- Peningkatan anggaran belanja perusahaan untuk kegiatan outing dan perjalanan insentif mendongkrak ekosistem pariwisata nasional pada Juli 2026.
- Panorama Media menyelenggarakan pameran IOITE 2026 di Jakarta pada 8-11 Oktober 2026 guna menghubungkan korporasi dan penyedia jasa.
- Kementerian Pariwisata mencatat program MICE periode Januari-Juli 2026 menghasilkan perputaran dana mencapai Rp1,09 triliun dan melibatkan ribuan UMKM.
Suara.com - Peningkatan alokasi belanja perusahaan untuk kegiatan corporate outing, gathering, hingga incentive travel kini menjadi peluang bisnis baru bagi ekosistem pariwisata dan industri kreatif.
Tren kegiatan kelompok korporasi ini menggerakkan rantai bisnis lintas sektor, mulai dari penyedia akomodasi, transportasi, makanan dan minuman, venue, logistik, hingga jasa team building.
Potensi pasar korporasi tersebut ditopang oleh pertumbuhan mobilitas perjalanan domestik dan kinerja sektor penunjang pariwisata sepanjang 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) menembus 107,44 juta perjalanan pada Juli 2026, naik 7,23 persen secara tahunan.
Pada saat bersamaan, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel bintang naik 1,75 poin menjadi 54,54 persen.
Sektor penyediaan akomodasi serta makan dan minum pun melaju 11,83 persen pada semester I 2026, seiring pertumbuhan ekonomi nasional triwulan II 2026 sebesar 5,29 persen.
Peluang serapan anggaran kegiatan perusahaan tersebut menjadi fokus utama penyelenggaraan Indonesia Outing & Incentive Travel Expo (IOITE) 2026 yang diinisiasi oleh Panorama Media di Jakarta, pada 8–11 Oktober 2026.
Pameran ini menghubungkan manajemen perusahaan, divisi HR, dan bagian pengadaan dengan para penyedia jasa perjalanan korporasi.
Director Panorama Media Andita Tirtawisata mengatakan IOITE dibuat untuk mempertemukan perusahaan yang memiliki kebutuhan dan anggaran dengan pelaku industri yang menyediakan berbagai layanan kegiatan korporat.
“Kami melihat ada jarak antara perusahaan yang punya kebutuhan dan anggaran, dengan pelaku industri yang punya solusinya. Dua-duanya sering tidak bertemu di waktu yang tepat. IOITE kami bangun untuk menjembatani itu. Dalam satu kunjungan, seorang HR manager bisa merencanakan outing, gathering, sampai incentive trip untuk setahun ke depan,” ujar Andita.
Pergeseran kebutuhan korporasi juga berdampak pada model bisnis penyedia aktivitas luar ruang.
Ketua Umum DPP Asosiasi Experiential Learning Indonesia (AELI) Sofiyan Hadi menyampaikan bahwa belanja kegiatan perusahaan kini memprioritaskan pengembangan kapasitas sumber daya manusia.
“Perusahaan sekarang tidak lagi mencari outing yang sekadar seru. Mereka ingin kegiatan yang benar-benar membangun kerja sama tim dan kepemimpinan. IOITE memberi ruang bagi HR untuk melihat langsung pilihan program yang dirancang dengan tujuan jelas,” ujarnya.
Keterlibatan mata rantai bisnis dalam pengeluaran korporasi ini juga diakui oleh asosiasi industri pertunjukan dan penyelenggara acara.
Sekretaris Jenderal DPP Industri Event Indonesia (IVENDO) Evan Saepul Rohman menjelaskan besarnya perputaran pasar dari agenda korporat tersebut.