasukan perdamaian menjadi perhatian dunia.
Peristiwa ini menjadi sorotan publik karena Farizal merupakan bagian dari pasukan perdamaian dunia yang seharusnya terlindungi oleh hukum internasional.
Kisah pengabdian dan momen-momen penting dalam hidup Farizal dapat dilihat dalam 10 potret yang menunjukkan keberanian dan dedikasinya sebagai seorang prajurit muda berikut ini.
1. Gugur Saat Bertugas Menjaga Perdamaian Dunia

Praka Farizal Rhomadhon gugur saat menjalankan tugas sebagai penjaga perdamaian di Lebanon Selatan. Ia meninggal dunia setelah sebuah proyektil menghantam dan meledak di dekat pos penjagaan tempat ia bertugas pada 29 Maret 2026.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa misi perdamaian dunia sangat penuh dengan risiko. Meski membawa nama perdamaian, para prajurit tetap berada di wilayah berbahaya yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi medan konflik terbuka.
2. Tewas Akibat Serangan Artileri

Serangan yang menyebabkan gugurnya Farizal merupakan serangan artileri tidak langsung. Proyektil tersebut diduga berasal dari baku tembak antara Israel Defense Forces dan kelompok bersenjata di Lebanon Selatan.
Ledakan terjadi di sekitar posisi kontingen Indonesia, membuat situasi menjadi kacau. Farizal gugur di lokasi, sementara beberapa rekannya mengalami luka-luka akibat insiden tersebut.
3. Bertugas di Wilayah Konflik Lebanon Selatan

Saat kejadian, Farizal sedang bertugas di sekitar Desa Adchit Al Qusayr. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu titik rawan karena sering terjadi ketegangan dan kontak senjata antara pihak-pihak yang bertikai.
Kondisi keamanan yang tidak stabil membuat tugas penjaga perdamaian menjadi semakin berat. Mereka harus tetap siaga di tengah situasi yang bisa berubah kapan saja.
4. Prajurit Muda Asal Kulon Progo, Yogyakarta

Farizal lahir di Kulon Progo pada 3 Januari 1998. Ia gugur di usia 28 tahun, usia yang masih sangat muda bagi seorang prajurit yang sedang aktif menjalankan tugas negara.
Meski masih muda, ia telah menunjukkan dedikasi tinggi dalam karier militernya. Kepergiannya meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya.
5. Berdinas di Yonif 113/Jaya Sakti

Dalam kariernya, Farizal tergabung dalam Yonif 113/Jaya Sakti di bawah Brigif 25/Siwah, Kodam Iskandar Muda. Ia menjabat sebagai Taban Provost 1 Ru Provost Kima.
Posisi tersebut menunjukkan bahwa ia memiliki tanggung jawab penting dalam satuannya. Dedikasinya selama bertugas menjadi bagian dari perjalanan pengabdian yang patut dihargai.
6. Bagian dari Kontingen Garuda

Farizal juga merupakan bagian dari Satgas TNI Kontingen Garuda XXIII-S yang ditugaskan dalam misi perdamaian dunia di Lebanon. Kontingen ini dikenal sebagai representasi Indonesia dalam menjaga stabilitas internasional.
7. Meninggalkan Istri dan Anak

Di balik seragam militernya, Farizal adalah seorang suami dan ayah yang baik. Ia meninggalkan seorang istri bernama Fafa Nur Azila serta seorang anak perempuan yang masih berusia dua tahun bernama Shanaya Almahyra Elshanum.
8. Pernikahan yang Masih Baru

Farizal diketahui baru menikah pada 4 Juli 2023. Pernikahan yang masih terbilang baru itu kini harus berakhir dengan duka mendalam.
9. Tiga Prajurit Lainnya Terluka

Dalam insiden yang sama, tiga prajurit TNI lainnya juga menjadi korban. Salah satunya mengalami luka berat, sementara dua lainnya mengalami luka ringan.
Para korban luka langsung mendapatkan penanganan medis, bahkan ada yang harus dievakuasi ke rumah sakit di Beirut. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya dampak serangan tersebut.
10. Pemerintah Indonesia dan PBB Mengecam Serangan

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyampaikan duka cita atas gugurnya Praka Farizal Rhomadhon dan dua prajurit TNI lainnya, sekaligus mengecam keras serangan yang menimpa pasukan penjaga perdamaian. Indonesia juga mendesak investigasi transparan dan menekankan perlindungan bagi seluruh personel di misi UNIFIL.
Sementara itu, Sekjen PBB Antonio Guterres menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan perdamaian adalah pelanggaran hukum internasional dan tidak bisa ditoleransi.
Kontributor : Dini Sukmaningtyas