- Survei Deloitte 2025 menunjukkan Generasi Z dan Milenial mengutamakan kepedulian lingkungan perusahaan dalam memilih karier serta produk.
- Direktur Garudafood Fransiskus Johny Soegiarto memaparkan peningkatan EBT dan penurunan emisi dalam kuliah umum di Universitas Brawijaya Malang.
- Garudafood mengintegrasikan pemanfaatan teknologi digital, pengelolaan limbah, serta empat pilar keberlanjutan untuk memperkuat operasional perusahaan.
Suara.com - Kepedulian terhadap lingkungan mulai menjadi salah satu pertimbangan Generasi Z dan Milenial dalam menentukan pilihan karier maupun konsumsi. Kondisi ini terlihat dalam Survei Gen Z dan Milenial 2025 yang dilakukan Deloitte terhadap lebih dari 23.400 responden di berbagai kawasan dunia.
Dalam survei tersebut, sekitar tujuh dari 10 responden mengatakan kepedulian perusahaan terhadap lingkungan menjadi faktor penting ketika memilih tempat kerja. Sementara itu, hampir dua pertiga responden menyatakan bersedia membayar lebih untuk produk yang dianggap ramah lingkungan.
Deloitte memperkirakan Gen Z dan Milenial akan mencakup 74 persen tenaga kerja global pada 2030. Artinya, perhatian kedua generasi terhadap isu lingkungan tidak hanya berkaitan dengan gaya hidup, tetapi juga mulai beririsan dengan cara mereka memandang perusahaan dan pekerjaan.
Survei itu juga menemukan sekitar 90 persen responden dari kedua generasi menilai keberadaan tujuan atau purpose dalam pekerjaan penting bagi kepuasan dan kesejahteraan mereka.

“Para responden ini berupaya menyeimbangkan tiga hal dalam karier mereka: uang, makna, dan kesejahteraan,” ujar Deloitte, seperti dikutip dari ESG Today.
Transisi Energi dan Pengelolaan Limbah
Perubahan preferensi konsumen dan pekerja tersebut membuat isu keberlanjutan semakin berkaitan dengan aktivitas operasional perusahaan. Salah satunya terlihat dari langkah PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk dalam penggunaan energi dan pengelolaan limbah.
Direktur Garudafood Fransiskus Johny Soegiarto memaparkan, bauran energi baru terbarukan (EBT) perusahaan meningkat dari 4,55 persen menjadi 10,24 persen sepanjang 2025. Peningkatan tersebut mencapai 117 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Penggunaan EBT tersebut antara lain berasal dari biomassa dan panel surya dengan kapasitas terpasang mencapai 3,4 megawatt (MW).
Pada periode yang sama, intensitas emisi gas rumah kaca perusahaan turun 9,21 persen. Penurunan tersebut terutama berasal dari konversi steam boiler dari gas menjadi biomassa serta peremajaan kompresor udara.
Persoalan limbah juga menjadi bagian dari upaya tersebut. Garudafood mencatat 99 persen limbah organik sisa produksi dimanfaatkan kembali, terutama sebagai pakan ternak.
Sementara di sisi hulu, perusahaan menyebut telah bermitra dengan lebih dari 460 petani kacang dan 4.400 peternak sapi perah. Tingkat kecelakaan kerja juga disebut turun 44 persen.
Fransiskus menyampaikan sejumlah data tersebut dalam kuliah umum di Universitas Brawijaya (UB), Malang, yang diikuti lebih dari 350 mahasiswa. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Sahabat Inspirasiku yang menggandeng Trans7 Mengajar dengan tema “Creativity and Leadership”.
Dalam kesempatan itu, Fransiskus yang merupakan alumnus Teknik Mesin UB juga membahas perubahan industri dan kebutuhan perusahaan untuk beradaptasi melalui teknologi.
“Dari usaha keluarga di Pati, kami tumbuh menjadi salah satu pemimpin fast-moving consumer goods (FMCG) di Indonesia karena kami terus beradaptasi. Beberapa tahun terakhir, kami membangun sistem terintegrasi dan memanfaatkan data, otomasi, serta kecerdasan buatan (AI) agar keputusan dapat diambil lebih cepat dan operasional lebih tangguh,” ujar Fransiskus.
Menurut dia, pemanfaatan teknologi tidak hanya berkaitan dengan produktivitas, tetapi juga ketangguhan operasional dan keberlanjutan bisnis.
Selama satu dekade terakhir, perusahaan itu mengembangkan transformasi digital manufaktur, efisiensi rantai pasok, dan operational excellence. Sistem yang digunakan mencakup Enterprise Resource Planning (ERP), smart manufacturing, platform penjualan digital, advanced analytics, hingga otomatisasi dan AI.
Fransiskus juga mengajak mahasiswa melihat teknologi sebagai sarana untuk menjawab persoalan nyata.
“Generasi muda sekarang lahir di era digital, dan itu menjadi keunggulan besar. Tantangannya adalah menjadikan kemampuan itu sebagai solusi nyata, bukan sekadar pengetahuan. Mulailah dari masalah di sekitar, lalu belajar menyelesaikannya dengan data dan kolaborasi,” katanya.
Di sisi keberlanjutan, Garudafood menyebut pendekatannya bertumpu pada empat pilar, yakni Lingkungan, Manusia, Komunitas, dan Tata Kelola.
Meski demikian, capaian bauran EBT sebesar 10,24 persen menunjukkan proses transisi energi perusahaan masih berlangsung. Sebagian besar konsumsi energi Garudafood pada 2025 masih berasal dari sumber energi non-EBT.
Bagi perusahaan, perubahan tersebut berlangsung bersamaan dengan perubahan ekspektasi generasi yang akan semakin mendominasi dunia kerja.
Bagi Gen Z dan Milenial, keberlanjutan bukan hanya persoalan citra perusahaan, tetapi mulai masuk dalam pertimbangan mengenai tempat bekerja dan produk yang mereka pilih.