- Akademisi dan praktisi mode Ichwan Thoha meluncurkan buku berjudul Navigasi Mode Pria di Jakarta.
- Buku tersebut membahas sejarah, istilah, serta fungsi pakaian pria menggunakan pendekatan berbentuk kamus alfabetis.
- Pemahaman mendalam mengenai sejarah busana membantu kaum pria membangun identitas serta karakter personal secara kritis.
Suara.com - Fashion pria kerap dipandang lebih sederhana dibandingkan fashion perempuan. Pilihan busana pria seolah hanya berkisar pada kemeja, celana, jas, sepatu, atau aksesori.
Padahal, di balik setiap elemen tersebut terdapat sejarah, istilah, fungsi, hingga cerita yang membentuk cara berpakaian pria dari masa ke masa. Pandangan tersebut menjadi salah satu hal yang coba dibaca lebih jauh oleh akademisi sekaligus praktisi mode Ichwan Thoha.
Setelah tiga dekade berkarya di dunia mode dan pendidikan mode, ia melihat fashion pria sebagai bidang yang memiliki banyak lapisan untuk dipelajari, bukan sekadar persoalan seseorang terlihat rapi atau mengikuti tren.
Menurut Ichwan, pemahaman terhadap fashion seharusnya tidak berhenti pada bagaimana sebuah pakaian dikenakan. Setiap item memiliki perjalanan dan konteks yang membuatnya memiliki karakter tersendiri.
Pemikiran itu kemudian ia dokumentasikan melalui buku ketiganya, Navigasi Mode Pria: Kamus, Istilah, dan Referensi, yang diluncurkan di Kinokuniya Grand Indonesia, Jakarta. Buku tersebut disusun dengan pendekatan kamus sehingga berbagai istilah dan item fashion pria dapat ditelusuri berdasarkan abjad.
Namun, yang menarik dari pendekatan Ichwan bukan semata bentuk kamusnya. Setiap item dibahas dengan melihat sejarah, argumentasi, hingga cerita yang berada di baliknya. Ia juga melengkapinya dengan sketsa yang menjadi ciri khasnya.
Bagi Ichwan, cara tersebut penting karena pakaian tidak lahir begitu saja. Sebuah jas, misalnya, bukan hanya potongan kain yang dikenakan untuk acara formal. Ada perkembangan bentuk, fungsi sosial, perubahan zaman, serta cara masyarakat memaknainya.
Karena itu, memahami fashion pria juga berarti memahami bagaimana seorang pria membangun identitas melalui apa yang dikenakannya.
Pilihan busana dapat menjadi bentuk komunikasi tanpa kata, baik untuk menunjukkan karakter, profesi, selera maupun cara seseorang menempatkan dirinya dalam lingkungan sosial.
Ichwan juga menilai pengetahuan mengenai fashion penting bagi mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan. Menurut dia, pemahaman tentang istilah dan sejarah mode dapat membantu seseorang melihat pakaian secara lebih kritis, bukan hanya sebagai produk yang mengikuti pergantian tren.
Perjalanan tiga dekadenya di dunia mode turut membuat Ichwan memandang pengetahuan sebagai bagian penting dari perkembangan industri. Ia menyebut aktivitas menulis dan menerbitkan buku sebagai salah satu cita-citanya sejak kecil.
“Menulis dan menerbitkan buku adalah salah satu mimpi dan cita-cita Ichwan Thoha sejak kecil. Buku adalah ungkapan rasa syukur atas bakat, minat, keberuntungan, dan kesempatan yang luar biasa Ichwan kepada Allah SWT,” ujar Ichwan.
Menurutnya, pengetahuan yang dituangkan dalam buku juga menjadi bentuk warisan yang ingin ia tinggalkan bagi dunia mode dan pendidikan.
“Buku menjadi legacy atau warisan Ichwan bagi industri mode pada umumnya dan pendidikan mode pada khususnya,” katanya.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa fashion pria sebenarnya memiliki ruang yang luas untuk terus dipelajari. Di tengah perubahan tren yang berlangsung cepat, memahami sejarah dan karakter setiap elemen busana justru dapat membantu pria menentukan gaya personalnya dengan lebih sadar.
Dengan begitu, berpakaian tidak hanya menjadi aktivitas untuk mengikuti mode yang sedang populer. Ada proses mengenali diri, memahami konteks, sekaligus menghargai perjalanan panjang di balik pakaian yang dikenakan.
Fashion pria pun akhirnya bukan sekadar soal apa yang terlihat, melainkan juga tentang pengetahuan dan cerita yang menyertainya.