- Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, menuai kritik luas akibat lirik lagu ciptaannya yang dinilai merendahkan martabat perempuan.
- Anggota DPR RI Atalia Praratya meminta lagu tersebut ditarik karena dianggap memperkuat stigma negatif terhadap kaum perempuan.
- Om Zein telah menyampaikan permintaan maaf dan mengklarifikasi bahwa lagu itu merupakan refleksi pribadi dari masa lalunya.
Lirik ini dipahami sebagai gambaran perempuan yang panik ketika mengalami keterlambatan menstruasi karena khawatir hamil. Lagi-lagi, penggambaran tersebut dinilai memperkuat stereotip negatif terhadap perempuan.
Pada bagian lain, lagu juga menyinggung kebiasaan berdandan.
"Teu kudu ngalukis halis jeung bulu mata, sakalina ngiceup hese beunta."
Tidak perlu melukis alis dan bulu mata, sekali berkedip susah membuka mata.
Bagian ini menyindir penggunaan riasan wajah, terutama alis dan bulu mata palsu, yang dianggap berlebihan.
Lagu kemudian ditutup dengan kalimat:
"Lalaki langit, lalanang bejad."
Kalimat penutup ini ditafsirkan sebagai pengakuan bahwa meski bersyukur menjadi laki-laki, sang tokoh dalam lagu juga mengakui dirinya pernah menjadi laki-laki yang "bejat" atau nakal.
Atalia Praratya Minta Lagu Ditarik
Kontroversi lagu ini mendapat respons dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Anggota Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya yang mengkritik keras lagu tersebut karena tidak menemukan sisi positif dari segi manapun.
Atalia meminta Om Zein menarik lagu tersebut dari ruang publik karena dinilai berpotensi memperkuat stigma negatif terhadap perempuan dan melukai banyak pihak. Menurutnya, karya seni tetap perlu mempertimbangkan dampak sosial, terlebih ketika penciptanya merupakan seorang kepala daerah.
Selain kritik dari Atalia, sejumlah pegiat perempuan dan organisasi masyarakat sipil juga menyuarakan keberatan terhadap isi lagu tersebut karena dianggap bertentangan dengan semangat kesetaraan gender.
Om Zein Sampaikan Permintaan Maaf
Menanggapi polemik yang berkembang, Om Zein menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat.
"Saya mohon maaf jika ada pihak yang merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu. Namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu. Itu murni cerita tentang diri saya sendiri," ujarnya dalam keterangan resminya, Kamis (2/7/2026).
Ia juga menjelaskan bahwa lagu tersebut bukan dibuat saat dirinya menjabat sebagai Bupati Purwakarta.
"Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri. Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal," kata Om Zein.
Menurut Om Zein, lagu tersebut merupakan bentuk refleksi pribadi atas masa lalunya dan tidak dimaksudkan untuk menggeneralisasi atau merendahkan perempuan. Meski demikian, kontroversi terus bergulir karena banyak pihak menilai makna yang diterima publik berbeda dengan niat awal sang pencipta.