- Film Pesta Babi merupakan karya dokumenter investigasi sutradara Dandhy Laksono.
- Dokumenter ini memotret kerusakan alam akibat megaproyek industri di Papua.
- Publik diimbau mendaftar nobar resmi dan menghindari tautan ilegal.
Suara.com - Film dokumenter bertajuk Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita mendadak jadi buah bibir.
Bukan karena tayang di bioskop komersial, melainkan karena gelombang pembubaran acara nonton bareng film Pesta Babi oleh aparat di sejumlah daerah yang memicu kemarahan publik.
Film dokumenter investigasi ini memotret realitas pahit di balik megaproyek pemerintah yang tengah digenjot di tanah Papua.
Penasaran apa sebenarnya isi film ini dan mengapa begitu ditakuti? Simak fakta-faktanya berikut ini!
1. Digarap Sutradara Kondang Dandhy Laksono
Film ini merupakan buah karya sutradara spesialis dokumenter investigatif, Dandhy Laksono, berkolaborasi dengan Cypri Paju Dale.

Diproduksi oleh Ekspedisi Indonesia Baru, Watchdoc, dan Jubi Media, film ini membawa standar jurnalisme tinggi dalam mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di pelosok Papua Selatan.
2. Memotret Kerusakan Alam di Tiga Wilayah
Film Pesta Babi merekam secara gamblang deforestasi atau penggundulan hutan besar-besaran di wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi.
Hutan yang semula menjadi sumber kehidupan masyarakat adat, kini berubah menjadi hamparan lahan proyek industri.
3. Suara Masyarakat Adat yang Terpinggirkan
Fokus utama dokumenter ini adalah perjuangan suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu dalam mempertahankan tanah leluhur mereka.
Mereka harus berhadapan dengan ekspansi perkebunan industri dan Proyek Strategis Nasional (PSN) seperti program bioetanol, biodiesel, hingga food estate.
Warga lokal memberikan testimoni mengejutkan soal perampasan tanah tanpa persetujuan yang memadai, pencemaran sungai, hingga hilangnya sumber pangan tradisional mereka.
4. Makna Tersembunyi di Balik Judul 'Pesta Babi'
Nama "Pesta Babi" diambil dari metafora tradisi kultural masyarakat Papua yang sarat akan nilai sosial.
Namun dalam film ini, simbol budaya tersebut digunakan untuk menggambarkan bagaimana kekayaan alam Papua "dipesta-porakan" dan dirampas demi kepentingan segelintir elite dan korporasi.
5. Menyoroti Keterlibatan Aparat Militer
Tak hanya soal lingkungan, film ini juga merekam sisi sensitif yakni keterlibatan aparat militer dalam mengamankan jalannya proyek-proyek komersial tersebut.
Kehadiran kekuatan keamanan di tengah konflik agraria ini menjadi salah satu poin yang memicu perdebatan panas soal kebebasan dan hak asasi di Papua.
6. Sistem Nonton yang Unik (Anti-Mainstream)
Demi menghindari pembajakan dan memastikan pesan sampai lewat diskusi, pihak produser tidak merilis film ini di platform streaming umum seperti YouTube.
Masyarakat yang ingin menonton wajib menyelenggarakan Nobar secara mandiri dengan syarat:
- Mendaftar secara daring melalui tautan resmi: bit.ly/musimnobar_pestababi.
- Minimal peserta adalah 10 orang.
- Penyelenggara wajib mengisi data penanggung jawab dan lokasi acara.
- Wajib mengunggah publikasi acara ke media sosial sebagai bentuk gerakan kesadaran.
7. Peringatan: Jangan Klik Link Ilegal!
Pihak produser mewanti-wanti publik agar tidak tergiur dengan tautan ilegal yang mengklaim menyediakan film Pesta Babi secara gratis di internet.
Selain merugikan pembuat karya, link bodong tersebut sangat berisiko mengandung malware yang bisa merusak perangkat atau mencuri data pribadi Anda.