- Tenunin mendirikan Sumba Weaving Museum di Sumba Timur untuk melestarikan tradisi tenun dan memberdayakan komunitas penenun lokal.
- Museum yang diresmikan pada Rabu (7/10/2026) tersebut menyimpan lebih dari 200 koleksi kain serta menyajikan demonstrasi pembuatan tenun langsung.
- Inisiatif ini didukung program eMpowering Youths Across ASEAN guna memperluas akses edukasi dan pengembangan produk turunan bagi generasi muda.
Suara.com - Tradisi tenun di Sumba Timur menyimpan kekayaan teknik, motif, dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi. Namun, keberlangsungan tradisi ini tidak cukup dijaga dengan mempertahankan keterampilan menenun.
Komunitas penenun juga membutuhkan akses promosi, pasar, dokumentasi, serta ruang untuk memperkenalkan karya kepada generasi muda dan masyarakat luas.
Kondisi tersebut mendorong Tenunin mengembangkan Sumba Weaving Museum di Kampung Raja Pau, Sumba Timur. Museum ini dirancang bukan sekadar tempat menyimpan koleksi kain, melainkan ruang untuk menghubungkan tradisi tenun dengan pendidikan, pengembangan produk, dan pemberdayaan komunitas.
Communication Manager Tenunin, Risanti, mengatakan komunitas penenun memiliki pengetahuan yang kaya mengenai teknik pembuatan kain, motif, hingga cerita dan fungsi kain dalam kehidupan masyarakat.

Namun, pengetahuan tersebut perlu didokumentasikan dan diperkenalkan agar tetap relevan bagi generasi berikutnya.
“Kami melihat pentingnya menghadirkan ruang yang mempertemukan penenun dengan masyarakat demi menjaga keberlanjutan tenun. Ruang itu juga membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal dan memahami nilai di balik setiap kain,” ujar Risanti dalam keterangannya, Rabu (7/10/2026).
Saat ini, Sumba Weaving Museum menyimpan lebih dari 200 koleksi kain dan menghadirkan demonstrasi menenun. Pengunjung dapat mengenal tenun ikat dan pahikung sekaligus melihat langsung proses pembuatannya serta berinteraksi dengan para penenun.
Selain memperkenalkan tradisi, Tenunin juga mengadakan pelatihan pengembangan produk turunan bagi penenun muda.
Inisiatif ini bertujuan memperluas pemanfaatan kain tenun agar tidak terbatas pada penggunaan tradisional, sekaligus membuka peluang pengembangan produk yang sesuai dengan kebutuhan masa kini.
“Tradisi perlu tetap memiliki ruang untuk berkembang agar tidak berhenti sebagai sesuatu yang hanya dikenang. Karena itu, kami berupaya mempertemukan pengetahuan yang dimiliki para penenun dengan kebutuhan masa kini, termasuk melalui pengembangan produk turunan dan ruang interaksi di museum,” kata Risanti.
Pengembangan museum ini merupakan bagian dari program eMpowering Youths Across ASEAN (eYAA), kolaborasi ASEAN Foundation dan Maybank Foundation. Melalui program tersebut, Tenunin bekerja bersama relawan muda dari berbagai negara ASEAN untuk mengembangkan museum sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan lintas negara.
Para relawan berkesempatan mempelajari tradisi tenun, kehidupan masyarakat setempat, dan tantangan dalam menjaga warisan budaya. Meski demikian, komunitas Kampung Raja Pau tetap menjadi pusat inisiatif ini karena pengetahuan dan praktik menenun berasal dari masyarakat yang terus merawatnya.
Melalui museum, Tenunin berupaya memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan tenun, mendukung pengembangan keterampilan penenun, dan membuka peluang agar tradisi tersebut terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.