Dari Hutan Ranjuri, Anto Mengubah Daun Gugur Menjadi Warna untuk Sigi yang Lestari

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 03 Juli 2026 | 11:42 WIB
Dari Hutan Ranjuri, Anto Mengubah Daun Gugur Menjadi Warna untuk Sigi yang Lestari
Afrianto pendiri Batik Valiri. (Dok. LTKL dan Gampiri Interaksi)
baca 10 detik
  • Berawal dari daun-daun gugur di Hutan Ranjuri, Anto mengembangkan Batik Valiri dengan pewarna alami yang mengangkat kekayaan alam, budaya, dan sejarah Kabupaten Sigi.
  • Masyarakat adat Desa Beka menjaga Hutan Ranjuri melalui aturan adat, membuktikan bahwa hutan yang dilestarikan dapat menjadi benteng ekologis sekaligus sumber penghidupan.

  • Didukung program inkubasi Gampiri Interaksi, Batik Valiri menjadi contoh ekonomi restoratif yang sejalan dengan visi Kabupaten Lestari: menjaga hutan sambil meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Suara.com - Afrianto membungkuk, memungut satu per satu daun yang telah gugur di lantai Hutan Ranjuri, Desa Beka, Kabupaten Sigi.

Ia tak membawa kapak atau gergaji. Baginya, hutan bukan tempat mengambil kayu, melainkan ruang menemukan warna.

Di tangan Anto, begitu ia akrab disapa, daun-daun itu berubah menjadi pewarna alami yang kemudian menghiasi lembaran Batik Valiri.

"Selama ini batik identik dengan motif Jawa. Padahal di Sigi, kita punya kekayaan alam, budaya, dan sejarah yang sangat kuat. Dari Hutan Ranjuri saja, saya melihat ada banyak hal yang bisa diangkat, termasuk pewarna alami dari tanaman yang tumbuh di sana," ujar Anto.

Afrianto pendiri Batik Valiri. (Dok. LTKL dan Gampiri Interaksi)
Afrianto pendiri Batik Valiri. (Dok. LTKL dan Gampiri Interaksi)

Hutan Ranjuri yang berada di samping tempat produksinya bukan sekadar sumber inspirasi. Bagi masyarakat adat Desa Beka, kawasan seluas sekitar sembilan hektare itu adalah ruang sakral sekaligus sumber kehidupan yang dijaga secara turun-temurun.

Di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pembangunan lestari tidak selalu lahir dari proyek besar. Di hutan kecil inilah alam, adat, budaya, dan ekonomi bertemu dalam satu ekosistem yang saling menghidupi.

Saat banjir bandang melanda Sigi, Hutan Ranjuri menjadi benteng alami yang membantu meredam dampaknya. Ketika kemarau datang, mata air dari kawasan itu memenuhi kebutuhan air bersih warga.

Meski berstatus hutan produktif, pemanfaatannya diatur melalui hukum adat. Tak ada pohon yang ditebang untuk kepentingan Batik Valiri. Masyarakat hanya memanfaatkan daun-daun yang telah gugur melalui kesepakatan bersama para tetua adat.

Cara sederhana itu menjadi fondasi sebuah gagasan: hutan yang dijaga justru mampu menghidupi masyarakat.

baca juga

Mengangkat Identitas Sigi

Proses batik cap. (Dok. LTKL dan Gampiri Interaksi)
Proses batik cap. (Dok. LTKL dan Gampiri Interaksi)

Sebelum mendirikan Batik Valiri pada 2019, Anto bekerja bertahun-tahun sebagai perajin batik di Kota Palu. Pengalaman itu membuatnya bertanya, mengapa kekayaan alam dan budaya Sigi belum banyak hadir dalam motif batik.

Ia pun memilih pulang dan menjadikan Sigi sebagai cerita utama di setiap lembar kain.

Motif-motif Batik Valiri terinspirasi dari identitas lokal, mulai dari Pohon Rau di Hutan Ranjuri, daun kelor, senjata tradisional guma, jejak megalitik, hingga taiganja yang memiliki makna penting dalam tradisi Kaili.

Tak hanya motifnya, proses produksinya pun mulai beralih menggunakan pewarna alami dari tumbuhan sekitar. Peralihan itu membutuhkan proses yang jauh lebih panjang.

Sekitar sepuluh kilogram daun kering hanya cukup mewarnai lima lembar kain. Daun direbus selama empat jam, lalu kain dicelup berulang hingga sekitar dua puluh kali agar warna meresap sempurna.

"Kalau pewarna sintetis cukup satu kali celup, warna langsung keluar. Tapi pewarna alami butuh kesabaran. Itu yang membuat nilainya berbeda," kata Anto.

Bagi Anto, kesabaran itu adalah bagian dari penghormatan terhadap alam yang menjadi sumber kehidupan usahanya.

Hutan yang Dijaga, Ekonomi yang Tumbuh

Praktik Batik Valiri tumbuh dari cara masyarakat adat Desa Beka memperlakukan hutannya.

Pemanfaatan hasil hutan dilakukan tanpa merusak ekosistem. Seluruh proses dikelola melalui musyawarah adat sehingga fungsi hutan sebagai penyimpan air, pelindung dari bencana, sekaligus ruang budaya tetap terjaga.

Di saat yang sama, hutan juga menciptakan nilai ekonomi baru melalui batik yang lahir dari identitas lokal. Model seperti inilah yang dikenal sebagai ekonomi restoratif: membangun kesejahteraan masyarakat sekaligus memulihkan dan menjaga alam.

Menguatkan Usaha Berbasis Kelestarian

Transformasi Batik Valiri semakin kuat melalui program inkubasi Gampiri Interaksi.

Selama delapan bulan, Batik Valiri mendapat pendampingan untuk memperkuat tata kelola usaha, menyusun standar operasional, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, hingga membuka akses pasar dan permodalan.

"Batik Valiri sudah kuat secara sosial dan budaya, tapi aspek lingkungannya perlu diperkuat. Lewat workshop dan kolaborasi, kami mendorong transisi ke pewarna alami tanpa merusak ekosistem," ujar Nedya Sinintha Maulaning, perwakilan Gampiri Interaksi.

Melalui pelatihan tersebut, para perajin belajar teknik ekstraksi warna, penggunaan bahan pengunci alami, serta pentingnya membudidayakan tanaman pewarna.

Komitmen itu juga diwujudkan melalui penanaman kembali pohon mangga, ketapang, dan jati di kawasan Ranjuri. Pada 2023, sekitar 50 pohon diadopsi sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sumber bahan baku.

Fondasi Kabupaten Lestari

Hutan Ranjuri, Sigi.  (Dok. LTKL dan Gampiri Interaksi)
Hutan Ranjuri, Sigi. (Dok. LTKL dan Gampiri Interaksi)

Sekitar 70 persen wilayah Kabupaten Sigi merupakan kawasan hutan. Di tengah kondisi itu, Batik Valiri memperlihatkan bahwa perlindungan hutan tidak harus berjalan berlawanan dengan pertumbuhan ekonomi.

Melalui usaha berbasis komunitas, Batik Valiri menciptakan nilai tambah dari kekayaan lokal tanpa mengurangi fungsi ekologis hutan. Praktik ini sejalan dengan visi Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) yang mendorong pembangunan berbasis kekuatan lokal, perlindungan ekosistem, dan kesejahteraan masyarakat.

Bagi Gampiri Interaksi maupun LTKL, Batik Valiri menjadi contoh nyata bahwa ekonomi restoratif dapat tumbuh dari tingkat komunitas.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Vino G Bastian, Sigi Wimala, dan Rudi Soedjarwo Bicara Arti Kasih Sayang di Film Tanah Runtuh

Vino G Bastian, Sigi Wimala, dan Rudi Soedjarwo Bicara Arti Kasih Sayang di Film Tanah Runtuh

Video | Rabu, 24 Juni 2026 | 22:10 WIB

Dampak Gempa M 6,7 di Wilayah Sigi

Dampak Gempa M 6,7 di Wilayah Sigi

Foto | Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00 WIB

Update Gempa Sigi: 787 Rumah Rusak, 1 Tewas dan 55 Warga Luka

Update Gempa Sigi: 787 Rumah Rusak, 1 Tewas dan 55 Warga Luka

News | Rabu, 17 Juni 2026 | 08:46 WIB

Terkini

3 Sepatu Lari Wanita ANTA Terlaris di Shopee, Simak Penilaian dari Pembeli

3 Sepatu Lari Wanita ANTA Terlaris di Shopee, Simak Penilaian dari Pembeli

Lifestyle | Jum'at, 03 Juli 2026 | 14:16 WIB

Apakah Pakai Sunscreen Harus 2 Ruas Jari? Ini 3 Rekomendasi Tabir Surya SPF 50 Terbaik

Apakah Pakai Sunscreen Harus 2 Ruas Jari? Ini 3 Rekomendasi Tabir Surya SPF 50 Terbaik

Lifestyle | Jum'at, 03 Juli 2026 | 14:11 WIB

Penjual Shopee Bakal Kena Potongan Pajak 0,5% Per Agustus 2026, Ini Cara Biar Tetap Bebas Pajak!

Penjual Shopee Bakal Kena Potongan Pajak 0,5% Per Agustus 2026, Ini Cara Biar Tetap Bebas Pajak!

Lifestyle | Jum'at, 03 Juli 2026 | 14:06 WIB

Sepeda Lipat Ukuran 20 Inch untuk Usia Berapa? Ini 4 Pilihan Terbaik Sesuai Tinggi Badan

Sepeda Lipat Ukuran 20 Inch untuk Usia Berapa? Ini 4 Pilihan Terbaik Sesuai Tinggi Badan

Lifestyle | Jum'at, 03 Juli 2026 | 13:37 WIB

Mengapa Fashion Berkelanjutan Masih Sulit Diakses Sebagian Konsumen?

Mengapa Fashion Berkelanjutan Masih Sulit Diakses Sebagian Konsumen?

Lifestyle | Jum'at, 03 Juli 2026 | 13:30 WIB

Jejak Karier dan Harta Kekayaan Syah Afandin Bupati Langkat yang Kena OTT KPK

Jejak Karier dan Harta Kekayaan Syah Afandin Bupati Langkat yang Kena OTT KPK

Lifestyle | Jum'at, 03 Juli 2026 | 13:28 WIB

3 Kacamata Anti UV Stylish dengan Review Bintang Lima, Harga Murah Frame Bisa Dilipat

3 Kacamata Anti UV Stylish dengan Review Bintang Lima, Harga Murah Frame Bisa Dilipat

Lifestyle | Jum'at, 03 Juli 2026 | 13:12 WIB

5 Parfum di Alfamart yang Tahan Lama Menurut Review Pembeli, Mulai Rp30 Ribuan

5 Parfum di Alfamart yang Tahan Lama Menurut Review Pembeli, Mulai Rp30 Ribuan

Lifestyle | Jum'at, 03 Juli 2026 | 13:05 WIB

4 Sepatu Lari SPECS Terlaris di Shopee, Ini Plus dan Minusnya Menurut Pembeli

4 Sepatu Lari SPECS Terlaris di Shopee, Ini Plus dan Minusnya Menurut Pembeli

Lifestyle | Jum'at, 03 Juli 2026 | 12:54 WIB

Reboisasi Tak Selalu Menambah Pasokan Air, Mengapa Iklim Jadi Faktor Penentu?

Reboisasi Tak Selalu Menambah Pasokan Air, Mengapa Iklim Jadi Faktor Penentu?

Lifestyle | Jum'at, 03 Juli 2026 | 12:50 WIB

×