- Buttonscarves memperluas pasar internasional ke Turkiye melalui platform digital sejak awal tahun 2026.
- Brand tersebut berpartisipasi dalam Trendyol Influencer Fest dan menggelar acara eksklusif Sofra in Istanbul.
- Kegiatan tersebut bertujuan membangun hubungan dengan komunitas kreatif serta memperkenalkan Istanbul Series secara langsung.
Suara.com - Perjalanan brand fashion Indonesia ke pasar internasional kembali memperlihatkan perkembangan menarik. Salah satunya datang dari Buttonscarves yang kini memperkuat kehadirannya di Türkiye.
Langkah tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperluas pasar, tetapi juga membangun hubungan dengan komunitas fashion dan kreatif di negara tersebut.
Berdiri sejak 2016 dan berada di bawah Modinity Group, Buttonscarves pada awalnya dikenal melalui produk scarf.
Seiring perkembangan, brand tersebut memperluas lini produknya ke pakaian siap pakai, tas, alas kaki, hingga aksesori. Identitasnya dibangun melalui motif khas, monogram, detail pengerjaan, serta cerita yang menyertai setiap koleksi.
Turkiye menjadi salah satu bagian dari perjalanan internasional tersebut. Kehadiran digital Buttonscarves di negara itu telah dimulai sejak awal 2026.
Selain melalui platform perdagangan elektronik Trendyol, konsumen lokal juga dapat mengenal koleksinya melalui situs resmi Buttonscarves Turkiye.
Namun, pendekatan Buttonscarves tidak berhenti pada ruang digital. Pada 25 September 2026, brand tersebut menjadi satu-satunya brand fashion yang berpartisipasi dalam Trendyol Influencer Fest 2026.
Acara tersebut mempertemukan sekitar 2.000 influencer dan pelaku komunitas kreatif Türkiye. Keterlibatan itu menjadi kesempatan bagi Buttonscarves untuk memperkenalkan bahasa visualnya sekaligus berinteraksi langsung dengan kreator lokal.
Dari sini, hubungan dengan komunitas fashion Türkiye mulai dibangun melalui percakapan dan pengalaman secara langsung. Salah satu koleksi yang mendapat tempat khusus dalam rangkaian perjalanan tersebut adalah Istanbul Series.
Koleksi ini mengambil inspirasi dari kota Istanbul, termasuk ornamen floral Ottoman, karakter arsitektur, dan tekstur lembut yang kemudian diterjemahkan ke dalam desain kontemporer.
Inspirasi tersebut menarik karena Istanbul sendiri dikenal sebagai kota yang mempertemukan berbagai pengaruh budaya. Karakter itu kemudian menjadi titik temu antara identitas Buttonscarves dan lingkungan kreatif Turkiye.
Rangkaian kegiatan berlanjut melalui Sofra in Istanbul pada 27 September 2026. Pertemuan eksklusif yang berlangsung di Çraan Palace Kempinski Istanbul tersebut menghadirkan influencer fashion dan gaya hidup, pemilik brand, serta sejumlah figur kreatif Turkiye.
Dalam suasana yang lebih intim, para tamu dapat melihat Istanbul Series secara langsung sekaligus berdiskusi dengan tim Buttonscarves mengenai cerita dan perspektif kreatif di balik koleksi tersebut.
Acara ini menjadi lebih dari sekadar agenda pengenalan produk karena membuka ruang pertemuan antara komunitas fashion Indonesia dan Turkiye.
Creative Director Buttonscarves, Mifthahul Jannah, mengatakan memasuki suatu negara baru membutuhkan pemahaman terhadap karakter masyarakat dan komunitas setempat.
“Memasuki market baru bukan hanya tentang memperkenalkan sebuah brand, tetapi juga tentang memahami masyarakat, budaya, dan komunitas kreatif di dalamnya,” ujar Mifthahul.
Menurutnya, Buttonscarves ingin memperkenalkan identitasnya melalui perspektif fashion dan bahasa visual, sekaligus membangun hubungan yang relevan dengan masyarakat Turkiye.
Sementara itu, CEO Modinity Group Linda Anggrea melihat hubungan dengan Turkiye bukan sesuatu yang baru. Buttonscarves sebelumnya telah hadir dalam Istanbul Modest Fashion Week sekitar tiga tahun lalu.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses memahami karakter pasar sekaligus membangun relasi dengan komunitas lokal.
“Turkiye bukan sekadar market baru bagi kami. Istanbul adalah kota yang mempertemukan berbagai dunia, Timur dan Barat, warisan budaya dan modernitas, budaya dan perdagangan,” kata Linda.
Ia melihat adanya sejumlah kesamaan antara masyarakat Indonesia dan Turkiye, mulai dari kecintaan terhadap keluarga, keramahan, keyakinan, hingga ketertarikan terhadap fashion.
Karena itu, perjalanan Buttonscarves di Turkiye diarahkan bukan hanya untuk membawa produk Indonesia ke luar negeri.
Ada upaya untuk membangun pertukaran kreatif dua arah, termasuk membuka kemungkinan agar talenta dan kreativitas Turkiye dapat dikenal lebih luas di Asia Tenggara.
Dengan kombinasi kehadiran digital, koleksi yang mengambil inspirasi dari Istanbul, serta pertemuan langsung dengan komunitas lokal, langkah Buttonscarves di Türkiye menunjukkan bagaimana ekspansi fashion dapat dibangun melalui hubungan budaya dan kreativitas, bukan sekadar memperluas penjualan.