- Garuda Kencana Batik meluncurkan kampanye Heroes Interpreted untuk menghadirkan busana batik tulis bergaya modern.
- Pemilik Garuda Kencana Batik, Yos Christian Addyputra, menyatakan batik dapat disesuaikan dengan gaya hidup masa kini.
- Tujuan kampanye ini adalah membuktikan bahwa batik tulis tidak kaku serta relevan untuk semua generasi.
Suara.com - Setiap 2 Oktober, Indonesia memperingati Hari Batik Nasional. Momen ini menjadi pengingat bahwa batik bukan sekadar motif pada kain, melainkan bagian dari perjalanan budaya yang terus berkembang mengikuti zaman.
Namun, di tengah perkembangan industri fashion yang semakin dinamis, batik masih kerap ditempatkan dalam ruang yang terbatas. Kemeja kantor, kebaya, beskap, atau busana untuk acara formal masih menjadi gambaran yang paling umum ketika berbicara tentang batik.
Padahal, batik memiliki kemungkinan yang jauh lebih luas. Hal inilah yang menjadi perhatian Yos Christian Addyputra, Owner Garuda Kencana Batik.
Menurutnya, batik tulis seharusnya tidak hanya dipandang sebagai busana tradisional, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi fashion item yang lebih modern dan relevan untuk berbagai generasi.
“Sebenarnya sudah lama kami ingin memberikan gambaran bahwa batik tulis itu tidak harus melulu cuttingan tradisional, tidak harus jadi bawahan kebaya, beskap, atau kemeja kantor,” ujar Yos saat ditemui di salah satu gerai Garuda Kencana Batik, belum lama ini.
Pandangan tersebut kemudian diterjemahkan Garuda Kencana Batik melalui campaign bertajuk Heroes Interpreted. Campaign ini mencoba melihat kembali sosok pahlawan nasional dan ikon sejarah Indonesia melalui pendekatan fashion yang lebih modern.
Alih-alih menghadirkan figur-figur tersebut dalam tampilan yang sepenuhnya konservatif, Garuda Kencana Batik menginterpretasikannya kembali melalui busana batik tulis dengan potongan yang lebih kekinian.
Bagi Yos, pendekatan tersebut menjadi cara untuk mempertemukan dua hal yang selama ini seolah berada di ruang berbeda: sejarah dan perkembangan fashion.
“Ketika kami reimagined national heroes dengan cuttingan batik tulis yang modern, menurut kami itu menjadi bridge antara masa lalu dan masa sekarang. Ketika bisa dilakukan dengan baik, secara langsung mengabarkan bahwa batik itu tidak lekang oleh waktu,” katanya.
Melalui campaign tersebut, batik tidak hanya ditampilkan sebagai simbol masa lalu, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup masa kini. Bahkan sosok-sosok sejarah yang selama ini lekat dengan citra formal dapat diterjemahkan dalam tampilan yang lebih fashionable.
“Overall message-nya, kami ingin menunjukkan bahwa batik tulis itu tidak sekaku itu dan bisa dikenakan oleh semua generasi. Bahkan ketika dipakai ikon-ikon historical yang memiliki very conservative image, masih bisa terlihat bagus dan fashionable,” tegasnya
Menurut Yos, perkembangan batik memang tidak bisa dilepaskan dari perubahan cara masyarakat memandang busana. Salah satu persoalan yang masih ditemui adalah anggapan mengenai bagaimana batik seharusnya dikenakan.
“Masalah cutting dan cara pakai batik ini kan masih jadi perdebatan di tengah masyarakat. Di sinilah kami hadir untuk menunjukkan bahwa batik dapat dikreasikan bergaya modern, namun tetap menghormati nilai-nilai budaya dan pakem yang selama ini sudah tertanam di dalamnya,” ujar Yos.
Perubahan tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Yos mencontohkan tren batik tulis dengan potongan slim fit yang mulai berkembang sekitar 2010.
Kala itu, penggunaan material yang tidak stretch membuat potongan ketat belum menjadi sesuatu yang umum. Seiring perkembangan material dan teknologi, eksplorasi terhadap bentuk busana pun semakin terbuka.
Hal serupa terjadi dalam fashion Barat. Jas yang dahulu identik dengan aturan berpakaian formal kini dapat dipadukan dengan berbagai gaya kasual. Menurut Yos, batik juga memiliki peluang untuk mengalami evolusi serupa.
Garuda Kencana Batik pun mencoba menerjemahkan gagasan tersebut melalui berbagai produk, mulai dari jaket, jas hingga outer batik dengan cutting yang lebih chic dan modern. Respons konsumen terhadap penggunaan batik yang lebih casual dan fashionable pun dinilai semakin terbuka.
Meski demikian, pekerjaan rumahnya masih panjang. Batik perlu terus diperkenalkan sebagai bagian dari industri fashion, bukan hanya pakaian yang digunakan pada momen-momen tertentu.
Yos bahkan membayangkan batik suatu hari dapat memiliki ruang kolaborasi dengan brand fashion global.
“Kalau ini bisa diterima, batik bisa berkembang menjadi ikon fashion dan berkolaborasi dengan luxury brand yang sekarang brand-brand Eropa menjadi salah satu pemegang ikon fashion,” tuturnya.
Upaya tersebut, menurut Yos, justru dapat dimulai dari kebiasaan masyarakat Indonesia sendiri. Batik tidak harus menunggu Hari Batik Nasional, acara resmi, atau hari Jumat untuk dikenakan.
“Kita sebagai warga negara Indonesia yang berkewajiban menyuarakan batik ke mancanegara, bisa dimulai dengan tidak hanya memakai batik di hari Jumat,” ungkapnya.
Sebab, semakin batik hadir dalam keseharian, semakin terbuka pula peluang orang lain melihatnya sebagai fashion yang relevan.
“Kalau mereka liburan summer bisa memakai shirt bermotif floral, kenapa tidak dengan batik?,” ujar Yos.
Pertanyaan itu menjadi gambaran sederhana tentang arah perkembangan batik hari ini: mempertahankan identitasnya, tetapi tidak berhenti pada bentuk yang sama.
Di tengah perubahan selera dan industri fashion, batik justru memiliki kesempatan untuk terus ditafsirkan ulang, dari warisan budaya menjadi bagian dari gaya hidup modern tanpa kehilangan akar sejarahnya.