- Founder Voice Institute Indonesia menyatakan sulih suara kini resmi menjadi bagian dari subsektor ekonomi kreatif nasional.
- Menteri Ekonomi Kreatif menyampaikan 27,4 juta orang bekerja di industri kreatif yang didominasi generasi muda dan perempuan.
- Program Wonder Voice of Indonesia memulai rangkaian roadshow di Telkom University Bandung pada 15 Oktober 2026.
Suara.com - Sulih suara atau voiceover kini mulai mendapat tempat yang lebih luas dalam industri kreatif Indonesia. Perannya tidak lagi terbatas pada mengisi suara untuk film atau tayangan televisi, tetapi juga berkembang ke berbagai bidang seperti periklanan, konten digital, hingga gim.
Founder Voice Institute Indonesia, Bimo Kusumo, mengatakan sulih suara kini telah memiliki posisi yang jelas dalam peta ekonomi kreatif nasional. Bahkan, profesi tersebut masuk dalam salah satu subsektor ekonomi kreatif yang memiliki peluang untuk terus berkembang.
“Sulih suara kini dipandang sebagai profesi sekaligus bagian dari ekosistem ekonomi kreatif Indonesia. Sulih suara telah menjadi salah satu dari 21 subsektor ekonomi kreatif dalam Rencana Induk Ekonomi Kreatif untuk 20 tahun ke depan,” ujar Bimo.
Besarnya potensi industri kreatif juga tercermin dari jumlah tenaga kerja yang terlibat di dalamnya. Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Teuku Riefky Harsya, menyebut ada 27,4 juta orang yang bekerja di industri kreatif.
Sebanyak 63 persen di antaranya merupakan generasi Z dan milenial, sementara 58 persen adalah perempuan. “Artinya, sektor ini berkelanjutan dan inklusif,” kata Teuku Riefky.
Menurutnya, perkembangan subsektor seperti voiceover juga membuka peluang bagi generasi muda untuk mulai memiliki penghasilan sejak masih menempuh pendidikan.
“Sambil kuliah pun sudah bisa punya penghasilan. Ini juga bagian agar generasi muda kita semakin mandiri, sekaligus mengurangi pengangguran di negara kita,” ujarnya.
Peluang tersebut kemudian coba diperkenalkan lebih dekat kepada generasi muda melalui Wonder Voice of Indonesia (WVI) 2026.
Untuk pertama kalinya, program tersebut memulai rangkaian Road to Wonder Voice of Indonesia dari lingkungan kampus, yakni Telkom University, Bandung, pada Kamis (15/10/2026).
Masuknya WVI ke kampus bukan sekadar upaya mencari talenta baru. Lebih jauh, langkah tersebut mempertemukan dunia pendidikan dengan industri yang selama ini membutuhkan kemampuan komunikasi dan kreativitas.
Dekan Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial Telkom University, Dr. Iis Kurnia Nurhayati, S.S., M.Hum., menilai keterampilan voiceover dan voice acting relevan bagi mahasiswa komunikasi.
Kemampuan tersebut menuntut seseorang memahami pesan, membangun karakter, mengolah emosi, sekaligus menciptakan kedekatan dengan audiens.
“Teknologi akan terus berkembang, tetapi kepekaan, interpretasi, dan ekspresi manusia tetap memiliki nilai penting dalam komunikasi. Kami berharap kegiatan ini menjadi awal dari kolaborasi yang berkelanjutan,” tuturnya.
Membangun Komunitas dan Ekosistem
Bagi Bimo, perkembangan industri sulih suara tidak cukup hanya dengan melahirkan talenta-talenta baru. Dibutuhkan ekosistem yang mempertemukan pemerintah, kampus, praktisi, komunitas, brand, hingga pelaku industri.
“Ini menunjukkan bahwa membangun industri tidak bisa dilakukan sendiri. Pemerintah, kampus, industri, asosiasi, komunitas, dan brand perlu bergerak bersama untuk menciptakan talenta, membuka peluang, dan membangun ekosistem yang berkelanjutan,” katanya.
Upaya membangun ekosistem tersebut sebenarnya telah berjalan sejak WVI pertama kali digelar pada 2022. Hingga 2025, program ini telah menjangkau lebih dari 2 juta audiens daring dan menghasilkan lebih dari 20 ribu karya suara orisinal.
WVI juga berkembang menjadi ruang yang mempertemukan para pengisi suara. Komunitas Voice People kini telah hadir di delapan kota besar, sementara penyelenggaraan WVI 2025 turut menginisiasi Asosiasi Pengisi Suara Indonesia (Aspesnesia).
Dengan perkembangan tersebut, industri sulih suara perlahan tidak lagi berdiri sebagai profesi yang bekerja di balik layar semata. Ada komunitas, ruang belajar, jejaring profesional, hingga peluang kolaborasi yang ikut tumbuh di dalamnya.
Rangkaian Road to WVI 2026 di Telkom University pun menjadi salah satu cara untuk membawa ekosistem tersebut lebih dekat kepada calon talenta baru, sekaligus menunjukkan bahwa industri kreatif dapat mulai dibangun sejak bangku kuliah.